Tuesday, December 1, 2009

Rumah Penuh Musik Rumah yang Tenang

SM Minggu, 9 November 2003

Syekh Fattaah


SIANG hari, sekitar pukul setengah dua, rumah berpagar biru di Jalan Amurang 97-98, Kelurahan Gandul, Kecamatan Limo, Kota Depok, itu sepi. Seolah tanpa penghuni. Namun seperti tiba-tiba, di balkon lantai dua, muncul beberapa wajah bocah. Sangat berwarna. Ada yang hitam namun berwajah Indo, ada yang putih namun berambut keriting negro. Ada pula yang berkulit sawo matang dan bermata sipit. Sangat berwarna.
Tak lama, karena memang sudah kontak lewat telepon, muncul lelaki hitam tinggi besar. Setelah mengucapkan salam dengan suara halus, dia buka pintu pagar. ''Silakan, silakan masuk,'' katanya. ''Kawan-kawan Debu sedang istirahat. Jadi sepi....''
Rumah berlantai dua dan lumayan besar itu memang markas Debu. Tapi lebih tepat lagi kalau disebut sebagai tempat tinggal keluarga besar Syekh Fattaah (61), lelaki yang menemukan jalan Islam pada usia 35 tahun dan kini menulis serta menggubah syair untuk Debu. Di sana, tinggal enam keluarga (sekitar 50 jiwa). Semuanya warga negara Amerika Serikat, kecuali tiga orang warga negara Inggris, Swedia, dan Malaysia.
Sebelum hijrah ke Indonesia, sebagian besar dari mereka tinggal di sebuah kota kecil di New Mexico, Amerika Serikat. Di sana mereka juga tinggal bersama dan membentuk sebuah komunitas. Di bawah bimbingan Syekh Fattaah, mereka mempelajari tasawuf yang bersumber dari tarekat Syadziliyah, Ruf'iyah, dan Cistiyah. Zikir menjadi napas hidup keseharian mereka. Menyanyi, bagi mereka, juga merupakan zikir dan ibadah.
Tahun 1997, sebagian dari mereka pindah ke Republik Dominica. Namun mereka menemukan lingkungan yang sama: masyarakat liberal dan sekular. Padahal, sesungguhnya, mereka membutuhkan lingkungan yang ramah dan merindukan suasana islami. Hingga pada suatu malam, tahun 1999, Syekh Fattaah bermimpi dan mendapat ilham tentang negeri tujuan hijrah mereka. Mimpi apa dia?
''Beliau lupa apa isi mimpinya. Yang jelas, beliau bangun dan menyebut Indonesia. Itu yang beliau ceritakan pada saya,'' kata Najib Ali sambil menambahkan, mereka hijrah untuk menyelamatkan anak-anak mereka dari ancaman budaya dan kehidupan Barat.
Maret 1999, secara bertahap, mereka hijrah ke Indonesia. Dua tahun mereka tinggal di Sulawesi Selatan, tinggal di sebuah pesantren dan Syekh Fattaah menjadi pengajar di sana, baru kemudian menetap di Jakarta.
Syekh Fattaah kini tinggal di rumah itu juga, namun dia tak melayani wawancara. Kenapa? ''Kata Syekh, kalau orang mau dengar pelajaran atau hikmah dari dia, dengar saja Debu, dengar syairnya. Mungkin beliau khawatir, kalau dia mulai omong banyak, orang akan terfokus pada beliau, pada orangnya, bukan pada syiarnya,'' kata Najib lagi.
Bakda asar, saat Mustafa siap melayani wawancara, sebagian anggota Debu mulai latihan di ruang tengah, ruang yang berfungsi juga untuk shalat berjamaah. Dan anak-anak mereka, usia 3 sampai 10 tahun, ramai bermain di halaman. Alunan musik, lantunan zikir, nyanyian syair-syair cinta ilahi berselang-seling dengan suara jerit riang generasi ketiga keluarga besar Syekh Fattaah itu.
Beberapa menit sebelum magrib, tak ada lagi suara musik. Para perempuan sibuk menyiapkan santapan buka puasa. Ketika azan menggema, terhidanglah segelas sirup dingin dan sepiring kecil pepaya plus kurma. Setelah shalat magrib berjamaah, saya tinggalkan rumah di ujung gang buntu itu. Rumah yang penuh musik dan lagu, rumah yang tenang karena seluruh penghuninya hidup dalam kepasrahan. (Budi Maryono-75)

No comments:

Post a Comment