Pemimpin Jamiatul Muslimin Indonesia (Jatmi) KH Maktub mengatakan masayarakat janganlah menganggap penanganan masalah pornografi sebagai tindakan mubajir.
"Memerangi pornografi dari muka bumi tidaklah mudah, dan bukan merupakan perbuatan yang mubajir. Bukan hal tepat memperdebatkan pornografi sebagai penanganan masalah yang sia-sia," kata Pimpinan Jami'atul Muslimin Indonesia (Jatmi) KH Makhtub Effendi dalam rapat tentang penanganan pornografi di Itiglal Selasa (8/10).
Sementara Ketua Aliansi Masyarakat Anti Pornografi mengatakan untuk menangani masalah pornografi masyarakat harus menyatukan gerakan dari berbagai lapisan element agama, sehingga budaya pornografi tidak semakin merebak.
Maktub Effendi mengutip hadist Rasulullah SAW mengatakan apabila manusia melihat kemungkaran (pornografi) maka perangilah dalam tiga jenis, yakni, dengan tangan, lidah dan hati.
Bertindak dengan tangan dalam menangani dan memerangi masalah pornografi, yaitu dengan melalui bantuan aparat penegak hukum. Mereka dengan hukum yang ada akan bertindak secara tepat tentang definisi pornografi yang berkembang di masyarakat. Bertindak melalui lidah yaitu dilakukan oleh lembaga legislatif yang mempunyai wewenang dalam membuat Undang-Undang. Oleh karena itu dengan wewenang yang dimiliki mereka dapat membuat UU pornografi.
"Melalui lidah yakni dilakukan oleh masyarakat Islam ataupun agama lain dengan upaya berdoa kepada Tuhan, agar pornografi dihapuskan dari muka bumi," tambah Maktub
Sementara Maktub menjelaskan secara histori munculnya pornografi untuk menghancurkan generasi muda terjadi pada saat 800 tahun silam oleh raja Namrud, ketika ingin menghancurkan nabi Ibrahim. Iblis dengan berbagai cara dilakukan mempunyai kesulitan untuk menjerumuskan Ibrahim kedalam lautan api,.
Hal itu dilakukannya dengan mencampurkan arak kedalam minuman, selain itu Iblis juga memerintahkan kepada manusia melalui Namrud agar mereka telanjang, baik laki ataupun perempuan didepan Ibrahim. Melihat kondisi tersebut maka keadaan menjadi kacau dan kemaksiatan pun terjadi.
"Di saat ini pornografi telah membudaya di Indonesia, bahkan dikalangan muslim, dikarenakan Islam sebagai persaingan utama negara adikuasa setelah hancurnya kekuatan komunis Soviet," tegas Maktub
Sementara Pengurus KOWANI Syaiful Mukti mengatakan hal senada, bahwa pihaknya tidak pesimis apabila penanganan pornografi dikatakan sebagai hal yang mubajir. Mereka jangan melihat hasil yang akan dicapai. Adanya kegiatan yang dilakukan sejumlah element tertentu dalam memerangi pornografi tetap harus dilakukan untuk merangsang lembaga-lembaga lain dalam memerangi pornografi.
Menurut Syaiful pornografi merupakan hal yang sama bahayanya dengan narkoba, bahkan dampaknya lebih berbahaya dari narkoba. Pornografi yang bagaikan candu tersebut memiliki dampak yang terkait dengan orang lain. "Hal itu berbeda dengan pengguna narkoba yang cendrung merugikan diri sendiri," (m13)
Kamis, 08 April 2010 - 19:27:18 WIB RAMBAH (rokanhulunews.com) - Dengan diresmikannya Surau suluk Syeh Ibrahim Al Khalidi Naqsabandi sebagai surau suluk Induk (sentral) di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) oleh Bupati Rohul, Kamis (8/4) pagi, diharapkan surau suluk induk yang didirikan di Dusun Ngarai Desa Koto Tinggi Kecamatan Rambah, difungsikan sebagai pusat kegiatan seluruh tareqat di Rohul.
Imbauan dan harapan itu dipaparkan Bupati Rohul Drs H Achmad MSi, dalam sambutannya saat meresmikan Surau suluk Syehk Ibrahim Al Khalidi Naqsabandi sebagai surau suluk Induk di Rohul, yang dihadiri 3 ribu jamaah dan undangan dari Tareqat Bonjol Sumbar dihadiri 250 orang, Tapanuli Utara dan seluruh jamaah Tareqat Naqsabandi se Rohul.
Peresmian surau suluk induk juga dihadiri langsung Ketua Pusat Jamaah Tariqat Muktabarah Indonesia (Jatmi) KH DR Maktub Efendi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau Drs H ashari MH, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Rohul Drs Abdul Ghafar Usman MSc, para Mursyid, Mursyidin serta jemaah tareqat di Rohul, Kepala Dinas, Badan, Kantor, Camat, dan para kepala desa.
''Pembangunan surau suluk Induk ini sebagai bentuk menyatukan seluruh tareqat untuk bersama-sama melaksanan tawajjuh. Dimana dengan adanya surau induk tersebut, seluruh kegiatan persulukan bisa dilaksanakan. Sehingga nantinya tidak ada membedakan antara tareqat yang satu dengan yang lainnua, namun bagaimana seluruh tareqat di Rohul bersama-sama melakukan kegiatan mulai sesuai julukan Rohul sebagai negeri seribu suluk,'' terang Bupati.
Bahkan dengan diresmikannya surau suluk sentral, citra Rohul sebagai �Negeri Seribu Suluk� semakin dikenal serta diakui. Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (TRCK) Ir H Hafith Syukri sebagai pelaksanaan pembangunan surau suluk Syehk Ibrahim menjelaskan, surau suluk dibangun sejak tahun 2008 dari dana APBD Rohul mulai tahun 2008 sebesar Rp1,7 miliar, kemudian tahun 2009 sebesar Rp1,8 miliar dan untuk tahun 2010 ini dilanjutkan membangun rumah Mursyid dengan dana Rp1,1 miliar, hingga secara total dana keseluruhan yang dianggarkan mencapai Rp4,6 miliar.
Bupati juga menjelasakan, bahwa surau suluk yang dibangun Pemkab sendiri, saat ini baru bisa menampung 30 orang jemaah pria dan 30 orang jemaah wanita. Dimana tahun 2011 mendatang, ditargetkan surau mampu menampung 60 jemaah pria dan 60 jemaah wanita.
Ketua Pusat Jemaah Tarikat Muktabarah Indonesia (Jatmi) Jakarta KH DR Maktub Efendi dalam sambutanya menyatakan, walaupun zaman saat ini era digital dan modern, namun zikir dan ibadah harus tetap dilakukan. Apalagi Rohul yang dijuluki �Negeri Seribu Suluk� harus tetap dipertahankan.
''Kita salut atas kemauan keras Bupati Rohul membangun surau suluk dengan dana mencapai Rp5 miliar. Nantinya, surau suluk tersebut bisa difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan terutama zikir, ini menunjukan bahwa sosok Bupati juga memperhatikan keagamaan di Rohul ini,'' ungkap Maktub Efendi.
Bupati juga menyatakan, dulunya surau suluk Syehk Ibrahim pernah berjaya pada saat didirikan. Kemudian ide Bupati selaku cucu dan keturunan Syehk Ibrahim dengan sesuai jabatan dan kemampuan, ingin mengembangkan kejayaan surau suluk dengan membangun surau suluk induk yang juga menggunakan nama Surau suluk Syehk Ibrahim.
Dalam acara peresmian itu, juga dilakukan pemotongan pita, sekaligus pembukaan papan nama surau suluk Syehk Ibrahim serta penyerahan kunci kendaraan operasional surau suluk Syehk Ibrahim. Bupati sendiri berharap, para Mursyid dan khalifah yang ada, untuk merundingkan agar melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan secara bersama.
''Nantinya diharapkan, tidak ada perbedaan sehingga dalam melaksanakan kegiatan di surau suluk induk bisa berjalan lancar,'' terang Achmad.(wan/fik*)
TEMPO Interaktif, Makassar - Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah (Jatman) Idarah Aliyah Habib Toha menyatakan penolakannya kepada Hasyim Muzadi dalam pencalonan Rois Am Nahdlatul Ulama di Muktamar ke-32 Makassar.
Menurutnya sikap resmi DPP Jatman menolak Muzadi untuk dicalonkan menjadi Rois Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sebab kata Toha, bukan tempatnya Muzadi menduduki Rois Am. Menurutnya masih banyak kiai-kiai yang lebih tua dan lebih cocok.
"Kami ingin agar Rois Am diberikan pada kiai yang lebih senior, " kata Habib Toha dalam jumpa pers di sekretariat Jatman Idarah Wustha (Pengurus tingkat Provinsi) Sulawesi Selatan, jalan Baji Bicara siang ini.
Sikap itu juga untuk mengklarifikasi pernyataan sikap DPP Jatman yang akan keluar dari NU jika Muzadi terpilih Rois Am NU yang dimuat di sejumlah surat kabar lokal dan nasional. "Kami pengurus pusat hendak mengklarifikasi pernyataan Rais Am Jatman Habib Lutfi Bin Ali Yahya yang menyatakan akan keluar dari NU jika Muzadi menjadi Rois Am PBNU, " kata Habib Toha.
Toha didampingi oleh Ketua Dewan Mursyid Jam'iyah Khalwatiah Syekh Yusuf Al-Makassary Syaikh Abdurahim Assegaf Puang Makka, Sekjen Jatman Muhammad Masroni dan para jamaah tarekat Syekh Yusuf ini.
Ditambahkan Nasroni, bahwa masih banyak kiai-kiai yang menurut pengamatan Jatman lebih pantas, seperti Maimun Zubair, Mustafah Bisri, Zainuddin. "Kami kedepankan adat, hormati senior, " kata Sekjen Jatman ini.
Namun, kata Toha, tidak berarti setuju dengan pencalonan itu. Menurutnya Muzadi diakui punya banyak kelebihan, baik, bagus dan cerdas. Tapi secara adat istiadat di NU, mana kala masih ada yang lebih tua, berilah kepada yang lebih senior.
"Tua keilmuan, tua pengetahuan, tua dedikasi, " ujarnya.
Jatman memiliki 43 organisasi tarekat di Indonesia dan badan otonom NU lainnya, kata Sekjen Jatman Masroni sebenarnya tidak puas dengan Muktamar ini karena badan otonom ini tidak punya suara di Muktamar.
Purworejo, CyberNews. Sedikitnya 25.000 orang memadati komplek Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo, Selasa. Mereka yang berasal dari wali santri, alumni, dan jamaah tariqah ini datang untuk menghadiri laucing buku biografi almarhum KH Nawawi.
KH Nawawi merupakan salah satu tokoh penting di balik berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah yang juga pendiri pesantren tersebut. Laucing buku biografi itu dilakukan bersamaan dengan haul dan khataman santri sebelum memasuki bulan Ramadan.
Buku setebal 183 halaman itu disusun oleh penulis yang tergabung tim Pondok Pesantren An Nawawi. Tim itu terdiri dari Wakil Bupati Drs Mahsun Zain, Sahlan SAg MSi, dan Muhammad Ali Rosidin SPd I.
Biografi yang diberi judul 'Mengenal KH Nawawi Berjan Purworejo, Tokoh di Balik Berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah itu diberi pengantar oleh dua orang kiai yang sudah sangat terkenal. Yakni KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan pengasuh pondok Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Maemoen Zubair.
Dalam kata pengantarnya, KH Ahmad Idris Marzuqi mengungkapkan, KH Nawawi merupakah mursyid Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah yang mengawali karir pengabdiannya dengan menimba ilmu di sejumlah pesantren di Jateng dan Jatim. "Almarhum adalah sosok yang sederhana. Sebuah sikap yang diwarisi dari ayahnya KH Shiddiq bin Zarkasi," katanya.
Disebutkan, KH Nawawi merupakah salah satu kiai yang memprakarsai terselenggarakan Kongres I Alim Ulama Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah pada tahun 1957. Kongres itulah yang menandai berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah.
Sementara itu, KH Maemoen Zubair mengatakan, buku biografi tersebut sangat perlu untuk menjadi bacaan para muslim dan muslimat ahli sunnah wal jama'ah. "Utamanya para ahli thariqah al-mu'tabarah," katanya.
Pengasuh Pondok An Nawawi Berjan, KH Chalwani mengungkapkan, ditulisnya buku tersebut dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada jama'ah thariqah. "Dalam buku ini banyak diuraikan ajaran-ajaran KH Nawawi yang harus kita teladani. Juga menguraikan kiprahnya di balik berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah," katanya.
Salah satu penulis, Muhammad Ali Rosidin mengungkapkan, buku tersebut pertama kali cetak sebanyak 10.000 eksemplar. "Setiap eksemplarnya dijual dengan harga Rp 25.000. Hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan masjid," katanya.
`Tradisi pemikiran pesantren mencapai puncaknya dengan munculnya berbagai ulama tangguh secara internasional oleh dunia Islam di masanya.
'Islam Indonesia hanya konsumer. Bukan produser pemikiran.'' Pernyataan ini ditegaskan seorang dosen Universitas Indonesia lulusan Australia, beberapa tahun lalu, tepatnya sebelum pemilu 2004. Tak jelas apa motif dan dasar argumentasinya dia mengatakan seperti itu. Namun, yang pasti karena acara itu sifatnya forum internasional, apalagi pidato itu diucapkan dalam bahasa Inggris, para hadirin yang sebagian pesertanya adalah orang asing, hanya terlihat mengangguk mengiyakan saja. Tak jelas apa mereka paham atau tidak akan substansinya.
Namun, beberapa waktu kemudian ketika soal ini ditanyakan kepada Guru Besar dan Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN), Prof DR Azyumardi Azra, dia menjawabnya dengan pernyataan pendek yang disertai senyuman ringan.''Ya mungkin dia terlalu bersemangat saja,'' kata Azyumardi.
Pernyataan ini semakin menggelitik ketika membaca kembali tulisan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 18 September 1982. Dalam tulisan itu Gus secara panjang lebar menulis berbagai kazanah pemikiran Islam hasil karya anak negeri sendiri. Warisan kekayaan intelektual ini merupakan karya para kai kondang yang tersebar di berbagai pesantren, baik itu dari pesantren Jawa maupun luar Jawa.
Gus Dur mengatakan melihat berbagai karya itu, maka dapat disimpulkan bahwa para kyai dan santri yang tersebar di berbagai pondok pesantren itu ternyata tak hanya menggantungkan diri pada teks-teks pemikiran Islam yang dianggap `berasal dari negeri Arab' (padahal pemikiran Islam ini sebenarnya datang dari berbagai penjuru dunia, seperti Afrika Barat, Asia Tengah, dan India.
Dari tradisi pemikiran pesantren itu kemudian mencapai puncaknya dengan munculnya berbagai `ulama tangguh' yang diakui secara internasional oleh dunia Islam di massanya. Sebut saja misalnya, Kiai Nawawi dari Banten, Kiai Mahfudz Termas (Pacitan), Kiai Muhtaram (Banyumas), dan Kiai Ahmad Khatib (Padang), serta Kiai Abdussamad asal Palembang.
Kiprah dan integritas para kiai ini sungguh luar biasa. Mereka itu menguasai dunia keilmuan agama Islam di Makkah selama puluhan tahun, tepatnya disekitar peralihan abad keseimbilan belas hingga ke abad dua puluh.
Gus Dur menulis, pengakuan kepada kedalaman keilmuan para `kiai besar' itu masih terasa hingga kini. Syekh Yassin asal Padang misalnya, mendapat kehormatan untuk menaturalisasi (tajannus) status kewarganegaraannya sebagai warga negara Arab Saudi. Sampai sekarang karya tulis Syekh Yasin ini tersebar dan dijadikan rujukan di seluruh penjuru dunia Islam.
Senasib dengan berbagai karya Syekh Yasin, karya Kiai atau Syekh Nawawi asal Banten juga mendunia. Kitab yang ditulisnya yang membahas mengenai persoalan tauhid (teologi), Nur Al-Dhalam, digunakan sebagai teks dasar pesantren hingga saat ini. Bahkan, sebagai bukti pengakuan akan ketinggian ilmunya, Kiai Nawawi diberi gelar prestisius sebagai `pemuka ulama Makkah dan Madinah (sayid ulama Al-Hijaz). Karya tulis Nawawi yang terkenal lainnya adalah berupa kumpulan pilihan`hadits empat puluh' (Hadits Al-Arba'in). Karya ini dipergunakan sebagai teks dasar bagi siapa pun yang ingin belajar ilmu hadits.
Pemikir Islam `made in' Indonesia yang tak kalah penting lainnya adalah Kiai Ihsan dari Pesantren Jampes (Kediri). Dia menulis kitab Siraj Al Talibin, yang merupakan komentar atas karya klasik Al Ghazali yang ditulis pada periode awal tahun 1000 M: Minhaj Al-`Abidin. Mutu karya yang terdiri dari dua jilid ini bernilai tinggi, sehingga dijadikan buku wajib untuk kajian mahasiswa post-graduate di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Buku ini menjadi buku penting dengan materi berisi pembahasan mengenai tasawuf dan akhlak.
Namun, di antara figur tersebut ada sebuah nama pemikir penting Islam Indonesia yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, yakni KH Bisri Mustofa dari Rembang (Bisyri Musthafa Al-Rambani). Kiai ini menulis lebih dari dua puluh karya, termasuk sebuah tafsir Alquran yang berjumlah tiga jilid. Sosok pemikir pesantren berikutnya adalah Kiai Misbah b Zain AL-Musfata dari Bangilan, Ahmad Subki Masyhadi dari Pekalongan, dan Asrofi dari Wonosari yang menerjemahkan beberapa teks Islam klasik dan menulis berjilid-jilid tafsir Alquran berbahasa Jawa.
Sedangkan penulis kondang beretnis Sunda yang terkenal sebagai penulis Kiai Ahmad Sanusi dari Sukabumi yang juga menjadi pendiri organisasi Al-Ittihadiyyatul Islamiyah. Dia menulis tafir Alquran. Sedangkan pemikir Islam asal Sumatera diantaranya adalah Akhmad Khatib. Pemikiran dia bahkan sempat menjadi polemik yang menarik pada awal abad ke 20 di mana Indonesai mulai menyemai semangat kemerdekaan secara lebih sistematis.
Selain itu, pemikir Islam asal etnis Minangkabau lainnya adalah Mahmud Yunus dan Abdul Hakim. Keduanya telah menulis sejumlah buku teks dalam bahasa Melayu dan Arab. Beberapa karyanya dijadikan bahan pelajaran di madrasah dan pesantren dan dipelajari secara luas oleh masyarakat.
Geneologi Sejarah Pesantren
Asal usul dan kapan persisnya munculnya pesantren di Indonesia sendiri belum bisa diketahui dengan pasti. Bahkan, peneliti tarekat dan tradisi Islam asal Belanda, Martin Van Bruinessen, menyatakan tidak mengetahui kapan lembaga tersebut muncul untuk pertama kalinya. Namun, memang banyak pihak yang menyebut dengan berpijak pada pendapat sejarawan yang banyak mengamati kondisi masyarakata Jawa, Pigeud dan de Graaf pesantren sudah ada semenjak abad ke 16.
''Namun tidak jelas, apakah semua itu merupakan lembaga pendidikan tempat pengajaran langsung. Karena sebutan `pesantren' (sebuah istilah yang menurut saya baru muncul belakangan), patut dipertanyakan,''tulis Martin dengan mengutip pendapat pakar sejarah, Hoesien Djajadingrat, yang menulis buku mengenai sejarah Banten.
Disamping itu, menurut Martin, banyak penulis yang cenderung mengatakan bahwa keberadaan pesantren sebagai sarana kesenimbanguan dengan lembaga pendidikan pra-Islam, yang muncul dalam desa Perdikan. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya tetap, karena dengan status sebagai wilayah `bebas pajak kerja rodi' keterkaitan pesantren dengan desa Perdikan itu tampaknya tidak ada sangkut pautnya.
Apalagi, melalui survei pemerintahan kolonial Belanda yang dilakukan pada akhir abad ke-19, ternyata dari 211 desa Perdikan yang ada, ternyata hanya empat desa saja yang penghasilannya diberikan untuk membiayai pesantren. Inilah yang kemudian menguatakan argumenatsi bahwa pesantren berdiri tersendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan adanya desa Perdikan itu.
Dari catatan sejarah, lembaga pendidikan pesantren tertua dadalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo, yang didirikan pada tahun 1724. Namun sekitar seabad kemudian, yakni melalui survei Belanda tahun 1819, tampak sekali bahwa pesantren tumbuh dan berkembang secara sangat pesat, terutama di seluruh pelosok Pulau Jawa. Survei itu melaporkan lembaga pendidikan ini sudah terdapat di Priangan, Pekalongan, Rembang, Kedu, Surabaya, Madiun, dan Ponorogo.
Melihat data itu Martin Van Bruinessen yakin bahwa sebelum abad ke 18 atau sebelum berdirinya Pesntren Karang, belum ada lembaga yang layak disebut pesantren. Yang ada hanyalah tempat pengajaran perorangan atau perorangan biasa atau tidak terstruktur.
Pada fakta lain, dalam Serat Centhini, memang sempat disebutkan bahwa tokoh Jayengresmi yanh hidup sezaman dengan Sultan Agung Mataram, yaitu pada paruh Abad ke-17, mempunyai lembaga pendidikan pesantren. Tapi ini diragukan karena serat Centhini baru disusun pada awal abad ke-19. Sedangkan, `klaim' lain bahwa pesantren sudah berdiri sejak ke-16 atau seiring masuknya Islam di Banten sudah ada pesantren yang disebut Perguruan Karang, juga diragukan.
Kisah Tiga Super Star
Dari sekian banyak kiai pemikir itu ternyata ada tiga sosok yang masuk dalam kategori super star. Mereka adalah Syech Nawawi Banten (wafat sekitar 1896-1897 M), Ahmad Khatib dari Minangkabau (wafat 1915), Kiai Mahfuzh dari Termas (wafat sekitar 1919-1920). Semasa hidupnya mereka mampu menjadi intelektual terkemuka di Makkah yang saat itu menjadi salah satu pusat pemikiran agama Islam.
Snouck Hugronye yang pernah cukup lama tinggal di Makkah untuk menyelidiki pengaruh pemikiran Islam di Indonesia, pernah menyebut Syechk Nawawi Banten (lengkapnya Muhammad bin' Umar Nawawi Al Bantani) sebagai orang yang paling dalam pengetahuanya di Makkah namun mempunyai sifat rendah hati. Nawawi juga penulis produktif. Muridnya datang dari berbagai penjuru dunia. Dan karya Nawawi pun hingga kini masih dikaji di seluruh pesantren. Bahkan semua kiai zaman sekarang menganggap dia sebagai nenek moyang intelektual mereka.
Sosok `kiai super' kedua adalah Ahmad Khatib yang berasal dari Sumatera Barat. Dia adalah salah seorang dari Indonesia yang pertama kali mendapatkan izin mengajar di Masjidil Haram dan dijadikan sebagai salah seorang imam di sana. Kehormatan menjadi imam sungguh besar artinya karena jabatan ini biasanya hanya diperuntukan bagi ulama kelahiran Makkah saja.
Sosok Ahmad Khatib juga dikenal sebagai bapak reformasi keagamaan di Indonesia. Dia terkenal menjadi figure pemikir yang berani berpolemik melawan adat suku asalnya (Minangkabau) dan `melawan' pemikiran tarekat Naqsabandiyah (sebuah tarekat yang punya pengikut yang paling banyak di Sumatera Barat). Beberapa kitab hasil pemikirannya masih dipakai di beberapa pesantren hingga sekarang.
Tokoh besar ketiga adalah Kiai Mahfuzh asal Termas. Posisi dia cukup strategis teruama bagi para kiai yang tinggal di Pulau Jawa. Bahkan, sosok Mahfuzh bagi para kiai yang tinggal Jawa lebih dihormati, misalnya bila dibandingkan dengan posisi penghormatan kepada Syech Nawawi dari Banten itu. Figur istimewa dari Mahfuzh semakin dapat dimengerti karena dia merupakan guru pendiri Jamiah Nahdlatul Ulama, yakni KH Hasyim Asy'ari dari Jombang. Posisi inilah yang kemudian dipahami sebagai penyebab tingginya reputasi Kiai Mahfuzh itu.
Mahfuzh sendiri menyelesaikan pendidikannya di bawah bimbingan guru-guru Arab terkenal yang mengajar di Masjidil Haram. Karya dia yang penting adalah berupa empat jilid kitab fiqih yang merupakan komentar atas sebuah kitab saat itu banyak dipakai di Indonesia: kitab Mauhibah Dzawai Al Fadhl yang dicetak di Mesir pada 1315 H/1897-9 M.
Selain itu, Mahfuzh, juga merupakan ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kita hadis Shahih Bukhari. Dan setelah tiga ulama ini, hingga kini belum ada ada orang Indonesia yang setara dengannya, misalnya mampu menjadi pengajar agama atau imam di Masjid Al Haram, di Makkah.
Rabu, 23 Maret 2005 15:07
Jakarta, NU Online
Ketua PBNU KH Said Agil Siradj mengungkapkan bahwa untuk lebih mensejahterakan jamaahnya, terekat diharapkan lebih meningkatkan upaya sosial disamping mengurusi dzikir, wirid dan spiritualitas.
Tokoh-tokoh sufi zaman dahulu hidup dalam berbagai profesi dan mereka menjalaninya dengan serius. Ada seorang sufi yang menjadi kepala negara, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Ada sufi yang ahli matematik yang malah menciptakan ilmu al Jabar, yaitu Jabar bin Hayyam.
“Ini menunjukkan bahwa aktifitas wirid dan spiritual tidak bertentangan dengan aktifitas ilmu pengetahuan. Dan juga kesan bahwa tarekat sasma dengan kumpulannya orang yang tidak berpendidikan bisa juga terhapus,” tandasnya.
Said Agil mencontohkan ada juga seorang sufi yang kaya. Imam al Junaid mendapat tambahan nama al Qowariri dibelakang namnya karena ia memiliki perusahaan pabrik botol, demikian juga Abu Said al Qorros merupakan pengusaha sutra, serta Fariduddin al Attor sebagai pengusaha parfum,
“Jadi dari ini saja diketahui bahwa para sufi juga pengusaha. Syeikh Abu Hasan as Syadzili, pendiri tarekat syadziliyah merupakan orang kaya. Ia bahkan menanggung muridnya yang sebanyak 6000,” tandasnya.
“Ini menunjukkan bahwa tidak benar tasawuf bertentangan dengan aktifitas duniawiyah. Yang penting bagaimana dunia tidak mempengaruhi hatinya, tidak mempengaruhi sikap moralnya, tegasnya.
Kyai-kyai NU zaman dahulu bisa dikatakan sebagai orang yang, Kyai Hasyim As’yari berprofesi sebagai petani yang kaya, Kyai Wahab dari Surabaya, Kyai Ali Maksum dari Jogja, Kyai Ahmad Siddiq dari Jember, semuanya merupakan kyai yang cukup.
Pada tanggal 27-30 Maret Jam’iyyah Ahlut Thariqat al Mu’tabarah An Nahdliyyah akan mengadakan muktamar ke 10 di Pekalongan. Said Aqil mengungkapkan bahwa sebenarnya tarekat merupakan jaringan yang sangat kokoh dan luas di dalam lingkup Nahdlatul Ulama, malah boleh dibilang jaringan ini lebih kokoh dan lebih luas dari pesantren, tetapi tarekat lebih merakyat, lebih egaliter, lebih mengakar dan lebih kokoh.(mkf)
Rabu, 16 Maret 2005 13:57
Jakarta, NU Online
Sebanyak sembilan menteri dan beberapa pejabat tinggi lainnya yang meliputi Kapolri dan jaksa agung dijadwalkan akan mengisi acara dialog dan seminar dalam muktamar Jam’iyyah Ahlith Tarekat al Muktabarah an Nahdliyyah yang ke 10 di Pekalongan Jateng 27 – 30 Maret 2005.
Muktamar dijadwalkan akan dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bertempat di depan pendopo rumah dinas pejabat bupati Pekalongan di Kajen pada tanggal 27 Maret sedangkan penutupan pada tanggal 30 Maret akan ditutup oleh Wapres Jusuf Kalla di Pendopo Lama. Jl. Nusantara Pekalongan.
Walaupun kegiatan muktamar dimulai pada tanggal 27 Maret, tetapi pada tanggal 25 sudah terdapat kegiatan yang meliputi pawai taaruf muktamar yang pesertanya terdiri dari pelajar NU, umum dan masyarakat kota Pekalongan berangkat dari Lapangan Jetayu dan finish di alun-alun kota. Selain itu pada hari yang sama juga dibuka dengan pameran dan bazaar di lapangan Mataram.
Selanjutnya pada hari Sabtu, 26 Maret dimulai daftar ulang peserta di pendopo kabupaten Pekalongan Jl Nusantara dan di Gedung Kanzun Sholawat Jl. Dr. Wahidin. Pada malam harinya dilakukan malam taaruf dan istighotsah qubro bagi peserta muktamar bertempat di masjid jami’ Kauman Pekalongan.
Beberapa menteri yang akan turut mengisi dialog dan seminar adalah Menkopolhukam Widodo AS dengan tema “Peran Tarekat dalam Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Ummat untuk Tetap Tegaknya NKRI,” yang akan berbicara pada tanggal 27 Maret pukul 19.30 – 21.00
Selanjutnya pada hari Senin, 28 Maret terdapat 4 orang menteri yang akan mengisi seminar yaitu Menteri Agama Maftuh Basuni dengan tema “Optimalisasi Peran Agama dalam Mengatasi Permasalahan Kebangsaan,” Menteri Sosial Bachtiar Chamzah dengan tema “Kebijakan Pemerintah dalam Upaya Pemerataan Kesejahtaraan Masyarakat,” Mendagri M. Ma’ruf dengan tema “Pembinaan Aparatur Pemerintah yang Bersih, Berwibawa, Profesional dan Berakhlakul Karimah,” dan Menteri BUMN Soegiharto dengan tema “Amanat Menyampaikan/Pelayanan hajat Hidup Orang Banyak dalam Pemberdayaan Ekonomi Ummat.”
Pada hari Selasa, 29 Maret, sebanyak empat menteri dijadwalkan mengisi seminar lanjutan yang meliputi Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dengan tema “Pendekatan Keagamaan dalam Menciptakan Perdamaian Dunia,” Menteri Pertambangan dan Energi Purnomo Yusgiantoro dengan tema “Pendekatan keagamaan dalam Upaya Melestarikan Lingkungan dan Sumberdaya Alam,” Menko Kesra Alwi Shihab dengan tema “Ahlith Thariqat dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Ummat” dan Mendiknas Bambang Sudibyo dengan tema “Kebijakan Pemerintah dalam Pemberdayaan Pendidikan Nasional yang Berbasis Pada Keimanan, Ketaqwaan dan Akhlaqul Karimah.”
Pada hari Rabu, 30 Maret diadakan dialog dengan Kapolri Dai Bachtiar dengan peran “Peran Ahlith Thariqat dalam Penanggulangan PEKAT” serta dialog dengan Kepala Kejaksaan Agung RI Abdurrahman Saleh dengan tema “Peran Ahlith Thariqat dalam Menegakkan Hukum dan Keadilan di Indonesia.”
Persidangan dalam muktamar akan dibagi dalam lima komisi yang meliputi Komisi Diniyah Thariqiyah, Komisi Fiqhiyah, Komisi Organisasi dan AD/ART, Komisi LPJ dan Program Kerja serta Komisi Rekomendasi dan Tausiyah. Jadual lengkap kegiatan muktamar dapat dilihat di bagian Agenda NU Online.(mkf)
Jumat, 25 Februari 2005 11:25
Jakarta, NU Online
Rombongan Panitia Pelaksana Muktamar Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah ke 10 yang terdiri dari KH Habib Mohammad Lutfi Ali Yahya Pekalongan dan Drs. HM. Chabib Thoha, MA melakukan audiensi dengan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla untuk melaporkan persiapan pelaksanaan muktamar semalam (24/02) di rumah dinas wapres Jl. Diponegoro.
Pertemuan tersebut sekaligus untuk mengundang wapres dalam acara penutupan muktamar yang akan diselenggarakan mulai tanggal 27 Maret – 2 April 2005 yang bertempat di kota Pekalongan Jawa Tengah. Ketua Panitia HM Chabib Thoha mengungkapkan bahwa presiden SBY direncanakan akan membuka pelaksanaan muktamar tersebut.
Kakanwil Depag Jateng tersebut juga mengungkapkan bahwa muktamar kali ini tidak ditempatkan di pesantren dan menyatu dengan masyarakat langsung. Para muktamirin akan ditempatkan di rumah-rumah penduduk. “Sudah 1500 rumah yang bersedia menampung muktamirin dan setiap rumah rata-rata bersedia menampung 5 orang serta 700 mobil yang siap dipinjamkan untuk kepentingan muktamar dari warga Pekalongan dan sekitarnya. Ini merupakan pesta rakyat untuk tarekat” ungkapnya.
Untuk acara-acara persidangan kegiatan resmi muktamar lainnya akan ditempatkan di gedung pemerintahan di Kota Pekalongan, Kab. Pekalongan dan Kab. Batang.
Beberapa kegiatan penunjang juga dilakukan seperti seminar di STAIN Pekalongan dengan tema “Peranan Tarekat dalam Mengatasi Persoalan Bangsa dan Negara.” Untuk memeriahkan acara tersebut juga dilakukan bazaar yang diikuti oleh 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah serta para pengusaha.
“Dalam bazaar ini, panitia tak mengambil keuntungan, tetapi mereka diwajibkan memberikan souvenir tentang tarekat, terserah bentuknya sebagai salah satu bentuk sosialisasi tarekat,” tambahnya.
Selain itu juga terdapat kuis yang bisa diikuti oleh peserta mulai dari SD/MI, SMP/Madrasah Tsanawiyah, SMU/Madrasah Aliyah dan umum.
Peserta muktamar terdiri dari idarah syu’biyah (pengurus cabang), idarah wustho (pengurus wilayah) dan idaroh aliyah (pengurus besar). Saat ini sudah terdapat 170 cabang dan 17 pengurus wilayah yang sudah memiliki SK. “ini menunjukkan bahwa masih banyak warga NU yang belum mengikuti tarekat,” tandasnya.(mkf)
Jumat, 4 Maret 2005 14:21
Jakarta, NU Online
Muktamar Jam’iyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah ke 10 yang akan dilaksanakan pada 27 Maret –2 April 2005 di Pekalongan Jateng akan membahas berbagai persoalan penting dalam komunitas tarekat.
“Salah satu hal penting adalah kemungkinan dibentuknya majelis iftaq untuk menampung musyid dari berbagai aliran tarekat dalam satu cabang karena selama ini dengan hanya melibatkan pengurus struktural, keterlibatan mursyid tersebut kurang maksimal,” tandas Ketua Panitia Muktamar Chabib Thoha kepada NU Online beberapa waktu lalu.
Ditambahkannya bahwa saat ini hubungan antar negara Islam lebih didominasi dengan hubungan yang bersifat politik. Karena itu, ke depan tarekat diharapkan dapat membina hubungan persaudaraan Islam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama.
“Aspek penting lainnya yang mungkin dibicarakan adalah bagaimana menilai kelayakan seorang mursyid, bagaimana silsilahnya, dan faktor lainnya. Hal ini termasuk menyangkut apakah buku-buku tentang tarekat yang dibaca oleh para jamaah sudah benar, bagaimana dengan buku terjemahannya,” tandasnya
Karena sistem hubungan antara guru dan murid yang berbeda dengan organisasi biasanya dimana murid tarekat sangat mematuhi perintah mursyidnya, Chabib Thoha mengungkapkan adanya usulan perubahan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) sebelumnya yang mana anggota lebih banyak menentukan.
Selanjutnya dalam rancangan tata tertib pemilihan ketua, direncanakan tidak dilaksanakan secara langsung oleh cabang, tetapi menggunakan sistem formatur. Terdapat 7 formatur yang dibagi berdasarkan wilayah, yaitu 1 orang mewakili Sumatra, 1 orang untuk Kalimantan, Sulawesi, dan Irian, 1 orang untuk Bali, NTT dan NTB, 1 orang Jawa Timur, 1 orang Jateng dan DIY, 1 orang Jawa Barat, dan 1 orang Banten dan DKI. (mkf)
Selasa, 22 November 2005 19:47
Jakarta, NU Online
Di antara sekian organisasi keislaman hanya NU yang paling gigih menghidupkan amalan tarekat, karena itu sampai saat ini gerakan tarekat menjadi sangat luas, yang itu kemudian dihimpun dalam Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah. Organisasi yang dipimpin KH Habib Luthfi itu kemarin melantik Pengurus Wilayah Thariqah NU Sumatera Barat (Sumbar) periode 2005-2009 yang baru terbentuk.
Pelantikan itu sangat bersejarah karena ditempatkan di makam Syeh Burhanuddin di Ulakan, ulama penyebar Islam Minangkabau abad ke 17, murid dari Syah Kuala dari Aceh. Pemilihan tempat itu ditentukan sendiri oleh Habib Luthfi yang berupaya menyambungkan Tarekat NU dengan guru awalnya yakni Syeh Burhanuddin yang adalah seorang guru besar tarekat yang pengaruhnya menyebar hingga ke Jawa.
Dalam sambutannya Habib Luthfi mengatakan bahwa pengembangan tarekat saat ini disamping memiliki tujuan spiritual, tetapi juga harus dikaitkan dengan upaya membangun mental bangsa. Bangsa ini hanya akan aman dan sejahtera bila dikembangkan melalui perspektif tarekat atau tasawuf, sebagaimana yang pernah dilakukan syekh Burhanudin di masa lalu.
Saat ini tarekat berkembang sangat besar di kalangan masyarakat Sumatera Barat, walaupun paham Wahabi pernah menghancurkan gerakan ini karena dianggap sesat dan khurafat. Ttetapi karena telah melekat di hati masyarakat, maka terus berkembang. Jama'ah tarekat terbesar adalah Naqshabandiyah dan Sattariya, sedangkat tarekat yang lain seperti samaniyah, tijaniah ada tetapi pengikutnya sedikit.
Upaya Nahdlatul ulama yang gigih dalam memperjuangkan eksistensi tarekat itu mendapat simpati dari kelompok lain sehingga tarekat memiliki posisi yang sangat terhormat. Mengingat jasa NU dalam mengelola kelompok tasawuf itu, maka banyak kalangan tarekat dari kelompok lain termasuk dari Perti yang menggabungkan diri dalam thariqat Annahdliyah ini. Mereka yang bergabung bukan awamnya malah dimulai dari para mursyidnya, yang selama ini berafiliasi ke Perti, sehingga sekarang banyak yang menjadi pengurus Thariqah Nahdliyah. Demikian menurut keterangan Bagindo Muhammad Letter Rais Am Idarah Wustho Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah Sumbar kepada NU Online.
Bahkan kegiatan Thariqat itu juga dilanjutkan dengan ziarah ke beberapa makan para wali yang ada di sana seperti ke makam Syeh Abdurrahman Batu hampar, ke makan Syeh Sulaiman Arrasuli dan sebagainya. Mereka itu menurut Habib Luthfi yang memimpin rombongan itu, ibarat Walisongo yang ada di Jawa yang jasanya sangat besar dalam menyebarkan Islam di tanah Sumatera, karena itu selayaknya mereka diziarahi, sebagai bentuk rasa hormat atas jasa mereka.
Selanjutnya dikatakan Bagindo Letter dalam sambutannya bahwa penempatan kegiatan Thariqot NU di Makam Syeh Burhanuddin Ulakan itu, di samping untuk mengenang jasa beliau, juga memang dimaksudkan untuk menjamiyahkan masyarakat thariqat, memang secara kultural mereka adalah ahlussunnah-Nahdliyah, tetapi mereka tidak berorganisasi NU, maka melalui jamiyah thoriqah NU ini mereka secara institusional di NU kan. Dan diluar dugaan mereka secara terbuka menerima ajakan itu, karena mereka merasa difasilitasi dan dilindungi oleh NU. (ltn)
Senin, 11 Agustus 2008 08:21
Jakarta, NU Online Ribuan Jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah mengikuti acara dzikir akbar di halaman gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Ahad (10/8) kemarin.
Para jamaah berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) ditambah jamaah ziarah Wali Songo dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta jamaah tarekat dari Malaysia dan Singapura.
Acara dzikir akbar dimulai dengan doa istighotsah dan kemudian diteruskan dengan membaca surat Yasin. Puncak acara dzikir adalah pembacaan kitab Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani yang dibacakan dengan indah, lalu dilanjutkan tahlil dan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Sedianya acara dzikir akbar Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di Jakarta selalu dipimpin oleh Syeikh KH Asrori Al-Ishaqi namun karena mursyid (guru besar) tarikat ini ini sedang sakit dan dirawat di Surabaya maka pimpinan dzikir diwakilkan kepada KH Hilmi Basaiban.
Ketua Jamaah Alkhidmah Jakarta Yaumi Azhar SH, LLM, mengatakan pada acara dzikir akbar kali ini panitia mengumpulkan 16.000 nasi bungkus dan 600 dus air kemasan dari jamaah Jabodetabek.
Jamaah Alkhidmah adalah organisasi yang menyelenggarakan kegiatan Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di berbagai tempat di Indonesia, Malaysia dan Singapura.
”Kita datang ke sini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dilindungi dan diselamatkan dari segala musibah. Kita di sini tidak berkumpul tanpa membeda-bedakan status sosial,” kata Yaumi Azhar.
Jamaah Alhidmah Jabodetabek tersebarat di 18 wilayah daerah kota dan selalu menyelenggarakan kegiatan dzikir rutin. Di gedung LIPI dan sekitarnya kegiatan dipimpin langsung oleh Prof. DR. Sofyan Tsauri, mantan direktur lembaga ilmu pengetahuan paling bergengsi di Indonesia itu.
Pada kesempatatan itu kepala biro Askesnas Dr. Sukanta mewakili Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, pembangunan yang dilakukan di Jakarta tidak hanya meliputi bangunan fisik dan material, tetapi juga mental dan spiritual.
”Warga DKI hendaknya memahami program yang dicanangkan oleh pemerintah DKI dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dzikir seperti ini,” katanya. (nam)
Rabu, 25 Juni 2008 14:31
Jakarta, NU Online
Jamiyyah Ahlut Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah atau biasa disingkat Jatman ternyata merupakan satu-satunya organisasi yang bisa menyatukan tarekat di dunia. Di negara-negara lain, tarekat berdiri sendiri-sendiri berdasarkan aliran yang dianutnya.
Demikian dikatakan oleh KH Yusuf Khumaidi kepada NU Online ditengah-tengah persiapan penyelenggaraan Munas Jatman yang akan diselenggarakan pada 26-28 Juni di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.
“Para ulama dari Marokko dan Tunisia pada bertanya, kok bisa menyatukan Naqsabandiyah dan Tijaniyah. Disana semuanya berdiri sendiri-sendiri,” katanya.
Keberadaan Jatman ini menurutnya telah menginspirasi para penganut tarekat di sejumlah negara Timur Tengah untuk membuat organisasi yang sama. Mereka telah bertemu dengan Rais Aam Jatman Habib Lutfi bin Ali bin Yahya untuk mengetahui konsep pengorganisasian jamaah tarekat.
“Kita juga berupaya mengembangkan jaringan ini ke luar negeri yang akan dibahas dalam munas ini,” ujarnya.
Tarekat yang tergabung dalam Jatman meliputi tarekat muktabarah yang mencakup sebanyak 40 aliran tarekat yang para mursyidnya memiliki garis keturunan dengan rasulullah. Tarekat ini dianggap sesuai dengan ajaran Islam, bukan merupakan aliran sinkretisme dengan budaya lokal. (mkf)
Kamis, 31 Maret 2005 10:22
Pekalongan, NU Online
Jika di andaikan sebuah rumah, maka Thariqat adalah pondasi paling bawah yang menjadi dasar bangunan besar Nahdlatul ulama. Kemudian pesantren, di lapis kedua, Nahdlatul ulama di lapis ketiga dan PKB mungkin di lapis paling atas dari struktur bangunan organisasi kemasyarakatan NU. "Karena masuknya Islam ke bumi Nusantara, diawali dengan masuknya thariqat, jadi thariqat adalah peletak dasar bangunan NU. Kekuatan inilah yang menjadikan NU mengakar di tengah-tengah jama'ah dan jamiyyahnya," demikian diungkapkan Ro'is A'am Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'Tabarah An Nahdliyah, KH. Habib Luthfiy Ali bin Yahya kepada NU Online di sela-sela Muktamar X badan otonom NU ini di Pekalongan, Selasa, (29/3) lalu.
Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa agama Islam di berbagai belahan dunia berkembang berkat jasa para ulama yang kemudian dikenal sebagai Wali Allah, seperti di India, Afrika Utara dan Afrika Selatan bahkan di Indonesia. Di Aceh terkenal dengan serambi Mekkah, suatu gelar yang diberikan untuk menggambarkan betapa pesatnya kemajuan Ilmu-ilmu Islam di daerah itu, seperti Syekh Nuruddin Ar Raniri, Syekh Abdurrauf Singkly, Syekh Syamsuddin Sumatrani, dan masih banyak lagi; sebagai orang-orang yang sangat berjasa dalam pengembangan Islam di sana. Demikian pula di Jawa, terkenal dengan Walisongonya sebagai ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam. Dan masih banyak lagi yang dapat disebutkan hanya untuk menjelaskan bahwa ulama-ulama tasawuflah yang banyak jasa dan pengorbanannya dalam pengembangan Islam di dunia. Karena dimanapun tempat mereka berada, walaupun berbeda adat dan budaya maupun bahasa mereka berbaur dengan masyarakat dengan hati dan jiwa suci sehingga dengan mudahlah ajaran Allah dan RasulNya difahami.
"Jadi sufisme atau dalam Islam diberi nama tasawuf , bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Intisari sufisme, adalah kesadaran akan adanya komunikasi rohaniah antara manusia dengan Tuhan lewat jalan kontemplasi. Jalan kontemplasi tersebut, dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tarekat," urai habib yang memiliki puluhan ribu jama'aah ini.
Tarekat, lanjutnya secara harfiah berarti jalan atau cara untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqamat) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tarekat sebagai sebuah jalan, dalam dunia tasawuf, banyak muncul pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriyah, yaitu ketika tasawuf menempati posisi penting dalam kehidupan umat Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, tarekat menjadi semacam organisasi yang kegiatannya tidak hanya terbatas pada wirid, zikir, tetapi pada masalah-masalah yang bersifat duniawi.
Dalam tasawuf, jumlah tarekat sangat banyak, tetapi kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi dua jenis, yaitu tarekat mu'tabar (thariqah yang mutashil (tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad SAW), dan tarekat ghairu mu'tabar (thoriqoh yang munfashil (tidak tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad. Untuk menghindari penyimpangan sufisme dari garis lurus yang diletakkan para sufi terdahulu, maka NU meletakkan dasar-dasar tasawuf sesuai dengan khittah ahlissunnah waljamaah. Dalam hal ini, NU membina keselarasan tasawuf Al-Ghazali dengan tauhid Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, serta hukum fikih sesuai dengan salah satu dari empat mazhab sunni.
Dalam kerangka inilah, Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) dibentuk, yaitu untuk memberikan sebuah rambu-rambu kepada masyarakat tentang tarekat yang mu'tabar dan ghairu mu'tabar. Dari segi organisasi, Jatman secara de facto berdiri pada bulan Rajab 1399 H, bertepatan dengan Juni 1979 M. Tetapi, sebelum terbentuk Jatman, bibit organisasi tersebut telah lahir, yaitu Jam'iyyah Thariqah Al-Mu'tabarah. Kelahiran Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah tidak dapat dilepaskan dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-26 di Semarang. Tetapi, apabila dilihat dari segi ilmu dan amaliahnya, maka tarekat sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa agama Islam ke muka bumi. Nabi Muhammad menerima baiat dari malaikat Jibril, dan Jibril menerima dari Allah SWT.
Lebih jauh di jelaskan Habib Luthfi, sebelum terbentuk Jatman, ulama-ulama Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan aktif di dunia tarekat telah membentuk organisasi tarekat, dengan nama Jam'iyyah Thariqah Al Mutabarah. Pembentukan organisasi ini sebagai wadah untuk menetapkan tarekat-tarekat yang mu'tabar dan ghairu mu'tabar, sehingga umat Islam tidak terjebak dan salah dalam mengamalkan tarekat. Pembentukan organisasi ini sebagai langkah untuk menghindari gesekan atau perpecahan di tingkat grass root, akibat sikap fanatik yang berlebih-lebihan terhadap tarekat yang dianutnya. Hal ini dikarenakan kecenderungan pengikut suatu ajaran tarekat, dalam melakukan klaim kebenaran ajaran tarekat yang diikutinya.
Jam'iyyah Thariqah AI Mu'tabarah didirikan oleh beberapa tokoh NU, antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, Dr KH ldham Chalid, KH Masykur serta KH Muslih. Dengan tujuan awal untuk mengusahakan berlakunya syar'iat Islam dhahir-batin dengan berhaluan ahlussunnah wal jamaah yang berpegang salah satu dari mazhab empat, mempergiat dan meningkatkan amal saleh dhahir-batin menurut ajaran ulama saleh dengan baiah shohihah; serta mengadakan dan menyelenggarakan pengajian khususi/ tawajujuhan (majalasatudzzikri dan nasril ulumunafi'ah).
Jam'iyyah Thariqah Al Mu'tabarah pertama kali melakukan muktamar pada tanggal 20 Rajab 1377 atau bertepatan dengan 10 Oktober 1957 di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang. Muktamar pertama diprakarsai oleh beberapa ulama dari Magelang dan sekitarnya, seperti KH Chudlori, KH Dalhar, KH Siradj, serta KH Hamid Kajoran. Pada muktamar pertama mengamanatkan kepada KH Muslih Abdurrahman dari Mranggen, Demak, sebagai rais aam. Pada muktamar pertam
PERUBAHAN di pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya, Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987). Ia menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial.
Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).
Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.
Namun, dalam waktu yang panjang, perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam desertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Desertasi ini diujikan pada akhir Agustus 2008 lalu.
Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Desertasi yang diujikan 20/9/08 lalu itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.
Dua pesantren yang distudi desertasi ini termasuk pesantren tua, yakni Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama�ah (aswaja).
Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.
Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi ke dua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.
Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama�ah tablig dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.
Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PC NU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PC NU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu. Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangkan majlis tablig. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tablig dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.
Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain
PEKALONGAN-KH Habib Luthfiy Ali bin Yahya dari Pekalongan kembali terpilih sebagai Rois Am Jamiyyah Ahlith Thariqah Almutabarah An Nahdliyyah masa hidmat 2005-2010, setelah anggota formatur sepakat memilih ulama karismatik asal Pekalongan tersebut.
Melalui rapat tertutup, anggota formatur yang terdiri atas Habib Luthfiy Ali bin Yahya (Rois Am 2000-2005), KH Drs Toha Abdurrahman (Pjs Mudir Am 2000-2005), KH Muhammad Assegaf (Sumatera), KH M Lukman Hakim (DKI dan Banten), KH Asep Burhanudin (Jawa Barat), KH R Muhaiminan Gunardho (Jawa Tengah dan DIY), KH Abdullah Sajad (Jawa Timur), H Amin (Bali/ NTT), KH Djaelani Abin Dullah LC (Kalimantan/ Sulawesi/ Maluku/ Irian), berhasil menyusun Idaratul Aliyah masa hidmat 2005-2010 dan mempercayakan posisi Rois Am kepada Habib Luthfiy.
Penetapan susunan Idaratul Aliyah diumumkan bersamaan dengan acara penutupan muktamar yang dihadiri oleh ribuan warga Pekalongan dan sekitarnya. Rois Am terpilih Habib Luthfiy menjelaskan, terpilihnya dia menjadi Rois Am menimbulkan tanda tanya dalam hatinya, mampukah ahli thariqah menjadi teladan bagi bangsa?
Namun semua itu, kata dia, merupakan pemberian dan anugerah yang diberikan Allah dan bukan merupakan kebanggaan. Agar bisa menjalankan tugas dengan baik, Habib minta dukungan dari jam'iyyah ahlith thariqah. Sehingga thariqah diharapkan bisa menjadi perekat umat dan bangsa. ''Ahli tharigah akan berdiri di belakang pemerintah dalam negara kesatuan RI,''ujarnya.
Mengenai perkembangan Jatman, lanjut dia, setelah dilakukan sosialisasi selama lima tahun, ternyata berkembang pesat. Semula hanya berada pada tiga provinsi, namun kini sudah berkembang menjadi 36 provinsi dan lebih dari 300 syu'biyah.
''Di pundak bapak-bapak, merupakan amanat besar. Mampukah kita bisa menjawab tantangan ke depan, baik ditinjau dari segi ekonomi maupun segi lainnya? Semoga saja perkembangan semua itu tidak memalukan bagi ulama, kiai, nenek-nenek kita dan bangsa Indonesia,'' katanya Kepentingan Sesaat Rois Am PBNU KH Sahal Mahfudz menyerukan pesan kepada para ahlith thariqah agar tidak mudah diiming-imingi oleh kepentingan sesaat. Perubahan besar baru saja terjadi. Ditandai dengan pemilihan presiden secara langsung yang dilanjutkan dengan pemilihan kepala daerah. ''Tidak mustahil kepentingan sesaat akan mendekati organisasi yang punya massa besar, salah satunya jamiyyah ahlith thariqah,'' tandasnya.
Jamaah thariqah di tengah bangsa ini, kata dia, sangat penting dan berperan untuk mengembalikan identitas bangsa ini menjadi bangsa yang bermoral, menyusul munculnya berbagai macam krisis, terutama krisis identitas. ''Tugas dari ahli thariqah adalah menata batin, sehingga kedudukannya sangat penting,''ujarnya
Sementara itu, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Menteri Agama Maftuh Basyuni, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, menutup muktamar adalah mudah, namun setelah itu pekerjaan sebenarnya baru saja dimulai, yakni melaksanakan semua keputusan muktamar yang merupakan amanat jamiyyah.
Setelah secara resmi Menteri Agama menutup acara muktamar, ribuan muktamirin langsung menyerbu Habib Luthfiy untuk memberikan ucapan selamat sambil bersama-sama mengucapkan shawalat. Petugas keamanan yang menjaga pagar betis pun kewalahan dan tidak bisa mengendalikan gelombang muktamirin yang ingin menyalami. Habib Luthfiy pun dengan sabar menyalami muktamirin yang ingin mengucapkan selamat.
Selain dihadiri oleh para kiai, penutupan muktamar juga dihadiri oleh beberapa pejabat di Pemkab dan Pemkot Pekalongan di antaranya Wakil Gubernur Drs H Ali Mufiz MPA, (G16, A15-58t)
Susunan inti Idaratul Aliyyah Masa Khidmad 2005-2010
Rais Aam : KH Habib M Luthfiy Ali bin Yahya
Wakil Rais Aam : KH Abdul Wahab Hafidl
Katib Aam : KH A Zaini Mawardi
Wakil Katib Aam : Said Latif Luthfi Hakim
Mudir Aam : KH Muhaiminan Gunardho
Wakil Mudir Aam : KH Drs Thoha Abdurrahman
Sekjen : Drs HM Chabib Thoha
Wakil Sekjen : KH M Masroni
Aminus Sunduk Aam : HM Bambang Irianto
Wakil Aminus Sunduk Aam : H Jhony Abdullah
HARI ini, rencananya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka Muktamar X Jam'iyyah Ahli Thariqah Al Mu'Tabarah An Nahdliyah (Jatman) di Kajen, Kabupaten Pekalongan. Untuk kali ketiga, Pekalongan menjadi tuan rumah pelaksanaan Muktamar Jatman setelah suskes menggelar Muktamar IX pada Maret 2000 lalu dan Muktamar kedua 1959.
Pada muktamar IX, KH Habib M Luthfi Ali bin Yahya terpilih sebagai Rais Am. Terpilihnya Habib Luthfi sebagai Rais Am, sedikit banyak telah memengaruhi peningkatan aktivitas Jamaah Thariqah di Pekalongan dan sekitarnya.
Inti dari ajaran Thariqah adalah menjalankan atau melaksanakan agama Islam secara benar, penuh kehati-hatian, menjauhi atau meninggalkan syubhat, serta melaksanakan keutamaan sesudah melaksanakan ibadah wajib, seperti shalat tahajud dan rawatib.
Selain itu, Thariqah juga mengajarkan untuk bersungguh-sugguh mengerjakan ibadah dan riyadah ,seperti puasa Senin-Kamis, aktif membaca Alquran, membaca selawat, zikir, dan istighfar.
Pembentukan organisasi Thariqah, merupakan respons ulama terhadap persoalan kehidupan umat Islam yang menyangkut kehidupan batiniah. Cara yang ditempuh untuk membantu umat, adalah dengan mendirikan organisasi Thariqah sebagai wadah mendekatkan diri kepada Allah lewat zikir, tahlil, selawat, serta berbagai amaliyah lainnya.
Jatman yang pada mulanya masih bernama Jam'iyyah Thariqah Al Mu'tabarah, kali pertama melakukan muktamar pada 10 Oktober 1957, di Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Muktamar tersebut diprakarsai oleh beberapa ulama Magelang; yaitu KH Chudlori, KH Dalhar, KH Siradj, dan KH Hamid Kajoran.
Bersamaan dengan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-26 di Semarang pada 1979, beberapa ulama -dengan diprakarsai oleh KH Muslih Abdul Rahman, KH Turaichan Adjhuri, dan KH Adan Ali- mengusulkan untuk memberikan tambahan nama An Nahdliyah, sehingga organisasi tersebut berganti nama menjadi Jam'iyyah Ahli Thariqah Al Mu'Tabarah An Nahdliyyah, yang kemudian disingkat Jatman, dengan alasan agar jamaah Thariqah tetap pada satu posisi dengan ajaran ahlussunnah wal jamaah.
Beberapa ulama yang mendirikan Jatman adalah KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Idham Cholid, KH Masykur, dan KH Muslih Abdul Rahman.
Penambahan nama An Nahdliyah, secara tidak langsung juga telah membatasi diri pada sebuah ikatan ideologi organisasi, yaitu ideologi organisasi NU. Hidup dalam Kultur Pada perjalanannya, Jatman lebih terlihat hidup dalam kultur dibandingkan dengan struktur. Apalagi, orang-orang thariqah atau tasawuf cenderung tidak tertarik dengan urusan struktur.
Tidak heran, jika permasalahan seputar penataan organisasi, masih mendominasi permasalahan di tiap muktamar. Berturut-turut dari Muktamar II di Pekalongan (1959); Muktamar III di Tulungagung, JawaTimur (1962); Muktamar IV di Semarang, Jateng (1968); Muktamar V di Madiun, Jawa Timur (1979); Muktamar VI di Probolinggo, Jatim (1984); Muktamar VII di Mranggen, Demak, Jateng (1989); Muktamar VIII di Pasuruan, Jatim (1995), dan Muktamar IX di Pekalongan, Jateng (2000).
Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, berbagai friksi, gesekan, dan perdebatan di Jatman muncul di beberapa muktamar. Seperti dalam Muktamar V di Madiun Jatim (1979), muncul gesekan akibat politisasi dari pemerintahan Orde Baru yang mencoba untuk masuk ke organisasi itu setelah memberlakukan fusi partai.
Akibat politisasi dari pemerintah waktu itu, terjadilah penyeberangan beberapa jamiyah thariqah. Itulah, salah satu sebab hingga kemudian muncul penambahan nama An Nahdliyyah untuk menyatukan Jamiyah Thariqah.
Dalam Muktamar VI di Probolinggo, Jatim, muncul wacana pemisahan Jatman dari NU. Namun kemudian, dalam musyawarah kubro dihasilkan keputusan bahwa Jatman tidak pernah mengeluarkan satu kalimat pun yang menyatakan keluar dari tubuh NU.
Dalam perjalanan selanjutnya, Jatman sebagai sebuah organisasi sudah mulai mapan hingga wacananya bergeser ke arah bagaimana jamiyah thariqah bisa menjadi tawaran solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
Hal itu, bisa dilihat dari tema besar pelaksanaan Muktamar X kali ini, yaitu ''Reaktualisasi ajaran Thariqah Al Mu'tabarah dalam membantu menyelesaikan persoalan bangsa dan negara".
Ketua panitia pelaksana, KH Drs Muhammad Chabib Thoha MA, kepada wartawan menandaskan, Jamiyah Thariqah memiliki konsep membangun generasi bangsa dengan memberikan fondasi jiwa atau rohani, perbaikan akhlak, keimanan, ketakwaan, dan ilmu pengetahuan, untuk kemudian melakukan pembangunan fisik. ''Oleh karena itu, di samping memiliki komitmen untuk meningkatan hubungan kepada Allah, juga memiliki kepedulian untuk menyelesaikan masalah umat,'' ujarnya.
Berbagai permasalahan bangsa, akan dibahas dalam sidang pleno oleh para muktamirin; di antaranya tentang persoalan pembinaan persatuan umat dalam kerangka NKRI, kesejahteraan masyarakat, pembinaan aparatur pemerintahan yang bersih. Hasil Muktamar X, akan sangat menentukan peranan organisasi. (Muhammad Burhan, Trias Purwadi-81a) Jadwal Kegiatan hari ini: 09.00 -11.00 : Pembukaan muktamar oleh Presiden di Pendopo Kab Kajen 11.00 -12.30 : Sidang Pleno I, pembahasan tatib di eks Pendopo Kab di Kota Pekalongan 19.00 - 20.30 : Dialog dengan Menkopolhukam, Widodo AS di eks Pendopo Kab di Kota Pekalongan 20.45 - 22.15 : Dialog dengan Menag HM Baftuh Basyuni SH MA di eks Pendopo Kab di Kota Pekalongan.(81a)
SM Jumat, 6 September 2002SEMARANG-Sebanyak sembilan kiai khos dari berbagai daerah di Jateng, semalam memimpin doa mujahadah di lokasi pembangunan Masjid Agung Jateng. Sembilan kiai membaca doa secara bergantian diawali KH Habib Luthfi Bin Yahya dari Pekalongan. Dilanjutkan KH Musyafa Achmad dari Demak, KH Maemun Zubair dari Sarang Rembang, KH Abdul Rozaq Rembang, KH Muhammad Hidayat dari Purwokerto Banyumas, KH Habib Ali AlHabsyi dari Pemalang, KHM Amin Sholeh MC dari Jepara dan KH Wildan Abdul Hamid dari Kendal.
Ribuan umat Islam yang duduk lesehan di atas tikar secara koor mengamini doa tersebut. Sebelumnya, jamaah yang sudah duduk sejak bakda Maghrib, dengan khusyuk mengikuti hataman Alquran yang dipimpin KH Turmudzi Taslim AlHafidz pengasuh pesantren Raudlatul Quran Kauman Semarang dan KH Harir Muhammad AlHafidz pengasuh Pesantren Bustan Usyaqil Quran (BUQ) Demak. Semaan Alqurannya sendiri dilakukan oleh seratus hafiz (penghafal Alquran) dari berbagai daerah dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.
Sayangnya, semaan Alquran tersebut tidak banyak diikuti oleh umat Islam.
Jamaah juga mengikuti bacaan Istighotsah Asmaul Husna dipimpin KH Drs Amjad AlHafidz BSc dan KH Baidlowi Syamsuri pengasuh pesantren Sirojuth Tholibin,Brabu, Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.
Yang menarik, pada saat upacara pembukaan hataman, pembacaan Alquran tidak dilakukan oleh qari yang sudah dipersiapkan panitia. Melainkan oleh Menag Prof Dr H Said Agil Husin Al-Munawar sendiri. Sambil duduk, Menag yang memang seorang hafiz dan pernah menjadi qari terbaik internasional, dengan merdu dan syahdu melantunkan ayat suci Alquran secara hafalan.
Disamping kirinya Gubernur Jateng H Mardiyanto mendengarkan dengan khusyuk. Sedang disamping kanannya Dirjen Kelembagaan Islam Dr H Qodry A Azizy dan Kakanwil Depag Drs HM Chabib Thoha MA.
Hampir semua pejabat Pemprov semalam hadir mengikuti mujahadah dan istighotsah tersebut. Mulai dari Wagub II H Djoko Sudantoko S.Sos MM, Wagub III Ir H Mulyadi Widodo, Sekda Mardjijono SH, Kepala Badan Kesbanglinmas HS Prayitno, Asisten II Ir Suwito, Asisten III Drs Suprapto Sudarto, Karo Umum Drs H Sumantoro, Karo Kesra Drs H Suwarto Nasucha, Kepala BIKK Drs H Anwar Cholil, para kepala badan dan dinas. Mereka semuanya larut dalam bacaan doa istighotsah dan mujahadah sambil menyimak tuntunan doa yang digandakan oleh panitia. Didengar Allah Menag dalam sambutannya menyambut baik berbagai kegiatan spiritual yang dilakukan umat Islam sebelum mengawali pembangunan Masjid Agung Jateng pagi ini. "Apalagi doa-doanya di-pimpin oleh para kiai, habaib dan ulama dengan bacaan mujahadah dan istighotsah. Allah subhanahu wataala pasti mendengarnya," katanya.
Tentang besarnya biaya pembangunan masjid, Menag minta umat Islam Kota Semarang tidak terlalu merisaukannya. "Kalau tiang sudah ditancapkan dan bangunan sudah mulai kelihatan, Insya Allah semuanya akan berjalan dengan lancar. Tidak pembangunan masjid di dunia yang tidak selesai. Allah pasti akan memberikan kemudahan," tegasnya.
Gubernur Jateng H Mardiyanto mengatakan, pembangunan Masjid Agung Jateng berawal ungkapan syukur Takmir Masjid Besar Kauman Semarang atas kembalinya tanah wakaf banda masjid tersebut, setelah dalam masa panjang menjadi polemik dan sengketa yang rumit. (B13-60)
SEMARANG - KH Habib Lutfi bin Ali Yahya dan Prof Dr H Ahmad Rofiq MA terpilih kembali menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah periode 2005-2010.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda, Sirampog, Bumiayu, Brebes, KH Masruri Mughni, yang semula juga dijagokan, menyatakan tidak bersedia karena berkonsentrasi sebagai Rois Syuriyah PWNU Jateng. Habib Lutfi sebelumnya menjadi ketua umum antarwaktu menggantikan KH M Amin Sholeh yang meninggal dunia.
Pemilihan dilakukan oleh tim formatur dalam Musda VII di Masjid Agung Jawa Tengah, Minggu kemarin. Tim formatur terdiri atas Kakanwil Depag Drs H Masyhudi MM (Ketua Dewan Penasihat), KH Habib Lutfi bin Ali Yahya (Ketua Umum lama), dan Drs KH Ahmad Darodji MSi (unsur panitia pengarah).
KH Abdul Mujib Sholeh (Karesidenan Pati), KH Habibullah Idris (Kedu), Drs KH Abdul Karim Assalawi (Karesidenan Semarang), KH Khoiruddin (Karesidenan Banyumas), KH Habib Ihsanuddin (Surakarta), dan KH Humaidi (Pekalongan).
''Di MUI memang berbeda dari ormas atau partai politik. Kalau di ormas atau parpol pada rebutan jabatan, kalau di MUI rebutan tidak bersedia dengan alasan kemampuan. Semangat inilah yang menyebabkan ukhuwah tetap terjalin dengan baik, tidak pernah ada masalah ketika menyusun pengurus,'' tutur Drs H Noor Achmad MA, Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang, yang menjadi peserta musda.
Dari 17 orang pengurus harian yang terpilih sebagian besar adalah wajah lama. Yang baru antara lain Drs Marpuji Ali (Ketua PW Muhammadiyah Jateng), KH Habibullah Idris (Wonosobo), Drs H Ibnu Djarir dan Dr H Abu Hapsin Umar MA di jajaran ketua.
Di jajaran sekretaris hanya satu wajah baru, yaitu Drs H Suroso MSi (Kabid Urusan Haji Kanwil Depag Jateng), sedangkan di jajaran bendahara masuknya Pengusaha Tailor Eka Karya dan pengusaha Tionghoa Muslim H Gautama Setiadi memperkuat bendahara umum yang dipegang bos CV Aneka Ilmu H Suwanto SE MM. Wagub Ali Mufiz mewakili Gubernur ketika menutup musda mengingatkan arti penting lembaga tersebut dalam membangun khaira ummah. (B13,mhr-60t)
BANJARNEGARA- Musyawarah Idaroh Wustho Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Jawa Tengah, Sabtu-Minggu (30-31/7), di Pesantren Al Fatah Banjarnegara, lancar. Sedikitnya 750 kiai dari seluruh idaroh syu'biyyah di Jawa Tengah mengikuti semua agenda acara dengan khidmat.
Acara yang dimulai Sabtu (30/7) pukul 21.00 itu diawali serangkaian sambutan dari pengasuh Pesantren Al Fatah Banjarnegara KH Hasyim Hasan, Mudir Idaroh Wustho Jateng KH Dzikron Abdulloh, PWNU Jateng KH Masruri Mughni, dan Mudir Aam Idaroh Aliyah KH Muhaiminan G.
Tampak pula pada acara pembukaan, Bupati Banjarnegara Djasri MT dan Kepala Bakorlin III Tjipto Hartono mewakili Gubernur Jateng. Ketua Idaroh Aliyah KH Habib M Luthfi bin Ali bin Yahya baru datang menjelang tengah malam. Kedatangannya mendapat sambutan antusias dari jamaah yang telah lama menunggunya.
KH Habib M Luthfi bin Ali bin Yahya sempat pula melantik pengurus Idaroh Syu'biyyah Kabupaten Banjarnegara. Dia berpesan kepada semua pengurus untuk bekerja sama dengan baik. Sebelumnya telah diserahkan satu unit mobil Daihatsu Xenia untuk mendukung kelancaran operasional Idaroh Wustho Jateng.
Pembukaan musyawarah Idaroh Wustho juga disertai dengan pengajian umum dan Manaqib Kubro atau pembacaan riwayat hidup para ulama. Selanjutnya dirangkai dengan istighotsah atau doa bersama untuk perdamaian umat manusia. Pengajian umum disampaikan oleh KH Drs Chisnullah Abdurrahiem dan KH Habib M Luthfi bin Ali bin Yahya. Adapun istighotsah dan manaqib kubro dipandu oleh KH Latif Mastur, KH Zaini Mawardi, KH Ulin Nuha Arwani, KH Salman Dahlawi, KH A Chalwani N, KH Hasyim Hadi, dan KH Rozaq. Banyak Masukan Agenda hari kedua musyawarah yang berlangsung pagi hari adalah pembahasan program kerja oleh Komisi B, pembahasan masalah-masalah dalam masyarakat (bahtsul masail) oleh Komisi A, dan rapat formatur untuk menentukan pengurus Idaroh Wustho Jateng masa khidmat 2005-2010.
Pembahasan program kerja oleh Komisi B lancar dan menarik. Sebab, delegasi dari setiap Idaroh Syu'biyyah memberikan apresiasi baik dengan saran maupun berbagai pertanyaan. Di antaranya adalah usulan untuk dibentuk forum tersendiri guna koordinasi ke bawah di luar Istighotsah dan manaqib kubro.
Usulan lainnya yang sempat terhimpun adalah segera dilakukan perbaikan organisasi atau reorganisasi, terutama di tingkat Idaroh Syu'biyyah. Sebab, beberapa kabupaten sedang mengalami masalah dalam organisasi.
Salah satunya, Kebumen. Harapannya, setelah kepengurusan Idaroh Wustho terbentuk dan dilantik, segera melakukan perbaikan di Idaroh Syu'biyyah (kabupaten).
Sidang Komisi B itu lancar dan singkat. Hanya dengan waktu sekitar satu setengah jam, rancangan program kerja yang terdiri atas empat bidang, yakni organisasi, pengembangan, konsolidasi keanggotaan, dan keuangan, tidak mengalami banyak perubahan.
Pembahasan masalah-masalah di masyarakat oleh Komisi A di Masjid Al Fatah hanya mengenai dua hal, dari tiga yang diagendakan. Dua masalah tersebut adalah hukum penyembelihan hewan yang terlebih dahulu dibius sebelum disembelih serta hukum daging dalam kaleng yang pemotongannya tidak diketahui.
Sidang Komisi A yang dipimpin oleh KH Ahmad Kholil dari Jepara memutuskan, hukum penyembelihan hewan yang terlebih dahulu dibius adalah haram. Adapun hukum daging dalam kaleng yang tidak diketahui pemotongannya adalah haram, bila tidak diketahui yang menyembelih muslim atau bukan. Kecuali di daerah yang banyak muslimnya.
Menjelang shalat zuhur, Musyawarah Idaroh Wustho Jatman Jawa Tengah ditutup dengan pengumuman pengurus Idaroh Wustho masa khidmat 2005-2010. Dalam rapat formatur di kediaman KH Hasyim Hasan Fattah itu akhirnya KH Dzikron Abdulloh terpilih kembali menjadi Mudir Idaroh Wustho Jatman Jawa Tengah masa khidmat lima tahun ke depan. Sekretarisnya adalah KH Sya'roni dan Aminus Sunduq Dr dr Habib Ahmad Syakir.
Duduk di jajaran Ifadliyah adalah KH Latif Mastur Ihsan sebagai rois, KH Hasyim Hasan Fattah sebagai rois awal, dan KH Choironi sebagai katib.(mos-41t)
BANDA ACEH - Aceh merupakan poros utama peradaban Islam di Indonesia. Buktinya, banyak karya intelektual dari sini tersebar ke berbagai daerah di nusantara serta berbagai penjuru dunia. Hal ini dikatakan Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, saat mempresentasikan makalahnya pada Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-5 di Gedung Activity Academic Centre (AAC) Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Senin (10/8).
Ia mengatakan, identitas Aceh sebagai poros utama tradisi intelektual Islam Indonesia terletak pada kebesaran ulamanya. Karya ulama Aceh disusun dalam database naskah Islam Indonesia. Oman mengatakan, pada tahun 2008, Puslitbang Lektur Keagamaan dan PPIM UIN Jakarta menyusun database tersebut. Tujuannya, untuk memberikan informasi pentingnya tradisi intelektual Islam Indonesia pada dunia. Salah satu karya intelektual yang menyebarkan tradisi peradaban Islam yakni Tarekat Syattariyah. Tarekat dimaksud disusun ulama Aceh oleh Syaikh Abd al-Ra’uf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri (1615-1693), atau lebih dikenal dengan Abdurrauf al-Singkili atau Syiah Kuala. Tarekat Syattariyah itu kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Penyebarannya dilakukan dua murid utama Syaikh al-Singkili yaitu, Syaikh Burhan al-Din Ulakan dari Minangkabau dan Syaikh Abd al-Musyi dari Pamijahan, Jawa Barat. Tarekat ini berupa kumpulan naskah kuno. Sebagian tersimpan cukup baik di lembaga-lembaga. Tapi, sebagian lagi tercecer tanpa perawatan di tangan masyarakat. “Karya-karya ulama Aceh masa lalu tersebu saat kini terabadikan dalam naskah kuno tulisan tangan,” imbuhnya. Karena dimakan usia, naskah kuno itu telah berubah menjadi benda cagar budaya bangsa Indonesia.
Ia menyimpulkan, naskah-naskah kuno tersebut menyimpan identitas budaya dan kejayaan Aceh masa lalu. Tapi, dia menyesalkan banyaknya naskah kuno yang terabaikan keberadaannya. Bahkan, ada yang telah dimakan rayap, terutama yang tersimpan di tangan-tangan masyarakat. “Jika kelak khazanah naskah kuno tersebut musnah sama sekali, niscaya bukan hanya masyarakat Aceh yang kehilangan salah satu identitas budaya dan mata rantai masa lalunya. Namun juga, bangsa Indonesia secara keseluruhan,” kata Oman seraya menyarankan semua pihak untuk segera melakukan upaya pemeliharaan, pelestarian, dan penelitian naskah-naskah kuno tersebut.
Sumber inspirasi
Sebelumnya, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, mengatakan, dalam budaya Aceh, meunasah dan masjid adalah sumber inspirasi yang berkembang dalam teritorial gampong dan mukim. Meunasah sebagai pencerminan pembangunan ‘nilai-nilai adat’ dan masjid sebagai pencerminan pembangunan ‘nilai-nilai islami’. “Integrasi kedua nilai inilah melahirkan nilai primer adat antara lain aqidah islami, persatuan dan kesatuan, serta keteladanan,” ujar Wagub saat membuka seminar budaya tersebut.
Di samping itu, lanjut Nazar, budaya Aceh penuh nilai-nilai dan semangat untuk damai seperti yang pernah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Aceh masa lalu. Bahkan, kata Wagub, penyelesaian sengketa juga menjadi arena bagi adat untuk menjalankan perannya. “Banyak kasus dalam masyarakat yang diselesaikan secara adat,” katanya seraya menyatakan upaya Pemerintah Aceh menghadirkan qanun tentang perangkat gampong juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Aceh.
Ia mengatakan, dengan sikap perilaku nilai-nilai budaya adat maka setidaknya memberi kejelasan kepada kita bahwa peranan lembaga-lembaga adat dan fungsionaris adat merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pembinaan kultur dan struktur budaya Aceh. Ia mengharapkan hasil dari seminar itu akan jadi pijakan bagai Pemerintah Aceh dalam upaya melestarikan budaya Aceh dari sekarang hingga masa yang akan datang.
Kunjungi
Usai membuka seminar budaya yang akan berlangsung hingga hari ini, Wagub mengunjungi Meseum Aceh serta Pustaka dan Meseum Ali Hasjmy. Di Meseum Aceh, Wagub Nazar melihat berbagai literatur Islam dan budaya Aceh yang dipamerkan dalam rangka PKA Ke-5 seperti kitab-kitab kuno dan barang-barang peninggalan Kerajaan Aceh masa dulu. Hal yang sama juga dilakukan Wagub juga melihat berbagai naskah, kitab, dan benda-benda bersejarah lainnya hasil koleksi pribadi almarhum Ali Hasjmy.
Disela-sela kunjungan ke Pustaka dan Meseum Ali Hasjmy yang berada di Jalan Sudirman Banda Aceh, Wagub kepada wartawan mengatakan, meseum dan pustaka merupakan tempat penting untuk melestarikan adat dan budaya. Karena itu, ia mengimbau semua lapisan masyarakat Aceh untuk membangkitkan kembali budaya mengunjungi meseum dan pustaka. Dengan begitu, masyarakat terutama generasi muda juga akan tahu bagaimana adat dan kebudayaan Aceh masa dulu untuk ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari.(aza/jal)