Saturday, December 12, 2009

Menelisik Jejak Naqsyabandiah Sejak Abad ke-18 di Riau

Kamis, 10/09/2009 15:58 WIB

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


(Foto: naqshbandi.org)
Pekanbaru - Keberadaan suluk atau tarekat Naqsyabandiah ini sudah berada di Riau sejak abad ke-18 silam. Pengajian dengan cara bersuluk ini awalnya diajarkan oleh Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan yang dia bawa dari tanah suci Makkah.

Tuan Syeh ini lahir di Kota Tengah Kepenuhan yang dulunya menjadi pusat Kerajaan Tuanku Tambusai. Ketika masih remaja, Abdul Wahab Rokan menjalankan rukun Islam yang ke lima yaitu ke tanah suci Makkah. Setelah menunaikan haji, Abdul Wahab tidak langsung kembali ke Tanah Air.

Namun ada 5 tahun warga Riau ini belajar di Jabul Abi Kubis di Makkah. Di sinilah cikal bakal dibawanya aliran Naqsyabandiah ke Riau. Setelah lima tahun menimba ilmu, kembalinya ke tanah Rokan ajaran Naqsyabandiah ini diperluas dengan mendirikan berbagai pondok.

“Inilah sejarah awal cikal bakal lahirnya Negeri Seribu Suluk di Riau. Persulukan ini sudah ratusan tahun usianya dan sampai sekarang, pengikutnya masih terus berkembang, baik di Riau apalagi di Sumatera Utara,” kata tokoh budayawan Riau, Al Azhar dalam perbincangan dengan detikRamadan.

Saat terjadi perang Padri tahun 1838, pengajian Naqsyabandiah ini sempat terganggu sebentar, karena aliran Naqsyabandiah dianggap aliran kaum Islam tua. Tapi perang Padri telah memaksa Raja Tuanku Tambusai penguasa Rokan Hulu yang berbatasan dengan Tapanuli Selatan, Sumut itu harus hijrah ke Negeri Sembilan, Malaysia dan wafat di sana. Belakangan Tuanku Tambusai diangkat pemerintah menjadi pahlawan nasional karena perjuangannya melawan penjajah.

Perkembangan ajaran tarekat Naqsyabandiah yang di bawah Abdul Wahab ini terus berkembang di Riau. Semakin berkembangnya ajaran suluk ini, lantas jamaahnya menjuluki Abdul Wahab Tuan Syeh. Sejak itulah, Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan terus mengembangkan ajarannya sampai ke Langkat, Sumatera Utara.

Menurut Al Azhar, semasa kerajaan Langkat berkuasa, ajaran Naqsyabandiah diterima dengan baik. Itu sebabnya, Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan diberi daerah otoritas untuk mendirikan perpondokan suluk yang cukup luas untuk mengajarkan ilmu suluknya kepada warga di bawah kerajaan Langkat. Dari tahun ke tahun, persulukan yang dibangun Tuan Syeh ini terus berkembang pesat terutama di Langkat.

Belakangan, di Langkat menjadi pusat persulukan terbesar di wilayah Sumatera dibandingkan dipersulukan yang ada Sumbar, Riau dan atau di sejumlah kabupaten lainnya yang ada di Sumut. Sudah tidak terhitung jumlah warga dari berbagai daerah Nusantara mengikuti suluk di sana. Malah jamaah juga datang dari Malaysia.

“Walau Sumut kini menjadi pusat persulukan terbesar, namun Riau tetap saja menjadi persulukan tradisional yang masih satu aliran dengan di Basilam Langkat itu.  Para mursyid yang mengajar di Riau masih satu perguruan dari Basilam,” kata Al Azhar.

Memang bila dilihat dari garis keturunan darah, para mursyid di Rokan, tidak lagi memiliki keterikatan darah dengan Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan. Hanya saja, para mursid atau ustad yang mengajarkan tarekat itu tetap merupakan anak didik turun termurun dari Tuan Syeh Abdul Wahab.

“Sampai sekarang suluk di Rokan dengan di Basilam, Langkat tidak bisa dipisahkan,” kata Al Azhar.

(cha/nwk)


No comments:

Post a Comment

Post a Comment