Wednesday, March 3, 2010
Friday, February 12, 2010
Gerimis Hiasi Acara Zikir SBY di Monas
Sabtu, 13/02/2010 08:05 WIB
Nograhany Widhi K - detikNews
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pagi ini menghadiri zikir bersama di Monas. Hujan gerimis pun menghiasi zikir yang dihadiri ribuan orang ini.
Pantauan detikcom di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (13/2/2010) ada 3 panggung yang didirikan di Monas bagian selatan. Panggung paling besar berukuran 5x7 meter setinggi 180 cm diletakkan di sisi Monas, tepatnya menghadap gerbang Monas dekat bundaran Patung Kuda.
Sedangkan dua panggung lainnya lebih kecil berukuran 3x3 meter diletakkan serong menghadap panggung besar itu.
Panggung paling besar ditempati para habaib yang akan memimpin zikir, dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Tampak hadir di antaranya Mensesneg Sudi Silalahi, Menpora Andi Mallarangeng, Menkokesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mendiknas M Nuh.
SBY tiba sekitar pukul 08.00 WIB mengenakan pakaian koko putih dan berpeci. Sementara, Ani Yudhoyono berbalut pakaian serba putih. Kedatangan keduanya disambut salawat badar.
Gerimis di Monas mulai turun pada pukul 07.10 WIB hingga pukul 07.45 WIB gerimis masih mengguyur. Sehingga para jamaah di tanah lapang membuka payung dan sebagiannya lagi pasrah diguyur air.
"Pindahkan hujan dari tempat ini. Jadikan tempat ini tempat yang maslahat bagi kami," ujar salah satu habaib yang memimpin.
"Amiin," sahut jamaah serempak.
Zikir yang bertema 'Berzikir untuk Indonesiaku' ini diadakan oleh Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Majelis Dzikir Nurul Musthofa dan Forum Habib Nasional.
(nwk/mad)
Nograhany Widhi K - detikNews
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pagi ini menghadiri zikir bersama di Monas. Hujan gerimis pun menghiasi zikir yang dihadiri ribuan orang ini.
Pantauan detikcom di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (13/2/2010) ada 3 panggung yang didirikan di Monas bagian selatan. Panggung paling besar berukuran 5x7 meter setinggi 180 cm diletakkan di sisi Monas, tepatnya menghadap gerbang Monas dekat bundaran Patung Kuda.
Sedangkan dua panggung lainnya lebih kecil berukuran 3x3 meter diletakkan serong menghadap panggung besar itu.
Panggung paling besar ditempati para habaib yang akan memimpin zikir, dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Tampak hadir di antaranya Mensesneg Sudi Silalahi, Menpora Andi Mallarangeng, Menkokesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mendiknas M Nuh.
SBY tiba sekitar pukul 08.00 WIB mengenakan pakaian koko putih dan berpeci. Sementara, Ani Yudhoyono berbalut pakaian serba putih. Kedatangan keduanya disambut salawat badar.
Gerimis di Monas mulai turun pada pukul 07.10 WIB hingga pukul 07.45 WIB gerimis masih mengguyur. Sehingga para jamaah di tanah lapang membuka payung dan sebagiannya lagi pasrah diguyur air.
"Pindahkan hujan dari tempat ini. Jadikan tempat ini tempat yang maslahat bagi kami," ujar salah satu habaib yang memimpin.
"Amiin," sahut jamaah serempak.
Zikir yang bertema 'Berzikir untuk Indonesiaku' ini diadakan oleh Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Majelis Dzikir Nurul Musthofa dan Forum Habib Nasional.
(nwk/mad)
Thursday, January 28, 2010
Buku Biografi Alm KH Nawawi Diluncurkan
19/08/2008
Purworejo, CyberNews. Sedikitnya 25.000 orang memadati komplek Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo, Selasa. Mereka yang berasal dari wali santri, alumni, dan jamaah tariqah ini datang untuk menghadiri laucing buku biografi almarhum KH Nawawi.
KH Nawawi merupakan salah satu tokoh penting di balik berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah yang juga pendiri pesantren tersebut. Laucing buku biografi itu dilakukan bersamaan dengan haul dan khataman santri sebelum memasuki bulan Ramadan.
Buku setebal 183 halaman itu disusun oleh penulis yang tergabung tim Pondok Pesantren An Nawawi. Tim itu terdiri dari Wakil Bupati Drs Mahsun Zain, Sahlan SAg MSi, dan Muhammad Ali Rosidin SPd I.
Biografi yang diberi judul 'Mengenal KH Nawawi Berjan Purworejo, Tokoh di Balik Berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah itu diberi pengantar oleh dua orang kiai yang sudah sangat terkenal. Yakni KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan pengasuh pondok Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Maemoen Zubair.
Dalam kata pengantarnya, KH Ahmad Idris Marzuqi mengungkapkan, KH Nawawi merupakah mursyid Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah yang mengawali karir pengabdiannya dengan menimba ilmu di sejumlah pesantren di Jateng dan Jatim. "Almarhum adalah sosok yang sederhana. Sebuah sikap yang diwarisi dari ayahnya KH Shiddiq bin Zarkasi," katanya.
Disebutkan, KH Nawawi merupakah salah satu kiai yang memprakarsai terselenggarakan Kongres I Alim Ulama Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah pada tahun 1957. Kongres itulah yang menandai berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah.
Sementara itu, KH Maemoen Zubair mengatakan, buku biografi tersebut sangat perlu untuk menjadi bacaan para muslim dan muslimat ahli sunnah wal jama'ah. "Utamanya para ahli thariqah al-mu'tabarah," katanya.
Pengasuh Pondok An Nawawi Berjan, KH Chalwani mengungkapkan, ditulisnya buku tersebut dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada jama'ah thariqah. "Dalam buku ini banyak diuraikan ajaran-ajaran KH Nawawi yang harus kita teladani. Juga menguraikan kiprahnya di balik berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah," katanya.
Salah satu penulis, Muhammad Ali Rosidin mengungkapkan, buku tersebut pertama kali cetak sebanyak 10.000 eksemplar. "Setiap eksemplarnya dijual dengan harga Rp 25.000. Hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan masjid," katanya.
Purworejo, CyberNews. Sedikitnya 25.000 orang memadati komplek Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo, Selasa. Mereka yang berasal dari wali santri, alumni, dan jamaah tariqah ini datang untuk menghadiri laucing buku biografi almarhum KH Nawawi.
KH Nawawi merupakan salah satu tokoh penting di balik berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah yang juga pendiri pesantren tersebut. Laucing buku biografi itu dilakukan bersamaan dengan haul dan khataman santri sebelum memasuki bulan Ramadan.
Buku setebal 183 halaman itu disusun oleh penulis yang tergabung tim Pondok Pesantren An Nawawi. Tim itu terdiri dari Wakil Bupati Drs Mahsun Zain, Sahlan SAg MSi, dan Muhammad Ali Rosidin SPd I.
Biografi yang diberi judul 'Mengenal KH Nawawi Berjan Purworejo, Tokoh di Balik Berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah itu diberi pengantar oleh dua orang kiai yang sudah sangat terkenal. Yakni KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan pengasuh pondok Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Maemoen Zubair.
Dalam kata pengantarnya, KH Ahmad Idris Marzuqi mengungkapkan, KH Nawawi merupakah mursyid Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah yang mengawali karir pengabdiannya dengan menimba ilmu di sejumlah pesantren di Jateng dan Jatim. "Almarhum adalah sosok yang sederhana. Sebuah sikap yang diwarisi dari ayahnya KH Shiddiq bin Zarkasi," katanya.
Disebutkan, KH Nawawi merupakah salah satu kiai yang memprakarsai terselenggarakan Kongres I Alim Ulama Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah pada tahun 1957. Kongres itulah yang menandai berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah.
Sementara itu, KH Maemoen Zubair mengatakan, buku biografi tersebut sangat perlu untuk menjadi bacaan para muslim dan muslimat ahli sunnah wal jama'ah. "Utamanya para ahli thariqah al-mu'tabarah," katanya.
Pengasuh Pondok An Nawawi Berjan, KH Chalwani mengungkapkan, ditulisnya buku tersebut dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada jama'ah thariqah. "Dalam buku ini banyak diuraikan ajaran-ajaran KH Nawawi yang harus kita teladani. Juga menguraikan kiprahnya di balik berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah," katanya.
Salah satu penulis, Muhammad Ali Rosidin mengungkapkan, buku tersebut pertama kali cetak sebanyak 10.000 eksemplar. "Setiap eksemplarnya dijual dengan harga Rp 25.000. Hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan masjid," katanya.
Makam Mbah Dur Dipadati Manusia
Jumat, 28 Desember 2007 Dari Temu Alumni Pesantren Futuhiyyah (2-Habis)
PAGI-PAGI sekali masyarakat dari berbagai daerah sudah berduyun-duyun ke pesarean Mbah Dur (KH Abdurrahman bin Qasidil Haq). Di tempat itu juga terdapat makam KH Ahmad Muthohar, KHMS Lutfil Hakim dan KH Abdurrahman, KH Mohammad Ridlwan dan lain-lain.
Mereka yang kebanyakan mursyid dan santri thoriqoh Qadiriyah Naqsabandiyah secara bersama-sama langsung menggelar tahlil dan yasin. Seolah-olah batu nisan di tempat itu tidak terlihat lagi saking padatnya oleh kerumunan manusia yang berkirim doa.Mendekati azan zuhur, upacara haul Mbah Dur baru dimulai. Diawali dengan laporan Ketua Alumni KH Abdullah Adib Masrukhan Lc dan sambutan pengasuh pondok KH Hanif Muslih Lc. Sedang tausiyah disampaikan KH Tefur Mawardi dari Purworejo.
Gubernur Ali Mufiz pada kesempatan itu mengingatkan pentingnya keberadaan pondok pesantren dijaga. ''Pesantren ini sebagai benteng penjaga akhlak dan moral,'' tegas Ali Mufiz. Pendidikan agama yang diberikan di lembaga pendidikan menurutnya, porsinya sangat terbatas. Di pondok pesantrenlah penempaan akhlak dan kepribadian maksimal bisa dilakukan.
Menurut Gus Adib, Mbah Dur lahir di Kampung Suburan, Mranggen Demak tahun 1872M. Dialah yang melahirkan ulama besar KH Muslih yang tidak lain ayah KH Hanif Muslih. Mbah Dur pernah menjadi santri Kiai Sholeh Darat Semarang, KH Ibrahim Brumbung Mranggen.
Dari kiai inilah Mbah Dur mengaji ilmu Thoriqoh Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan ia diwisuda menjadi khalifah thoriqoh setelah lulus ujian.
Dalam buku sejarah Futuhiyyah disebutkan, suatu hari Kiai Ibrahim berkata, ''Barang siapa yang nanti tidak batal shalatnya maka dialah yang berhak menyandang khalifah''. Benar juga, pada saat shalat jamaah berlangsung, para santri melihat ular besar merayap dari simbah KH Ibrahim menuju para santri yang jadi ma'mum.
Mereka lari tunggang-langgang dan otomatis batal shalatnya. Kecuali Mbah Dur yang tetap khusyuk meneruskan shalat sampai selesai. Akhirnya dialah yang diwisuda menjadi khalifah thoriqoh. Ia meninggal pada 20 zulhijjah 1360H (tahun 1941M) dalam usia 70 tahun.
Orang Mranggen
Pada kesempatan itu Kiai Hanif mengumumkan pengurus alumni Futuhiyyah masa hidmah 2007-2012 (Ittihadu Khirriji Futuhiyyah). Sayangnya pada jajaran pengurus inti (harian) diisi orang-orang Mranggen. Sedang alumni yang jauh tempat tinggalnya seperti di Samarinda, Pontianak, Jakarta, Lamongan, Sidoarjo, Ciamis, Sumatra dan lain-lain ditempatkan sebagai koordinator wilayah dan bidang-bidang.
Nama-nama alumni seperti Dr KH Taufiq Prabowo Lc DEA Malang, Prof Dr Muhibbin Noor MA, Dr KH Ahmad Munif MA, Prof Dr Qodry Azizy MA, Prof Dr Masykuri Abdillah MA dan lain-lain berada di posisi Dewan Pakar. Menurut Gus Munif pertimbangan rapat formatur menempatkan orang-orang Mranggen di pengurus harian karena latar belakang kepraktisan saja dan tidak membebani tugas alumnus yang punya kesibukan masing-masing. ''Sumbang pikiran dan komunikasi tetap kami butuhkan dan kami harapkan,'' tuturnya.
Karena Futuhiyyah sebagai peninggalan KH Abdurrahman bin Qasidil Haq dan KH Muslih Abdurrahman telah berkembang pesat menjadi lembaga pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat, para alumni diharapkan terus memberikan kontibusi untuk pengembangan Futuhiyyah ke depan. (Agus Fathuddin Yusuf-16)
Ritual Islam Kaffah ala Nahshabandiyah
Subscribe to:
Posts (Atom)
