Showing posts with label Urban Sufism. Show all posts
Showing posts with label Urban Sufism. Show all posts

Friday, November 27, 2009

Mengawal Proses Kehambaan


Para ahli fikih yang mengajarkan syariat sudah banyak. Tetapi, yang mengajarkan sufisme masih sangat langka. Inilah salah satu alasan yang mendorong KH M Luqman Hakim mengembangkan majelis pengajian sufi di kawasan Jabodetabek. Kiai Luqman sudah membangun komunitas sufi sejak kira-kira tujuh tahun silam. "Sampai sekarang baru ada sekitar 4.000 orang yang memiliki ikatan emosional dengan saya," ujar Kiai Luqman, yang merampungkan pendidikan S3 di program Doktoral Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Jurusan Syasah Syariah, ketika ditemui SP baru-baru ini.
Itulah sekelumit bukti betapa sufisme masih asing bagi masyarakat perkotaan yang dibelit segudang persoalan. Padahal, ia menganggap Jakarta tak ubahnya limbah bagi Indonesia. Tentu, di sebuah kawasan limbah, untuk mencari wilayah-wilayah bening juga langka. "Maka, kami mencoba membangun sumber-sumber air yang lebih jernih di situ, supaya keterasingan seseorang dalam kehidupan perkotaan tidak semakin membikin dia kian gersang secara spiritual," ujar Kiai Luqman, yang mengenyam pendidikan agama di Pesantren Tebuireng Jombang dan Fakultas Syariah Universitas Hasanuddin Makassar, sebelum melanjutkan ke Special Program of Philosophy di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Menurut Kiai Luqman, sufisme adalah salah satu nilai, yang jika dipraktikkan, seseorang bisa semakin spiritualis. Apa pun profesi seseorang itu, entah politisi, negarawan, ataupun pedagang. Bagi sufisme, ia menambahkan, yang penting adalah proses menjalani takdir kehambaan. Ketika seseorang tersandung dan merasa sakit, ia boleh mengaduh. Tetapi, mengaduh itu pun tidak perlu sampai berhari-hari hingga putus asa. Begitu teriak "aduh!", ia harus cepat kembali kepada Tuhan dan memandang peristiwa itu tidak lain karena Tuhan sedang "mencubit"-nya.
"Cubitan dari seorang 'Kekasih'. Mesra juga, kan?" ujar Kiai Luqman, yang mendalami tasawuf dan tarekat di Pesulukan Thoriqoh Agung (Peta) Tulung Agung. Saat ini, selain aktif sebagai pembimbing dan pengajar dunia sufi di Jakarta, ia aktif berceramah tentang dunia sufi di daerah- daerah, seperti Surabaya, Malang, Bandung, dan Kalimantan.
Sebagai pembimbing sufi, Kiai Luqman mengajarkan tarekat Sjadhiliyah. Tarekat tersebut dikembangkan oleh Syekh Abd al Hassan al-Sjadhili (1258). "Ia adalah wali besar dari Maroko yang dimakamkan di Mesir," tutur pria kelahiran Madiun, 20 April 1962 itu.
Selain itu, Kiai Luqman juga mengajarkan tarekat Syekh Abd al-Qadir al Jilani (1077-1166), serta tarekat Naqsyabandiyah yang dikembangkan oleh Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi. "Tiga tarekat ini yang kami ajarkan," katanya. Di antara tiga tarekat itu, tarekat Sjadhiliyah lebih banyak diajarkan.
"Tarekat Sjadhiliyah sederhana dan lebih punya elan vital terhadap modernitas. Tetapi, tarekat ini punya tingkat teologis sangat tinggi," ujar Kiai Luqman yang aktif menulis berbagai buku tasawuf, seperti Risalatul Qusyairiyah: Induk Ilmu Tasawuf, Raudhah Taman Jiwa Kaum Sufi, serta Pangeran Sufi Imam Junayd al-Baghdady.
Ia mengatakan, Wali Songo yang menyebarluaskan ajaran Islam di Jawa pun mengajarkan tarekat Sjadhiliyah. Sunan Gunung Jati, dalam sebuah biografinya, mengungkapkan setelah selesai belajar agama, baik fikih maupun tafsir, juga belajar tarekat Sjadhiliyah dari Syekh Ibn 'Ataillah as-Sakandari di Mesir, yang notabene merupakan pengarang kitab Al-Hikam.
Kitab Al-Hikam karya as-Sakandari dipakai oleh gerakan sufi di seluruh dunia sebagai manual. "Sebab, dalam kitab ini, prototipe perjalanan spiritual manusia di tingkat apa pun mulai dari kiai, wali, hingga pedagang, semuanya ada," ujar Kiai Luqman, yang juga mencetak sejumlah buku best- seller, antara lain Psikologi Sufi, Jack and Sufi, Kedai Sufi Kang Luqman, serta Allah Pun Berdzikir.
Dengan sufi, ia berharap umat Islam dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia dengan kemampuannya untuk mencerna suatu masalah dari sisi hakikat. "Hendaknya kita tidak membatasi diri pada hal-hal sebatas formalitas belaka," ia menegaskan. [E-9]

Suara Pembaruan - Last modified: 12/9/08

Thursday, November 19, 2009

Dari Debu Menuju Tuhan

Sekelompok penganut tasawuf asal AS berdakwah di Indonesia. Mereka melantunkan zikir, selawat, dan puisi sufi melalui musik.
Burung-burung itu terbang ribuan kilometer mengarungi beragam kesulitan dan kepedihan, mencari sang simurg. Tak sedikit yang mengurungkan per-jalanan, selain yang mati dalam perjalanan. Burung-burung yang selamat pun akhirnya terbakar hangus karena pesona dan kecintaannya kepada simurg. Kini, burung-burung yang dilukiskan penyair sufi Fariduddin Attar dalam Mantiqut Thair (Musyawarah Burung) itu menjelma dalam Kelompok Debu. Mereka adalah kelompok sufi pimpinan Syaikh Fattaah, 60 tahun, pria asal Amerika Serikat yang mengembara menyiarkan Islam dengan bernyanyi, berzikir, dan berselawat. Pekan ini, mereka akan tampil di sebuah stasiun televisi di Indonesia, menyambut perayaan Idul Adha. Kelompok Debu terdiri dari enam keluarga. Jumlahnya mencapai 54 orang. Semuanya berkewarganegaraan Amerika Serikat, kecuali tiga orang yang berasal dari Inggris, Swedia, dan Malaysia. Mereka datang secara bertahap ke Indonesia sejak tahun 1999 lalu berdasarkan ilham yang diterima Syaikh Fattaah, yang masuk Islam ketika berusia 35 tahun. Menurut Najib Ali, anggota asal AS yang berkulit hitam, Koordinator Kelompok Debu, hijrahnya kafilah ini tidak semata karena ilham pemimpin mereka, tapi juga keinginan untuk menjalankan kehidupan dan pencarian spiritual mereka dengan lebih tenang dibandingkan dengan di negeri asal. Sebab, menurut Najib, kehidupan di Amerika cenderung membuat orang jauh dari nilai-nilai rohani. "Kami tidak ingin beroleh dunia. Kami ingin mengejar kehidupan akhirat," katanya. Indonesia, menurut mereka, sesuai dengan dambaan selama ini, sebuah tempat di mana mereka bisa melaksanakan ajaran sufinya serta berdakwah secara damai. Dakwah yang dilantunkan lewat nyanyian dan musik sufi merupakan ajaran Syaikh Fattaah yang digubahnya sendiri. Syair-syair dalam beragam bahasa ini—mulai bahasa Arab, Inggris, Spanyol, Parsi, sampai Indonesia—bertutur tentang cinta dan kerinduan terhadap sang Kekasih Sejati, Allah, sebagaimana burung-burung Attar merindukan simurg, raja dari segala burung. Sebagian syair dikutip dari puisi ahli tasawuf terkenal, Jalaluddin Rumi, Hamzah Fansuri, ataupun Al-Syirazi dari Persia. Menurut Syaikh Hussain, asal Malaysia, salah seorang penggubah syair bersama Fattaah, Intisari ajaran tasawuf yang diajarkan tarekat mereka ada dua perkara, yaitu membersihkan hati serta upaya untuk mengenal nafsu pribadi. "Bukankah hadis mengatakan, siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya?" kata pria berwajah tenang dan berjanggut panjang ini. Ajaran tasawuf Kelompk Debu sendiri bersumber dari tiga tarekat, yakni Syadziliyah, Rufa'iyah, dan Cistiyah. Syaikh Fattaah mendapat izin dari ketiga guru tarekat tersebut untuk mengembangkan ajarannya. Ajaran ini jika dituturkan sebagaimana pengajaran agama lazimnya akan sangat membosankan. Maka, dipilihlah sebuah cara yang mudah serta mampu menarik banyak orang, yaitu musik dan syair. Lagu, diakui Syaikh Hussain, merupakan bentuk paling mudah untuk melakukan pengulangan ajaran tasawuf. Apalagi jika ia dinyanyikan dengan suara merdu serta musik yang tidak biasa. Sejumlah alat musik seperti biola, sitar, dan tetabuhan mengiringi syair mereka. Majelis Ulama Indonesia memberikan award kepada kelompok ini sebagai "terpuji terbaik pertama" dalam acara syiar Ramadan yang dilaksanakan pada 10 Januari 2002 lalu Irama musiknya merupakan campuran antara musik Persia dan Arab, bahkan kadang terdengar irama jazz, di samping irama tradisional di negara-negara yang pernah dikunjungi Syaikh Fattaah Maka, bertuturlah Debu tentang kerinduannya kepada Allah melalui syair Allah, Hati Memanggil-Mu ataupun ajakan untuk kembali kepada Allah dan rasulnya lewat syair Marilah Kita Kembali. Syair-syair semacam itulah yang beberapa saat lalu sempat memukau ratusan penonton yang memenuhi auditorium IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ketika Debu tampil. Mereka diajak masuk ke sebuah dunia yang diisi kemabukan, kerinduan, dan kecintaan akan sang Pencipta. Bagi syaikh dan para pengikutnya, jalan tasawuf dipilih karena, dengan ajaran sufi, di sinilah mereka beroleh Islam yang hakiki. Sebab, menurut Syaikh Hussain, inti ajaran Islam itu terbagi menjadi tiga, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Ajaran sufi, menurut dia, merupakan pengejawantahan konsep ihsan dalam Islam. "Di sini tempatnya kedamaian, kecintaan, dan kerinduan," ujarnya. Kerinduan itu dilebur Debu lewat syair dan musik. Sebagaimana seorang penyair sufi, Syaikh Muhammad Ibn Al-Habibi pernah bertutur, "Seluruh alam semesta ialah debu yang wujudnya dipinjam dari Mahawujud Sejati."  
 
Majalah Tempo 18 Februari 2002/Agus Hidayat

Untuk Sang Kekasih atau Kesehatan

Whirling dervishes atau sema, tarian sufi yang diperkenalkan Rumi, semakin populer sekarang. Tarian orang yang telah berhasil menanggalkan egonya.
Malam semakin tua. Pada satu hari Minggu dua pekan lalu, di salah satu zawiyah, padepokan tarekat Naqsabandiyah Haqqani yang terletak di jalan dari Prapanca menuju Kemang, Jakarta, dua kelompok orang duduk melingkar dalam ruangan temaram. Dari keheningan itu kemudian terdengar tahlil: la ilaha ilallah. Mula-mula perlahan, makin lama makin keras. Apalagi tepukan marawis ikut ambil bagian.
Seorang pria masuk ke lingkaran para pria. Ia berputar seperti gasing. Roknya putih berkibar, mengembang bak cendawan. Berputar ke kiri seperti orang tawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh putaran; tangan kanannya terbuka, menengadah ke langit, mengharap hidayah dari Yang Kudus. Tangan kirinya menelungkup—seakan-akan menebarkan hidayah yang diperoleh tangan lainnya ke semua orang di bumi.
Puncak ekstase terjadi tatkala zikir khas tarekat Naqsabandiyah Haqqani terdengar bersambutan: Huu, Haqq, Hayy, Allah Hu, Allah Haq, Allah Hay. Musik semakin cepat—begitu juga putaran lelaki itu—sampai akhirnya semua berhenti. Dalam takzim, lelaki kurus itu membungkuk kepada sang syekh, dan keluar dari lingkaran.
The whirling dervishes atau sema mulai populer. Pada Ramadan ini, stasiun-stasiun televisi berebut menayangkan tarian yang diperkenalkan sufi besar abad ke-13 Jalaluddin Rumi itu. ”Banyak orang datang karena ingin tahu lebih lanjut tentang whirling dervishes,” kata Arief Hamdani, Presiden Haqqani Sufi Institute of Indonesia.
Whirling, di samping hadrah, merupakan bagian penting dari tarekat Naqsabandiyah Haqqani. Sepekan sekali diadakan zikir dengan tarian khusus itu. Seorang yang ingin berputar diwajibkan berwudu. Setelah itu, ia harus melakukan salat sunah dua rakaat syukur wudu, lantas dilanjutkan dengan salat sunat dua rakaat tawasul. Lalu duduk berzikir Allahu Akbar.
Semua serba terukur, begitu pula pakaiannya. Mula-mula sang penari menggunakan setelan koko putih. Kemudian gaun putih panjang—tennure—diletakkan dengan posisi terbalik, bagian dalam di luar. Sebelum memakai, sang penari mencium bagian kerah. Kemudian, tennure yang panjangnya lebih dari tinggi sang penari pun dipakai. Setelah dipakai, ditarik setinggi telinga dan pinggang diikat dengan tali putih. Tali pinggang kemudian ditutup sabuk hitam. Penari lantas mengenakan jubah hitam tanpa lengan. Terakhir adalah topi panjang—sikke—yang dibalut dengan sorban.
Seluruh elemen pakaian ini merupakan simbol. Sikke, yang aslinya berwarna abu-abu, menurut Arief, merupakan simbol batu nisan. Li­litan sorban pertanda orang-orang siddiq. Tennure putih merupakan simbol kain ka­fan. Sedangkan ikat pinggang dan jubah hitam menandakan kelamnya alam kubur. ”Pakaian ini bermakna kita mengalami kematian di kala hidup. Makna ini penting untuk menemukan diri kita. Karena, dengan menemukan diri kita, barulah kita bertemu dengan Sang Pencipta,” tutur Arif.
Belajar whirling membutuhkan waktu cukup lama. Awalnya belajar berputar dengan kedua tangan disilang di depan dada. Gerakan ini dilakukan 20 menit selama 40 hari. Kemudian pelajaran meningkat, kedua tangan dikembangkan ke atas. Waktunya pun sama, 20 menit selama 40 hari. Gerakan terakhir adalah tangan kanan tetap menghadap ke atas sementara tangan kiri turun sejajar bahu. Putarannya kembali dilakukan 20 menit selama 40 hari.
Whirling tak semudah yang terlihat. Dalam kelas tarian Rumi khusus wa­nita di zawiyah itu, peserta rata-rata langsung terjatuh hanya dalam kisaran 1-2 menit setelah berputar. ”Ego-ego kita masih menahan tubuh sehingga ­tu­buh te­rasa berat untuk berputar,” kata ­Arief.
Untuk melepas ego memang tak hanya butuh latihan lama dan kontinu. Zikir yang keras sembari berdiri pun diyakini Arief mampu menghancurkan ego. ”Maulana (Rumi) pernah berkata bahwa zikir dengan whirling dan dengan suara keras akan memberikan energi yang lebih besar untuk membersihkan hati ketimbang zikir dengan duduk dan dengan suara pelan,” ujar Arief.
Tengoklah pengalaman Neng Sri Widia Amri, 24 tahun. Pegawai Lagoon Lounge Hotel Sultan, Jakarta, ini telah setahun menekuni tarian Rumi. Tak hanya untuk zikir, Widia pun turut manggung bersama Haqqani Rabbani Whirling Dervishes & Big Band di berbagai tempat.
Aura berbeda ia rasakan tatkala me­nari kala berzikir dan untuk manggung. ”Kala zikir, tarian ini terasa nikmat sekali. Saya tak pernah merasa pening karena aura positif yang ditebar sesama jemaah memberikan energi tersendiri,” tutur satu-satunya penari pe­rempuan dalam kelompok tersebut. Namun situasi berbeda terjadi ketika Wi­dia menari di atas panggung. ”Saat menari di panggung, kami tentu ditonton banyak orang, tak hanya aura positif yang menerpa, biasanya lebih banyak yang negatif. Aura negatif ini pula yang membuat tubuh terasa berat ketika berputar,” tuturnya.
Meski terasa rumit, tarian Rumi pada tarekat Haqqani terbuka bagi siapa pun. Hal berbeda justru terjadi di padepokan Anand Ashram. Untuk belajar tarian Rumi, tak semua orang dapat melakukannya. ”Biasanya kami melakukan evaluasi awal, apakah orang tersebut berminat dan cukup mampu untuk menerima pelatihan sufi,” ujar Anand Krishna, pendiri Anand Ashram.
Proteksi ini terpaksa ­dilakukan Anand. Maklum, ia mensinyalir tingginya minat mempelajari tasawuf, baik meditasi maupun whirling, sekadar upaya pelarian dari masalah sehari-hari. Anand mengingatkan bahwa Kemal Attaturk, bapak pendiri Repub­lik Turki, pernah selama puluhan tahun melarang praktek sufi di negaranya. ”Enggak boleh orang whirling,” kata Anand.
Pasalnya, dalam whirling, kata Anand, manusia dapat mencapai eks­tase. Efek sampingnya, menurut Anand, ada dua. ”Dia bisa menjadi sangat egois, merasa dirinya yang paling benar, karena sudah merasa mencapai tingkat yang luar biasa. Yang kedua, dia melari­kan diri, escape. Dia merasa dunia ini kacau, tentu karena dia juga merasa dirinya yang paling benar,” Anand menambahkan.
Tentu saja ekses ini tak ­diharapkan. Untuk itu, sebelum mengikuti kelas sufi, peserta diharuskan mengikuti program dasar stress management. Biasanya hanya 30 persen dari lulusan program ini yang diterima untuk meng­ikuti program lanjutan meditasi sufi.
Setelah mengikuti program manajemen stres, zikir dalam program sufi akan menjadi lembut. Bila emosi belum seluruhnya tersalurkan dalam program dasar, zikir dan whirling yang dilakukan peserta pasti akan bernuansa ta­ngis dan ledakan emosi. ”Banyak orang bilang, kalau dengan berteriak keras dan menangis, zikir baru afdal. Buat saya tidak,” katanya.
Tahap meditasi sufi di Anand Ashram terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah zikir dan whirling. Sama dengan metode tarekat sufi, zikirnya pun dengan la ilaha ilallah. Selesai whirling, peserta mulai tafakur. ”Untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta,” kata Anand. Total kegiatan berlangsung satu jam.
Selain seleksi khusus, berbeda dengan di zawiyah Naqsabandiyah Haqqani, kursus whirling di Anand Ashram tak gratis. Empat kali program ditebus dengan Rp 400 ribu. Meski cukup mahal, toh program ini tak sepi peminat. Manfaat ganda menjadi daya tariknya. Selain mendekatkan diri pada Sang Pencipta, kesehatan peserta pun mening­kat. ”Bila dilakukan dengan benar, whirling dapat memberikan energi ekstra hingga dua pekan lamanya,” ujar Anand.
Pilihan terserah pada Anda. Ingin berzikir menuju Sang Kekasih. Ataupun sekadar menikmati manfaat kesehatan dan nikmatnya menari Rumi.

Majalah Tempo/Sita Planasari Aquadini

Oase di tengah kota

Di indonesia makin banyak kelompok yang mempraktekan tasawuf. buku-buku tasawuf laris. kecenderungan orang belajar tasawuf adalah ingin memperoleh keseimbangan hidup.
Ada terasakan meningkatnya pengikut tasawuf di kota-kota besar. Buku-buku tasawuf laris, di beberapa kampus muncul kelompok peminat jalan sufi ini. TASAWUF lahir dari kebimbangan. Setidaknya itulah yang terjadi pada Imam Al Ghazali. Imam yang wafat pada abad ke-12 ini meraih hal-hal yang duniawi dalam usia 34 tahun lewat ilmu pengetahuan yang ia miliki. Namun, ia selalu bimbang, mengapa dirinya merasa kurang dekat dengan Allah. Pertanyaan itu lama tak bisa dijawab oleh profesor di Universitas Nizamiah, Baghdad, ini. Maka, ia pun jatuh sakit fisik dan mental. Rupanya, sesuatu muncul di dalam hatinya. Maka, begitu sembuh, ia segera mengambil suatu keputusan: meninggalkan nama harum, kedudukan, dan harta. Ia memilih jalan hidup seorang sufi. Pada tahun 1095 itu, ia melakukan pengembaraan rohani ke Damaskus, meninggalkan Baghdad, ibu kota Kerajaan Abasyiah yang waktu itu merupakan pusat kebudayaan dunia. Tak persis bisa ditebak, mengapa sekitar sembilan ratus tahun sejak Al Ghazali memilih jalan sufi, di kota-kota Indonesia makin banyak kelompok yang cenderung mempraktekkan tasawuf. Lihat saja. Begitu banyak buku tasawuf karangan para sufi dalam sepuluh tahun terakhir diterbitkan di Indonesia. Dan laris. Di toko Wali Songo, salah satu toko buku agama yang cukup besar di Jakarta, misalnya, pernah dalam satu hari terjual lima ratus eksemplar buku tasawuf. Menurut Musthopa, karyawan di toko buku itu, penjualan buku tasawuf memang menduduki urutan pertama -- diikuti penjualan Quran, buku-buku doa, petunjuk salat, tentang zakat, dan puasa. Di antara buku tasawuf itu, yang paling laris adalah buku Ihya Ulumuddin karangan Al Ghazali. Di Indonesia Ihya sudah diterjemahkan oleh beberapa orang, antara lain oleh Ismael Yakub, bekas Ketua Majelis Ulama Jawa Tengah. Terjemahan ini pertama kali beredar pada 1964, dan sudah mengalami cetak ulang sebelas kali. Juga di Penerbit Mizan, Bandung, yang populer sebagai penerbit buku-buku Islam, buku terlaris adalah tentang tasawuf. "Buku tentang tasawuf ternyata laku keras, sampai sekarang," kata Hernowo, Direktur Produksi Penerbitan Mizan. Dari seratus tujuh puluh judul buku yang diterbitkan Mizan, tujuh belas judul, 10%, membahas tasawuf. Dan ternyata itu bisa menyubsidi sekitar enam puluh persen anggaran biaya keseluruhan penerbitan Mizan. Misalnya, buku Kimia Kebahagiaan karangan Imam Al Ghazali yang terbit pada 1984 sudah sampai cetakan ke-6. Lalu lihat di Institut Pertanian Bogor atau IPB. Sejak 1989, terjadi lonjakan mahasiswa yang mempelajari tasawuf, yang sifatnya tidak melembaga. Lonjakan itu, menurut Nurochman, seorang pengurus Dewan Keluarga Masjid Al Ghifari IPB, disebabkan pengaruh pesantren Al Ghazali dan Al Ihya, yang terletak tiga ratus meter dari kampus IPB Dermaga. Pesantren Al Ihya, seperti sengaja pasang "iklan" -- menyediakan tempat pondokan buat mahasiswa IPB. Kini, sekitar tiga puluh mahasiswa mondok, dan belajar tasawuf paling sedikit tiga hari dalam seminggu. Nah, lewat mahasiswa yang mondok itulah, semangat bertasawuf ditularkan kepada mahasiswa lain. Memang tak semua mahasiswa lalu rajin bertasawuf. Mereka yang sekadar ingin mengetahui ditampung di Pesantren Al Ghazali. Di sini, tiap Jumat dan Sabtu, diadakan pengajian, yang mengupas kitab-kitab karangan Al Ghazali. Sekitar dua tahun terakhir, di malam-malam tersebut, selalu hadir sekitar seratus mahasiswa, kadang lebih. Berbeda dengan sebelumnya. Lain lagi cara tasawuf menelusup di Universitas Airlangga, Surabaya. Mula-mula adalah Kusni, seorang mahasiswa fakultas ekonomi, yang memiliki kelebihan dalam ilmu agama, menurut teman-temannya. Pribadinya sederhana, apa adanya, tidak ria, dan rendah hati. Satu-dua mahasiswa minta diajari tentang tasawuf. Lama-kelamaan terbentuklah kelompok mahasiswa peminat tasawuf. Yang diajarkan dalam kelompok ini: tidak terikat pada kehidupan dunia, tidak ngoyo, tidak meninggalkan hal-hal yang sunah, selalu beristiqamah, dan lain-lain. Diakui oleh Arifah, salah seorang mahasiswa dalam kelompok ini, setelah ikut mendengarkan ceramah Kusni, orientasi belajarnya berubah dari niat mencari pekerjaan menjadi pengabdian terhadap ilmu pengetahuan. Di samping itu, minat orang pada tasawuf juga bisa dilihat dari peminat kursus tasawuf. Satu di antaranya, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) di Jakarta, menawarkan kursus tasawuf dengan tujuan memberikan wawasan tentang makna hidup berdasarkan Islam. Pesertanya, menurut Budi Munawir, koordinator kursus tasawuf LSAF, adalah ibu rumah tangga, wiraswasta, dokter, mahasiswa, pensiunan, dan dosen. Masing-masing dari empat puluh peserta itu dikenai biaya Rp 80 ribu untuk dua belas kali pertemuan. Pada tingkat permulaan, kepada peserta diajarkan apa itu tasawuf, pemikiran tasawuf menurut Quran, dan aliran-aliran tasawuf. Baru pada pertemuan ke-12, peserta diajak ke Pesantren Suryalaya untuk mempraktekkan tasawuf. Di tempat lain di Jakarta, ada sekitar dua puluh lima orang tua muda secara berkala melakukan zikir bersama. Majelis zikir ini sudah ada sejak sepuluh tahun silam, dipimpin seorang pensiunan laksamana pertama TNI AL, Dokter Abdullah. Mereka itu, setiap pertemuan duduk melingkar di karpet, mata tertutup, serentak melafazkan, "Laa ilaaha Illallah..." sambil sesekali menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Praktek wirid seperti ini, menurut Abdullah, diwarisi dari kakeknya pengikut tarekat Satariyah -- konon, tarekat tertua di Indonesia. Di samping itu, dosen filsafat UI ini juga aktif memberikan arahan dalam kelompok Studi Sufi, yang secara berkala diikuti oleh para istri pemimpin Indonesia seperti Poppy Sjahrir dan Rahmi Hatta. Gejala ini juga berkembang di Yogyakarta. Bahkan, Kuntowijoyo, sejarawan di universitas Gadjah Mada, dalam salah satu tulisannya menyebutkan banyak kelompok pengajian tasawuf bermunculan. Satu di antaranya kelompok semacam tarekat yang dipimpin Dokter H. Achmad Husein Asdie, 50 tahun, dosen di Universitas Gadjah Mada. Kelompok pengajian Tawakal ini sudah berdiri sejak 1977, dengan seratus tujuh puluh pengikut. Sebenarnya, perkembangan tasawuf di Jakarta dan di kota-kota besar kini bukannya datang tiba-tiba. Jauh sebelum berkembangnya buku tasawuf terjemahan, Tasawuf Modern karangan Buya Hamka, bekas Ketua Majelis Ulama Indonesia, sudah sangat laku. Buku itu kumpulan tulisan Hamka di majalah Pedoman Masyarakat, Medan, sekitar 1937-1938, diterbitkan pertama kali pada 1939, dan sudah dicetak puluhan kali. Dan ketika di Masjid Istiqlal, Jakarta, pertama kali diajarkan tasawuf dengan pengajar Buya Hamka dan Muhibuddin Waly -- doktor syariah dari Universitas Al Azhar, Kairo -- beramai-ramai para ustad masjid di Jakarta datang. Logis, bila kemudian para ustad masjid itu ganti menyebarkan tasawuf di tempat masing-masing. Dari bibit-bibit itulah agaknya meningkatnya tasawuf sekarang ini. Tentu, sebagaimana pendapat Reynold A. Nicholson dalam bukunya Tasawuf Menguak Cinta Ilahiah -- munculnya sufi tak hanya bisa dilacak dari satu sebab -- - berkembangnya pengikut tarekat di Indonesia kini bukan hanya karena sudah ada dasarnya dari tahun-tahun sebelumnya. Menurut Jalaluddin Rakhmat, Direktur Lembaga Pembinaan Ilmu-Ilmu Islam Bandung, perubahan norma masyarakat Indonesia pada tahun-tahun belakangan juga mendorong orang memasuki tasawuf. Ia melihat, ada kecenderungan manusia modern untuk kembali ke hal-hal yang mistis, ketika dunia sekitarnya jadi terlalu rasional. Orang tidak puas lagi dengan Islam yang berorientasi hanya pada fikih. Kuntowijoyo, melihat kecenderungan orang belajar tasawuf sekarang ini ibarat mencari oase di tengah padang pasir. Ketika ekonomi membaik, hidup pun cenderung hedonistik, dan menghadirkan berbagai kemewahan. "Dalam kondisi itu hati nurani manusia berteriak ingin kesederhanaan, kesunyian, dan kelembutan," kata dosen Fakultas Sastra UGM ini. Dan itu bisa ditemukan dalam tasawuf. Memang, tasawuf merupakan alternatif ketika agama (Islam) berkembang menjadi sangat rasional, dan hukum agama menjadi amat formalistis dan legalistis, menyebabkan mendangkal dan mengeringnya penghayatan agama. Agama menjadi sederet aturan, tapi kehilangan rohnya, kata Simuh, dosen filsafat di IAIN Yogyakarta. Maka, muncullah kelompok mistik yang mementingkan rasa dan penghayatan. Mereka melonggarkan syariat. Pelopor gerakan ini, seperti Ibrahim Bin Adham (abad ke-8) dan Rabiah Al Adawiyah (abad ke-9), merumuskan beragama secara baru: cinta rindu pada Tuhan. Cinta yang membangkitkan rasa ingin bertemu muka dan sekaligus berasyik-masyuk dengan Zat yang dicintainya. Dalam semangat beragama seperti itu, yang ada hanyalah rasa ikhlas beribadah. Konsep neraka dan surga menjadi tidak relevan. Banyak anekdot dicatat dari perbuatan para sufi. Umpamanya, suatu hari Rabiah Al Adawiyah berlari-lari membawa kendi di tangan kiri dan obor di tangan kanan. Ia berteriak-teriak pada orang di sekitar bahwa ia akan membakar surga dengan obor yang dibawanya, dan memadamkan neraka dengan air kendi. Mengapa, tanya orang. Surga dan neraka telah menyesatkan kiblat orang-orang beribadat, jawab Rabiah. Adapun maknanya, inilah suatu bentuk kritik pada orang beribadat tidak karena Allah, tapi karena mengharapkan surga dan takut neraka. Dalam kata-kata Nurcholish Majid, Direktur Yayasan Pengajian Paramadina, "Inti tiap agama adalah aspek religiositasnya atau rasa keagamaannya. "Memang itu tak bisa dilihat dari luar, kata Nurcholish, tapi "aspek itulah sebagai intinya, dan yang lainlain -- fikih, filsafat, misalnya -- hanyalah pancaran dari inti." Sekilas, terasa ramainya tasawuf kini bertentangan dengan modernisasi. Namun, menurut dekan pascasarjana IAIN Yogyakarta, Dr. Simuh, gejala yang sekarang berlangsung sungguh menarik. Di satu sisi itu membuktikan bahwa "dunia modern perlu disehatkan dengan filsafat kerohanian dan filsafat moral tasawuf," di pihak lain ada optimisme "perlunya ajaran tasawuf terus diperbarui". Tujuannya, tak lain diperolehnya keseimbangan hidup. Kesimbangan itulah mungkin yang dicari bila sejumlah orang Jakarta dalam beberapa hari meninggalkan rumahnya untuk melakukan zikir bersama di sebuah tempat pengajian Naqsabandiyah di Jakarta Selatan. Dalam pengajian ini, yang merupakan cabang dari Naqsabandiyah Kadirun Yahya di Medan, kabarnya peserta sama sekali tak boleh diganggu. Mereka mencari sesuatu, mungkin, seperti para darwis yang menari berputar-putar, lalu menyenandungkan kata-kata ini: Terima kasih, Tuhan, tak suka aku pada sedap-sedapan dan manis-manisan. 
 
Majalah Tempo 20 April 1991/Julizar Kasiri dan Biro-Biro Daerah

Menakar yang Hak dan Batil

Tasawuf terentang dari yang ortodoks berbasis tarekat hingga yang paling universal. Hati-hati terjerumus pada kelompok-kelompok pemujaan.

Dua kata itu bersipunggung: sufi urban. Sufi, sebagai sebuah tarekat (jalan) menuju keilahian, merupakan tradisi Islam tradisional. Ia tak tumbuh di wilayah urban—sebuah istilah yang mengacu pada sisi kehidupan manusia kota yang hidup dalam modernitas. ”Ini contradictio in terminis,” kata cendekiawan muslim Azyumardi Azra tentang istilah sufi urban yang bertentangan dalam satu rangkaian kata.
Tapi inilah yang terjadi di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sejak akhir 1980-an, kelas mene­ngah muslim di Tanah Air tergerak untuk melongok akar keislaman mereka. Mapan ekonomi dan matang dalam usia, mereka mencari pengisi jiwa yang melompong.
Saat itu, aktivitas sufi digolongkan pada dua kelompok: antara yang berbasis tarekat dan yang tidak. Yang berbasis tarekat umumnya berada di wilayah suburban atau nonkota, meski sesungguhnya keberadaan mereka tak terkait dengan tumbuhnya minat belajar tasawuf yang sedang bertunas di kota-kota. ”Sufi urban tak muncul dari tradisi seperti itu,” kata dosen pengajar Universitas Paramadina, Budi Munawar Rahman.
Mereka inilah yang menegakkan ritual sufi yang baku dan berpegang erat pada tradisi yang konservatif demi mendekati Sang Khalik. Berpijak pada tradisi tarekat yang kuat, karakter tasawuf, seperti zikir, puasa, khalwat (menyepi), dan zuhud (hidup sederhana), dipegang kukuh dan diwariskan turun-temurun melalui serangkaian guru yang silsilahnya bisa ditarik langsung dari Nabi Muhammad. Pondok pesantren Abah Anom di Suryalaya termasuk dalam golongan ini.
Adapun aktivitas sufi yang berbasis nontarekat, menurut Azyumardi, awalnya diperkenalkan oleh Buya Hamka. Mendiang intelektual muslim yang merupakan salah satu tokoh Muhamma­diyah ini menolak paham taklid—kepa­tuhan mutlak yang menjadi ciri tarekat tradisional. Ia mengenalkan metode tasawuf modern yang berlandaskan perbaikan etika dan moral. Jadi, meng­asah kesabaran, pasrah, ikhlas, dan pendekatan nonmaterial terhadap kebahagiaan dunia.
Tengoklah Nabi Muhammad, kata Buya Hamka. Beliau sudah menjadi seorang sufi yang menyepi jauh di atas bukit batu, jauh sebelum menjadi orang suci. Dalam penyepiannya di Gua Hira itulah sang Rasul mendapat jalan Tuhan. ”Dan datanglah keyakinan, dapatlah dipersisihkan di antara yang hak (benar) dan yang batil (salah),” ia me­nulis pada 1952.
Kegiatan ”memisahkan yang hak dan batil” itu kemudian menjadi semakin variatif pada dua dekade setelah itu. Ada kreativitas yang bangkit ketika spiritualitas ataupun fundamentalis­me menjadi jawaban dari nestapa hidup. ”Ini yang tak bisa dijawab oleh agama formal,” kata Budi.
Kini setidaknya ada dua hal yang bisa ditambah ke dalam dua golongan di awal tersebut. Yang satu, tele-based sufism, yakni kegiatan berdoa massal yang kemudian dipertontonkan melalui televisi dan disiarkan langsung atau berulang-ulang. Ritualnya tak berbeda jauh dengan praktek sufi, seperti zikir, meski adabnya berbeda. ”Zikir adalah kegiatan sunyi. Aneh rasanya dilakukan di depan umum,” kata Azyumardi.
Tambahan berikutnya adalah hadir­nya cabang-cabang metode spiritual yang datang dari luar negeri, baik berlandaskan sufi maupun bukan. Ia menamainya new-age sufism, yakni kelompok-kelompok pembelajaran spiritual yang prakteknya mengkombinasikan ajaran sufi dan ajaran spiritual lain dengan landasan universalitas nilai. ”Mereka mendapat pasar bagi orang yang ingin diselamatkan, orang perkotaan yang miskin spiritual,” kata Budi.
Sayangnya, menurut Budi, gerakan-gerakan sufi masih berorientasi pada peningkatan spiritualitas pribadi, belum pada kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan. Untuk mengisinya, kata cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat, ada satu esensi tasawuf yang sering kali dilupakan, yakni khidmat, yang berarti melakukan pelayanan terhadap manusia lain. Ingat, laku yang ini bukan sekadar memberi uang yang diartikan sebagai sedekah. Tapi, dalam hal ini, apa yang disebut sebagai dakwah bil hal, yakni dakwah dengan perbuatan.
Melakukan pelayanan sosial ini juga disebutkan dalam buku Indah­nya Menjadi Sufi, yang diterjemahkan dari karya Essential Sufism, karang­an James Fadiman dan Robert Frager al-Jerrahi (1999). Dikatakan, melayani orang lain dalam pengertian riilnya adalah melayani Tuhan. Dan pelayanan ini dinilai orang-orang suci sebagai bentuk ibadah tertinggi. Dengan kata lain, tak cukup seseorang mencintai atau mengetahui Tuhannya.
Perilaku seperti menjaga kebersihan, memasak di dapur umum, dan menggendong anak di panti asuhan adalah bagian dari cinta itu. ”Kita harus berbuat berdasarkan cinta dan pengetahuan kita kepada-Nya,” tulis buku itu.

l l l
Segala yang berlebih-lebihan pun bisa berbahaya. Menurut Jalaluddin Rakhmat, ada tendensi seram dari kelompok-kelompok yang berani ”menjual” pertemuan dengan Tuhan sebagai komoditas utama.
Mereka inilah yang ia sebut sebagai pseudo-sufism; sufisme semu yang mengaku berbasis sufi, tapi hanya menggunakan istilah tasawuf dan sufi, seperti hakikat, makrifat, ilmu batin, untuk kepentingan sendiri. Yang tak diketahui, banyak ritus yang menggunakan teori hipnotisme dan mempermainkan gejolak emosi sehingga menimbulkan rasa bersalah yang mendera individu.
Menurut dia, kelompok-kelompok ini sudah separuh pemujaan (cult), karena tak bisa dipertanggungjawabkan akarnya dalam Islam. Biasanya, hanya satu-dua poin utama dari tasawuf yang diaplikasi, itu pun dengan perilaku yang tak wajar. Misalnya mandi air kembang atau puasa tanpa berbuka sehari semalam. ”Mungkin hanya baiatnya yang diambil,” kata Jalaluddin.
Ia mengingatkan, aktivitas spiritual yang tak lazim seperti itu justru ”laku” karena banyak urban yang ingin memperoleh spiritualitas secara instan. Mereka ingin memperoleh pengalaman keilahian secepat-cepatnya, seolah-olah proses pemaknaan diri dan Tuhan itu bisa diperoleh dengan instan. ”Misalnya ada yang menawarkan bertemu Tuhan dalam satu minggu,” ucapnya.
Ini diperparah oleh unsur taklid, kepatuhan itu, yang mereka akui bagian dari identitas kelompok. Dalam ketidakwajarannya, sang pemimpin sering kali mengaku punya ilmu rahasia—bahkan sebagai pendiri ajaran—dan bisa memecahkan semua persoalan. Yang terburuk, meminjam istilah Jalaluddin, adalah yang bila ujung-ujungnya duit, atau... yang ujung-ujungnya seks! ”Maka lengkap sudah unsur perampokan atas nama Tuhan itu,” katanya.
Jalaluddin mengaku pernah kedatangan korban-korban penipuan kelompok tasawuf sesat ini. Menurut dia, ada yang menderita delusi atau hilang pikiran, ada lagi yang masih susah payah keluar dari kelompok itu karena terus-terusan diancam dan dianiaya psikologisnya. ”Kebanyakan perempuan. Ada yang sangat berpendidikan, kelas menengah, tapi toh tetap teperdaya juga,” katanya.
Ia memberi rambu-rambu untuk mengenalinya, misalnya bila ajarannya tak berdasarkan syariah, Al-Quran, dan hadis, ritus-ritusnya tak standar, menuntut kepatuhan mutlak, serta perilaku gurunya mengontrol pikiran dan kehidupan pribadi murid. ”Jangan sampai semangat belajar sufi ini justru dikalahkan oleh sufisme semu yang justru disukai orang kota,” ujarnya.
Majalah Tempo/Kurie Suditomo

Merindukan Rumi di Iskandarsyah

Tasawuf masuk kota. Dan mereka mengingatkan kita pada kursus-kursus body language, bahasa Inggris tiga bulan lancar, dan sejenisnya. Ada pelatihan salat khusyuk, lokakarya tiga jam untuk mengalami hakikat syahadat tanpa tarekat, dan masih banyak lagi. Instan dan penuh perhitungan bisnis, memang. Namun ada pula yang bergeser menikmati tasawuf lebih mendalam, tak cuma ”kulit luar”-nya, tapi lewat tarekat.

NAMANYA Rumi Cafe. Berlokasi di Jalan Iskandarsyah yang mengarah ke Kemang, kawasan elite di Jakarta Selatan, ia diharapkan menjadi tempat hangout terbaru untuk kaum belia Ibu Kota. ”Saya berniat menjerat anak muda masuk surga,” kata Arief Hamdani, Presiden Haqqani Sufi Institute of Indonesia, sembari tertawa.
Rumi Cafe memang bukan seperti kafe biasa. Tempat ini tidak menyediakan minuman beralkohol. Namun nuansa tenang dan damai langsung menyapa siapa saja yang datang. Hot spot ini digadang-gadang Arief sebagai tempat bertemu, berdiskusi, sekaligus menikmati sema atau whirling dervishes, tarian sufi yang berputar-putar itu, yang diperkenalkan Jalaluddin Rumi, sufi agung abad ke-13.
Kafe kaum spiritualis ini menempati sebuah rumah toko berlantai dua. Dinding interiornya dicat abu-abu tua. Sejumlah buku dan foto tokoh sufi, termasuk Rumi, dipajang berjajar di etalase. Begitu hendak menaiki tangga, ups, ada manekin pria berbusana whirling dengan topi khas, sorban, dan jubah hitam. Setiap akhir pekan, di sini dipera­gakan tari whirling. ”Siapa pun yang terjebak macet pasti ingin tahu sajian kami,” kata Arief.
Rumi, whirling, tasawuf? Inilah gejala sosial yang pada Ramadan ini kian marak: sufi perkotaan. Tak usah berburu jauh-jauh ke Bagdad atau Istanbul untuk asyik-masyuk dengan dunia kaum sufi yang menjanjikan kedamaian dan cinta ini. Cukuplah nikmati cara baru berzikir dan ”mencari Tuhan” di Jakarta. Ini tentu saja tak lepas dari gaya hidup para eksekutif, konsumen utama gejala urban ini.
Coba lihat di Padepokan Thaha atau Majelis Taklim Misykatul Anwar di Jalan Senopati, Jakarta. Di situ, pekan lalu, Anand Krishna menyampaikan pikirannya tentang sufisme dewasa ini. Di dalam ruangan 10 x 10 meter persegi yang penuh pendengar serius, penulis puluhan buku spiritual itu ber­ujar, ”Sufi harus berani hadir ke pasar, ke market place.” Malam itu, Anand didaulat sebagai pembicara tamu di Padepokan Thaha.
Ia membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang memancing: mengapa kaum sufi gagal membuat dunia semakin damai? Ya, Anand tidak lagi berbicara tentang tasawuf sebagai jalan pembebasan individual, melainkan pembebasan pada tingkat sosial politik. Ia berbicara tentang gerakan-gerakan yang kehilangan toleransinya terhadap perbedaan pandangan di kota-kota besar, tentang langkah mereka yang agresif, dan pentingnya kaum sufi bangkit dengan pesan damai.
Anand seolah berbicara kepada para penghuni kota besar yang bosan dengan dugem, yang tidak sanggup melepaskan diri dari belitan masalahnya. Pengajian itu tertuju pada para seeker yang tak kunjung menjumpai kebenar­an di jalan-jalan dan bangunan kota yang riuh rendah, atau yang sekadar menunggu redanya lalu lintas macet. Semua digiring dan dihimpun pada malam-malam tertentu ke sejumlah titik di Ibu Kota.
Mereka para profesional, para eksekutif, yang senantiasa ada di sekitar kita dan tak mencolok mata. Berpakai­an laiknya orang kantoran, dengan kemeja lengan panjang dan pantalon gelap, seperti biasa, penampilan fisik mereka tak hendak mewakili identitas kelompok pengajian—yang biasanya berpakaian serba putih, baju koko, plus songkok putih pula.
Lihatlah Ahmad Rizal Tarigan, 39 tahun. Presiden Direktur PT Penta Manunggal Mandiri ini rajin mengunjungi zawiyah (padepokan) tarekat Naqsabandiyah Haqqani setiap Kamis malam. ”Dengan berzikir, kita mengendalikan ego,” katanya. Rizal hanya berbaju batik, tidak berjanggut, dan tak ada simbol-simbol tarekat, tulisan Allah ataupun Muhammad, pada mobil Nissan X-Trailnya.
Identitasnya sebagai pengikut tarekat Naqsabandiyah Haqqani baru ”terbongkar” bila kita mengunjungi kantornya yang terletak di daerah elite Jalan Sudirman, Jakarta, atau rumahnya di kawasan Kayu Putih, Pulomas. Foto yang sama terpajang apik di dua tempat itu: foto ketika ia bersama Syekh Nazim Kabbani, tokoh spiritual gerakan tarekat ini. Rizal memilih tarekat ”tradisional” di puncak karier.
Tapi ada pula Saraswati Sastrosatomo, 36 tahun, Senior Council Chevron Indonesia Company, yang masuk tarekat Qadiriyah di kawasan Ciawi, Bogor. Alkisah, Saraswati, yang begitu mudah memperoleh segala yang diinginkannya dari dunia profesional dan akademis, akhirnya suatu kali jatuh terduduk. ”Saya pernah bekerja di lembaga bantuan hukum, law firm, hingga corporate. Sekolah ke Amerika dan Belanda pun sudah saya jalani. Pokoknya, dunia bagi saya sudah cukup. Lantas apa lagi?” tuturnya.
Perempuan yang menamatkan pendidikan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan pendidikan pascasarjana di Universitas Leiden ini pun sudah jenuh dengan jalan keluar selepas kerja: clubbing di klub malam Ebony, Dragonfly, dan banyak lagi.
Enam tahun silam, ia mencoba sesuatu yang baru: bergabung dengan klub kajian Paramadina dan kajian tasawuf Tazkiya. Dan rupanya itulah mukadimah dari sesuatu yang hingga kini tak pernah lepas dari hidupnya. Ia melebur dalam tarekat. Tiap akhir pekan kita bisa mendapati Saraswati bertafakur di padepokan syekhnya. ”Saya butuh charge setelah Senin hingga Jumat berurusan dengan dunia,” katanya. Di dinding apartemennya di Puri Casablanca, Kuningan, Jakarta, terpampang sembilan potret idolanya, Wali Songo. Di samping mereka, terdapat foto Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Sunan Kalijaga.
Tarekat Naqsabandiyah Haqqani dan Qadiriyah sama-sama ”tradisional”. Keduanya ditopang lima komponen dasar tarekat: mursyid (guru), murid, wirid, tata tertib, dan tempat. Dua dasawarsa silam, masyarakat kota lebih bisa menerima tasawuf kontemporer seperti yang ditawarkan Paramadina dan Tazkiya ketimbang pola-pola peng­ajaran tradisional di pesantren, di desa-desa.
Baiat atau komitmen spiritual yang mengikat dan kemudian mengukuhkan hubungan hierarkis mursyid-murid mungkin tak menarik bagi orang kota yang demokratis. Uzlah alias mengundurkan diri dari dunia orang banyak justru menumbuhkan waswas bahwa tasawuf sama saja dengan mengasingkan diri. Dan zuhud atau asketisisme, pantangan terhadap kesenangan duniawi, tentu saja terlalu jauh dari gaya hidup hedonis orang kota.
Kini dunia kita seakan berubah. Ungkapan tasawuf yes, tarekat no yang demikian tepat mewakili periode itu seakan sudah berlalu. Dan mungkin tasawuf yes, tarekat yes cukup mengena di hati orang kota.
Di Padepokan Thaha, setiap usai tausiyah, para murid langsung menyerbu sang mursyid, Syekh Sayid Hidayat Muhammad Tasdiq, yang biasa dipanggil Kiai Rahmat. Dalam suasana yang cair, masing-masing murid mengungkapkan rasa takzim dengan mencium tangan guru yang karismatis dan berilmu itu. ”Beliau mudah tune-nya,” kata Pardamean Harahap, salah seorang pengurus padepokan itu, menjelaskan karakter sang guru yang komunikatif. Kamis malam itu, di padepokan, Kiai Rahmat mengenakan baju hem putih tanpa dasi dengan balutan jas biru dan celana biru. Ia memakai peci hitam dengan renda air emas di sekeliling; suaranya ringan seperti beraksen Sunda, kulitnya agak gelap.
Bayang-bayang suram hubungan mursyid-murid yang menuntut kepa­tuhan total sang murid sesungguhnya belum juga terbang jauh. Menurut Jalaluddin Rakhmat, dosen komunikasi Universitas Padjadjaran yang ikut melahirkan pengajian Tazkiya, kelompok pemujaan atau cult sering kali membungkus niat buruknya dengan aksesori tasawuf. Lalu murid yang silau dengan penampilan luar itu pun kerap menjadi korban penipuan. Memakai istilah sufi seperti hakikat dan makrifat, sang guru menawarkan paket-paket instan yang tak masuk akal. seperti ”bertemu Tuhan dalam seminggu”.
Namun coba bedakan dengan tarekat Akmaliyah. Tarekat yang berada di Kota Malang ini mengambil jalan pintas: memangkas pendek hubungan mursyid-murid yang sangat berat sebelah. Gerakan sufi yang meneruskan ajaran Syekh Siti Jenar dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Hadiwijoyo (alias Joko Tingkir, Raja Pajang) ini berangkat dari pemikiran tunggal: setiap manusia berhak bertemu dengan Tuhannya.
Akmaliyah tak mengenal mursyid (guru) sebagaimana aliran tarekat lain, melainkan sekadar sosok koordinator belaka. Lelakunya ringan, jumlah zikirnya tak dibatasi bilangan, cukup disesuaikan dengan kemampuan. Tarekat ini juga tidak mengenal tradisi pemondokan dan baiat. Setelah berdiskusi dengan koordinator untuk meluruskan persepsi, jemaah bisa membaca wirid sendiri di rumah.
Tasawuf perkotaan kontemporer selama dua dekade telah menyodorkan jalan lebih ”aman”, tapi dengan pendekatan yang mengingatkan kita pada kursus body language, bahasa Inggris tiga bulan lancar, dan ­sejenisnya. Ada pelatihan salat khusyuk, lokakarya tiga jam untuk mengalami hakikat syahadat tanpa tarekat, dan masih banyak lagi.
Instan memang. Bahkan, menurut Bambang Pranggono, dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, gejala ini memperlihatkan ”indikasi betapa materialisme merasuk ke dalam semua sendi keislaman, ketika semua harus dinilai dengan uang, dari syahadat, salat, hingga haji”—seperti tertulis dalam makalahnya, ”Sufisme Perkotaan”, yang dibacakannya pekan lalu di Bandung.
l l l
DI sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang, Bandung, anak-anak muda pengikut pengajian tasawuf berkumpul untuk menyambut sesuatu yang besar: lailatul qadar. Ritual yang berawal pada pukul 21.00 itu ditutup dengan doa Kumail (doa khusus Nabi Khaidir), lalu Jausyan Kabir pada pukul 02.00, hanya beberapa saat menjelang sahur. Tasawuf, yang selama beratus tahun divonis sebagai sumber keterbelakangan, kini memiliki citra yang baru—ia wisdom dari desa yang kemudian dimodifikasi sesuai dengan selera kota. Tiga tahun mengikuti Paramadina, Rara Rengganis Dewi, 45 tahun, yang menyukai musik Scorpion, Queen, Hadad Alwi, dan Opick, membuat kesimpulan menarik. ”Saya lebih mampu berbahagia dan menikmati kehidupan,” katanya. Rara, yang tinggal di Jakarta dan gandrung tasawuf, mengambil magister Islamic Mysticism ICAS (Islamic College for Advanced Studies).
Melalui kajian yang sama, Arief Aziz, 25 tahun, kemudian memahami perbedaan antara Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi. Anak muda ini mengenal sejumlah nama besar dengan gagasan besar: Rabiah al-Adawiyah, Rumi, Arabi, juga martir yang kontroversial seperti Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Arief juga mengaku menerapkan zuhud dalam kehidupan kesehariannya. Memakai telepon seluler tua, ia berpegang pada asas manfaat dan menolak ikut latah.
Sufisme perkotaan merupakan anak modernisme. Kehadirannya ­ber­­dam­ping­­an dan berinteraksi ­dengan produk-produk modernisme lain: ­liberalisme, ateisme, feminisme, konsu­merisme, materialisme, dan sebagainya. Ada yang berdiri dalam tarekat tradisional, ada pula yang tanpa tarekat. ”Semua bisa kita pahami dengan penuh empati sebagai kegelisahan setetes air yang rindu akan kebahagiaan, bersatu lagi dengan lautan,” demikian Bambang Pranggono mengakhiri makalahnya.

Majalah Tempo/Idrus F. Shahab, Sita Planasari, Munawwaroh, Iqbal Muhtarom, Alwan Ridha Ramdani

Kala Para Sufi Berpesta

Senin, 05 Januari 2009 | 08:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Dalam aula As-Salam seluas 30 meter persegi, semua orang duduk bersila sembari menyilangkan tangan ke bahu. Guruji Anand Khrisna duduk merapat ke tembok, tepat di sisi kiri patung ibu pertiwi--lambang keragaman bangsa Indonesia--setinggi 1,6 meter. Yang lain, lesehan memutari pinggir ruangan.
Lantas, sang guruji mengucap salam dalam bahasa India, "Saddam Muju," dan dijawab para murid, "Hu Ya Allah Hu." Selanjutnya, setiap salam dijawab tiga kali. Lalu, terdengar dentuman gendang dan petikan gitar akustik menyatu dengan penggalan salawat Nabi. Lantunan tembang mirip lagu tanah Arab bercampur India. Malam Minggu lalu, di Resor Gunung Geulis, Ciawi, Puncak, Bogor, para sufi berpesta. "Setiap orang beragama masing-masing bertemu, kemudian menari dan bernyanyi bersama," kata Anand tentang acara ini.
Selama ini sufi mengawang-awang di langit, kini merapat dan berada di tengah keramaian. Kembali berpijak pada bumi. Setelah bersalawat, sebagian menyerbu ke tengah, sebagian tetap bersila. Mereka bersiap menari whirling dervish dance, tarian sufi yang berasal dari Turki dan dipopulerkan kelompok Mevlevi Order yang dipimpin Jalaluddin Rumi ratusan tahun lalu. "Yang boleh menari hanya orang yang sudah melampaui kelas seni memberdaya diri (semedi) tingkat II," kata Wakil Ketua Yayasan Anand Ashram, Yudanegara, kepada Tempo.
Selama 45 menit, para darwis--sebutan pengikut ajaran Rumi--menari, berputar searah jarum jam laksana bumi memutari porosnya. Berbeda dengan tawaf yang mengitari Hajar Aswad dan putaran melawan jarum jam. Kala menari, telapak tangan kanan menengadah ke atas dan telapak tangan kiri menghadap ke bawah, dengan siku 45 derajat. "Maknanya, tangan ke atas itu adalah langit, sedangkan yang ke bawah itu bumi. Apa yang kita dapat dari Tuhan harus diteruskan ke orang lain," papar salah satu anggota Anand Ashram, Ahmad Yuldan Erwin.
Menurut ajaran Rumi, tarian itu merupakan lambang kematian ego. Layaknya salat, saat menari, para darwis bersua dengan Tuhan dalam keadaan extase (tidak sadar). "Di sini kami tidak sampai terbawa extase," ujar Anand. Saat gendang ditabuh, seketika itu pula perasaan extase merasuk dan terjadi reaksi kimia di otak. "Secara ilmiah merangsang produksi hormon serotonin dan melatonin."
Kalau sudah begitu, orang kerap terdorong tidak menyukai fakta kehidupan. Sebab itulah, tarian ala Rumi ini diharamkan rezim Kemal Attaturk di Turki. Maklum, di negeri ini, orang lebih mengejar extase-nya, bahkan hingga lari meninggalkan pekerjaan. Namun, sisi positifnya, kata Anand, tarian ini bisa melembutkan jiwa. "Kelembutan jiwa itu dipakai biar lebih peka terhadap kondisi jati diri bangsa dan negara," pria keturunan India kelahiran Solo itu mengungkapkan.
Anand berharap segala aspek kehidupan bangsa harus diwarnai kesadaran sufi. Menurut dia, meditasi itu bukan hanya duduk diam dan melakukan retreat (pengasingan diri). Lebih dari itu, meditasi adalah gaya hidup dan perluasan kesadaran. "Lewat itu, kita akan mencapai keseimbangan diri," ujar jebolan Pacific Southern University, Amerika Serikat, itu.
Semua itu dilakukan tanpa harus menanggalkan akidah dan identitas diri. Dengan meditasi teratur, akan didapat pengendalian diri sehingga hati dan pikiran menjadi jernih. Lalu, saat seseorang telah masuk tahap itu, akan tumbuh emosi cinta dan damai di hatinya. Dari situ, akan muncul rasa menerima pada perbedaan. "Konsep Pancasila adalah konsep sufi yang mengakomodasi perbedaan," ucap Anand. Namun, banyak di antara anak bangsa yang masih mencibir perbedaan itu.
Gagasan Anand, One Earth, One Sky, dan One Human Kind, sesuai untuk dijadikan resolusi bangsa Indonesia di tahun kerbau. Dengan menerima perbedaan, akan muncul rasa kebangsaan. Kalau sudah merasa satu bangsa, akan turut serta sense of belonging terhadap negara ini. Walhasil, masalah besar negeri ini, seperti sikap saling tidak peduli karena berbeda, itu bisa pupus. "Bangsa ini harus bisa mengapresiasi semua keyakinan dan perbedaan sebagai anugerah," kata pendiri padepokan Pusat Kesehatan Holistik dan Pelatihan Meditasi Anand Ashram itu.
HERU TRIYONO