Oleh : Muhibuddin | 15-Jan-2008, 03:43:50 WIB
KabarIndonesia - Tulungagung, Sudah 38 tahun silam, KH Mustaqiem bin Hussain berpulang. Sudah tiga tahun pula, putranya, KH Abdul Djalil Mustaqiem yang meneruskan perjuangannya wafat. Namun begitu, ketokohan dan keteladanan dua kiai kharismatik dari pondok pesantren Pesulukan Tareqot Agung (Peta) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, ini seakan tak pernah terputus.
Santri yang menjadi pengikut ajarannya masih saja terus mengalir ke Pondok Tareqot yang berlokasi di Jl. KH. Wakhid Hasyim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Tulungagung ini. Faktanya, setiap setahun sekali dihelat peringatan haul, santri yang berdatangan ke pondok Peta benar-benar luar biasa. Pondok yang kini diasuh putra Kiai Abdul Djalil Mustaqiem, Charir Mohamad Sholahudin Al Ayyubi (Gus Saladien) itu sama sekali tak kehilangan daya magnetik-nya. Dalam haul yang digelar, Minggu (13/1/2007) kemarin, misalnya, puluhan ribu santri jamaah Pondok Peta dari berbagai pelosok Indonesia tumplek blek membanjiri Kota Tulungagung.
Ketokohan dan keteladanan KH Mustaqiem yang masih keturunan dari Mbah Penjalu itu agaknya tetap meninggalkan ‘goresan' tersendiri di kalangan santri tareqot yang menjadi pengikutnya. ‘'Setiap haul, keluarga kami pasti ke Pondok Kiai Mustaqim dan Abdul Djalil ini,'' tutur beberapa santri Peta dari Blora, Jawa Tengah. Tak tanggung-tanggung. Para santri dari luar propinsi itu datang ke Tulungagung sampai harus mencarter beberapa buah bus bersama jamaah Pondok Peta lainnya. Demikian pula santri dari luar Pulau Jawa, saat haul, mereka juga banyak yang datang ke Pondok Peta dengan berombongan.
‘'Kami datang dari Lampung. Setiap haul, kami mesti datang ke Pondok,'' kata serombongan santri dari luar Pulau Jawa itu menuturkan. Di kalangan santrinya, KH. Mustaqim maupun Kiai Djalil diakui sebagai sosok yang banyak memberikan keteladanan dalam mengajarkan ilmunya. Karena itulah, santri-santrinya juga tersebar luas ke seantero negeri.
Di sisi lain, kiai yang menjadi tokoh tareqot assadziliyah itu dalam perjalanan hidupnya memang memiliki banyak kelebihan sebagaimana sering diungkap dalam manakib-nya yang dibacakan setiap peringatan haul. ‘'Sejak kecil, KH Mustaqiem sudah punya sirri. Beliau juga punya khizib kahfi,'' kata KH Mudhofir Sukhaimi yang biasa membacakan manakib KH Mustaqiem bin Hussain dalam setiap peringatan haul.
Diceritakan pula, suatu ketika, kiai Mustaqiem menerima nasib tak menyenangkan saat penjajahan Jepang. Bersama warga masyarakat yang lain, kiai kelahiran Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tahun 1901 itu, harus menghadapi penyiksaan sadis yang dilakukan penjajah Jepang. ‘'Saat itu, Mbah Mustaqiem disiksa dengan cara ditutup semua lubang yang ada di tubuhnya kecuali dua lubang hidungnya. Lalu, lubang hidung itu dimasuki selang dan dipompa. Setelah perutnya membesar, Jepang menginjak-injak dengan sepatu perangnya. Banyak rakyat kita yang akhirnya mati disiksa seperti ini,'' katanya.
Namun, tidak demikian yang terjadi pada diri Kiai Mustaqiem. Entah bagaimana ceritanya, Jepang memasukkan selang tidak ke lubang hidung Kiai Mustaqiem. Tapi, selang itu justru dimasukkan ke lubang ‘sabuk othok' (ikat pinggang khas orang Jawa). Maka, selamatlah kiai Mustaqiem dari penyiksaan sadis yang dilakukan penjajah Jepang. ‘'Begitulah Kiai Mustaqiem mempunyai kelebihan,'' kata KH Mudhofir.
Keistimewaan lainnya, Kiai Mustaqiem juga punya ilmu bela diri yang hebat. Kemampuan bela diri ini diketahui ketika Kiai ini ditantang silat seorang pendekar ulung. KH. Mustaqiem, ternyata, mampu meladeni tantangan itu dengan bersilat di atas empat tombak. ‘'Beliau juga menguasai sedikitnya 40 bahasa asing,'' terang KH Mudhofir.
Tak pelak, santri-santrinya saat itu sampai dibuat heran karena tak pernah tahu kapan kiai yang wafat pada 1970 itu belajar bahasa asing. ‘'Saat kedatangan tamu dari India, Mbah Mustaqiem juga bisa meladeni pembicaraan menggunakan bahasa India,'' ujarnya. Yang patut diteladani lagi, dalam setiap acara haul diungkapkan, meski tergolong Kiai berilmu tinggi, KH. Mustaqiem punya sikap tak suka menyombongkan diri. Faktanya, suatu hari, ada Kiai besar (Syekh Abdul Rozaq) yang akan berguru kepadanya. Namun, KH Mustaqiem justru bersikap sebaliknya. Beliau malah akan berguru kepada Syekh Abdul Rozaq. ‘'Akhirnya, kedua Kiai besar itu rebutan untuk menjadi murid,'' ungkapnya.
Sepeninggal Kiai Mustaqiem, perjuangan Pondok Peta diwariskan kepada salah seorang putranya, KH Abdul Djalil Mustaqiem. Sayang, Kiai Abdul Djalil yang tak kalah kharismatik dengan sang ayah itu, Jumat (7/1/2005) lalu sudah keburu dipanggil Allah SWT. Sebagai penerus perjuangannya, kini Pondok Peta diasuh Gus Salladien, salah seorang putra Kiai Abdul Djalil Mustaqiem yang usianya baru sekitar 29 tahun.
Sebagai kiai kharismatik, kediaman Kiai Djalil hampir tak pernah sepi dari kunjungan tokoh-tokoh politik lokal maupun nasional. Menjelang Pemilu legislatif dan Pemilu presiden 2004 lalu, misalnya, kediaman Kiai Djalil banyak menjadi singgahan tokoh-tokoh politik nasional.
Saat itu, beberapa tokoh nasional yang berkunjung ke kediaman Kiai Djalil, di antaranya, Nurcholis Madjid (Cak Nur), mantan Wapres, Try Soetrisno, Amien Rais, Yusuf Kalla dan tentu saja KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur) yang sudah tak terbilang jumlahnya mendatangi pondok Kiai Djalil.
Keterangan foto : Kiai Abdul Djalil saat menerima kunjungan mantan Wapres Try Soetrisno bersama istrinya, sebelum Pemilu 2004 lalu. Saat itu, Try Soetrisno juga merayakan ulang tahunnya di kediaman Kiai Djalil.
Showing posts with label Obituari. Show all posts
Showing posts with label Obituari. Show all posts
Thursday, January 21, 2010
SYEIKH MUHAMMAD ABDUL MALIK: Mursyid Sederhana dan Penyayang Santri Miskin
Purwokerto adalah ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa. Purwokerto merupakan salah satu pusat perdagangan dan pendidikan di kawasan selatan Jawa Tengah.
Sementara kabupaten Banyumas sendiri merupakan sebuah kawasan kebudayaan yang memiliki ciri khas tertentu di antara keanekaragaman budaya Jawa yang disebut sebagai budaya Banyumasan. Ciri khas ini ditandai dengan kekhasan dialek bahasa, citra seni dan tipologi masyarakatnya.
Bentang alam wilayah banyumasan berupa dataran tinggi dan pegunungan serta lembah-lembah dengan bentangan sungai-sungai yang menjamin kelangsungan pertanian dengan irigasi tradisional. kondisi yang demikian membenarkan kenyataan kesuburan wilayah ini (gemah ripah loh jinawi).
Dulunya, kawasan ini adalah tempat penyingkiran para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh, bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga-keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.
Keluarga-keluarga keturunan Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokohnya yang telah menyingkir dari pusat kerajaan Matararam waktu itu, kemudian menurunkan para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh ulama hingga saat ini.
Salah satu dari sekian banyak tokoh ulama keturunan Pangeran Diponegoro di kawasan Banyumas ini adalah Syekh Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thariqoh Syadzaliyah di Jawa Tengah.
Silsilah dan Pendidikan
Sudah menjadi tradisi di kawasan Banyumasan kala itu, apabila ada seorang ibu hendak melahirkan, maka dihamparkanlah tikar di atas lantai sebagai tempat bersalin. Suatu saat ada seorang ibu yang telah mempersiapkan persalinannya sesuai tradisi tersebut, namun rupanya sang bayi tidak juga kunjung terlahir. Melihat hal ini, maka sang suami segera memerintahkan istrinya untuk pindah ke tempat tidur dan menjalani persalinan di atas ranjang saja. Tak berapa lama terlahirlah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakan Muhammad Ash'ad, artinya Muhammad yang naik (dari tikar ke tempat tidur). Peristiwa ini terjadi di Kedung Paruk Purwokerto, pada hari Jum'at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H. (1881 M.) Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash'ad bin Muhammad Ilyas. Kelak bayi mungil ini lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk Purwokerto.
Beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan "Surat Kekancingan" (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash'ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.
Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur'an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.
Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan dan pengasuhan dari saudara-saudaranya yang berada di Sokaraja,sebuah kecamatan di sebelah timur Purwokerto. Di Sokaraja ini terdapat saudara Abdul Malik yang bernama Kyai Muhammad Affandi, seorang ulama sekaligus saudagar kaya raya. Memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.
Ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Malik dikirim ke Tanah Suci untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai didiplin ilmu agama, seperti Tafsir, Ulumul Qur'an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Pada tahun 1327 H. Abdul Malik pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih 15 tahun belajar di Tanah Haram. Selanjutnya ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh (lanjut usia). Lima tahun kemudian (1333 H.) ayahandanya (Muhammad Ilyas) meninggal dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Sokaraja.
Sepeninggal ayahnya, Abdul Malik muda berkeinginan melakukan perjalanan ke daerah-daerah sekitar Banyumas, seperti Semarang, Pekalongan, Yogyakarta dengan berjalan kaki. Perjalanan ini diakhiri tepat pada seratus hari wafatnya sang ayah. Abdul Malik kemudian tinggal dan menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Sejak saat ini, ia kemudian lebih dikenal sebagai Syeikh Abdul Malik Kedung Paruk.
Guru-Guru
Syeikh Abdul Malik mempunyai banyak guru, baik selama belajar di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Sayyid Umar as-Syatha' dan Sayyid Muhammad Syatha', keduanya merupakan ulama besar Makkah dan Imam Masjidil Haram dan Sayyid Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya.
Sebelum berangkat ke tanah Suci, Syeikh Abdul Malik sempat berguru kepada Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad'aq (seorang ulama besar yang berusia cukup panjang, wafat dalam usia 141 tahun), Habib 'Aththas Abu Bakar al-Atthas; Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya; Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.
Sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah diperolehnya secara langsung dari sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas; sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah didapatkannya dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki (Mekkah).
Selama bermukim di Makkah, Syeikh Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi'i, diberi kesempatan untuk mengajar berbagai ilmu agama termasuk, tafsir dan qira'ah sab'ah. Sempat menerima kehormatan berupa rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.
Menurut beberapa santrinya, Syekh Abdul Malik sebenarnya tinggal di Makkah selama kurang lebih 35 tahun, tetapi tidak dalam suatu waktu. Di samping belajar di tanah Suci selama 15 tahun, ia juga seringkali membimbing jamaah haji Indonesia asal Banyumas, bekerjasama dengan Syeikh Mathar Makkah. Aktivitas ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama, jadi sebenarnya, masa 35 tahun itu tidaklah mutlak.
Perjuangan Fisik
Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli Thoriqoh senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.
Pada masa-masa sulit zaman penjajahan Belanda dan Jepang, Syeikh Abdul Malik senantiasa gigih berdakwah. Karena aktivitasnya ini, maka ia pun menjadi salah satu target penangkapan tentara-tentara kolonial. Mereka sangat khawatir pada pengaruh dakwahnya yang mempengaruhi rakyat Indonesia untuk memberontak terhadap penjajah. Menghadapi situasi seperti ini, ia justru meleburkan diri dalam laskar-laskar rakyat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro, leluhurnya yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda, maka ia pun senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet.
Pada masa Gestapu, Syeikh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI. Bersamanya, ditangkap pula Habib Hasyim al-Quthban Yogyakarta, ketika sedang bepergian menuju daerah Bumiayu Brebes untuk memberikan ilmu kekebalan atau kesaktian kepada para laskar pemuda Islam. Dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban mengalami shock dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan.
Kepribadian
Dalam hidupnya, Syeikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca al-Qur'an dan Shalawat. Dikenal sebagai ulama yang mempunyai berkepribadian sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian akhlakul karimah. Maka amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.
Syeikh Abdul Malik adalah pribadi yang sangat sederhana, santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahim kepada murid-muridnya, terutama kepada mereka yang miskin atau sedang mengalami kesulitan hidup. Santri-santri yang biasa dikunjunginya ini, selain mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuh waluh, Bojong, juga sanri-santri lain yang tinggal di tempat jauh.
Setiap hari Selasa pagi, dengan bersepeda, naik becak atau dokar, Syeikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian, sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan. Acara ini merupakan forum silaturrahim bagi para pengikut Thoriqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Kedung paruk yang diisi dengan pengajian dan tawajjuhan.
Syeikh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.
Termasuk di antara para ulama yang sering berkunjung ke kediaman Syeikh Abdul Malik ini adalah Syeikh Ma'shum (Lasem, Rembang) yang sering mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik sebagai tabarruk (meminta barakah) kepadanya. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Kholil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas). Para ulama ini merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur'an, namun tetap belajar ilmu al-Qur'an kepada Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk.
Sementara itu, murid-murid langsung dari Syeikh Abdul Malik di antaranya adalah KH Abdul Qadir, Kiai Sa'id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah), KH Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma'shum (Purwokerto) dan lain-lain.
Selain, menularkan ilmunya kepada santri-santi yang kemudian menjadi ulama dan pemimpin umat, Syeikh Abdul Malik juga memiliki santri-santri dari berbagai kalangan, seperti Haji Hambali Kudus, seorang pedagang yang dermawan dan tidak pernah rugi dalam aktivitas dagangnya dan Kyai Abdul Hadi Klaten, seorang penjudi yang kemudian bertaubat dan menjadi hamba Allah yang shaleh dan gemar beribadah.
Keluarga
Syeikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturunan. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K Abu Bakar bin H Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).
Ada sebuah cerita unik tentang putera pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syeikh Abdul Malik berkata padanya, "Nak, besok kamu menikah di surga saja ya?" Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.
Istri kedua Syeikh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari desa Mrenek, Maos Cilacap. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak. Istimewanya, suatu hari Syeikh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, "Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat." Mendengar permintaan ini, Syeikh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.
Sedangkan istri ketiga-nya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan shalihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari puterinya inilah nasab Syeikh Abdul Malik diteruskan.
Pesan dan Berpulang
Salah seorang cucu Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan Beliau kepada cucu-cucunya. Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama'ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.
Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur'an. Baca dan pelajari setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur'an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur'an dan qari'-qari'ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.
Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.
Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum'at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya' dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus. Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum'at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto.
Disadur kembali oleh Zakki Amali
Sementara kabupaten Banyumas sendiri merupakan sebuah kawasan kebudayaan yang memiliki ciri khas tertentu di antara keanekaragaman budaya Jawa yang disebut sebagai budaya Banyumasan. Ciri khas ini ditandai dengan kekhasan dialek bahasa, citra seni dan tipologi masyarakatnya.
Bentang alam wilayah banyumasan berupa dataran tinggi dan pegunungan serta lembah-lembah dengan bentangan sungai-sungai yang menjamin kelangsungan pertanian dengan irigasi tradisional. kondisi yang demikian membenarkan kenyataan kesuburan wilayah ini (gemah ripah loh jinawi).
Dulunya, kawasan ini adalah tempat penyingkiran para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh, bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga-keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.
Keluarga-keluarga keturunan Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokohnya yang telah menyingkir dari pusat kerajaan Matararam waktu itu, kemudian menurunkan para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh ulama hingga saat ini.
Salah satu dari sekian banyak tokoh ulama keturunan Pangeran Diponegoro di kawasan Banyumas ini adalah Syekh Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thariqoh Syadzaliyah di Jawa Tengah.
Silsilah dan Pendidikan
Sudah menjadi tradisi di kawasan Banyumasan kala itu, apabila ada seorang ibu hendak melahirkan, maka dihamparkanlah tikar di atas lantai sebagai tempat bersalin. Suatu saat ada seorang ibu yang telah mempersiapkan persalinannya sesuai tradisi tersebut, namun rupanya sang bayi tidak juga kunjung terlahir. Melihat hal ini, maka sang suami segera memerintahkan istrinya untuk pindah ke tempat tidur dan menjalani persalinan di atas ranjang saja. Tak berapa lama terlahirlah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakan Muhammad Ash'ad, artinya Muhammad yang naik (dari tikar ke tempat tidur). Peristiwa ini terjadi di Kedung Paruk Purwokerto, pada hari Jum'at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H. (1881 M.) Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash'ad bin Muhammad Ilyas. Kelak bayi mungil ini lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk Purwokerto.
Beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan "Surat Kekancingan" (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash'ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.
Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur'an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.
Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan dan pengasuhan dari saudara-saudaranya yang berada di Sokaraja,sebuah kecamatan di sebelah timur Purwokerto. Di Sokaraja ini terdapat saudara Abdul Malik yang bernama Kyai Muhammad Affandi, seorang ulama sekaligus saudagar kaya raya. Memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.
Ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Malik dikirim ke Tanah Suci untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai didiplin ilmu agama, seperti Tafsir, Ulumul Qur'an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Pada tahun 1327 H. Abdul Malik pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih 15 tahun belajar di Tanah Haram. Selanjutnya ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh (lanjut usia). Lima tahun kemudian (1333 H.) ayahandanya (Muhammad Ilyas) meninggal dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Sokaraja.
Sepeninggal ayahnya, Abdul Malik muda berkeinginan melakukan perjalanan ke daerah-daerah sekitar Banyumas, seperti Semarang, Pekalongan, Yogyakarta dengan berjalan kaki. Perjalanan ini diakhiri tepat pada seratus hari wafatnya sang ayah. Abdul Malik kemudian tinggal dan menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Sejak saat ini, ia kemudian lebih dikenal sebagai Syeikh Abdul Malik Kedung Paruk.
Guru-Guru
Syeikh Abdul Malik mempunyai banyak guru, baik selama belajar di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Sayyid Umar as-Syatha' dan Sayyid Muhammad Syatha', keduanya merupakan ulama besar Makkah dan Imam Masjidil Haram dan Sayyid Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya.
Sebelum berangkat ke tanah Suci, Syeikh Abdul Malik sempat berguru kepada Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad'aq (seorang ulama besar yang berusia cukup panjang, wafat dalam usia 141 tahun), Habib 'Aththas Abu Bakar al-Atthas; Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya; Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.
Sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah diperolehnya secara langsung dari sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas; sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah didapatkannya dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki (Mekkah).
Selama bermukim di Makkah, Syeikh Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi'i, diberi kesempatan untuk mengajar berbagai ilmu agama termasuk, tafsir dan qira'ah sab'ah. Sempat menerima kehormatan berupa rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.
Menurut beberapa santrinya, Syekh Abdul Malik sebenarnya tinggal di Makkah selama kurang lebih 35 tahun, tetapi tidak dalam suatu waktu. Di samping belajar di tanah Suci selama 15 tahun, ia juga seringkali membimbing jamaah haji Indonesia asal Banyumas, bekerjasama dengan Syeikh Mathar Makkah. Aktivitas ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama, jadi sebenarnya, masa 35 tahun itu tidaklah mutlak.
Perjuangan Fisik
Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli Thoriqoh senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.
Pada masa-masa sulit zaman penjajahan Belanda dan Jepang, Syeikh Abdul Malik senantiasa gigih berdakwah. Karena aktivitasnya ini, maka ia pun menjadi salah satu target penangkapan tentara-tentara kolonial. Mereka sangat khawatir pada pengaruh dakwahnya yang mempengaruhi rakyat Indonesia untuk memberontak terhadap penjajah. Menghadapi situasi seperti ini, ia justru meleburkan diri dalam laskar-laskar rakyat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro, leluhurnya yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda, maka ia pun senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet.
Pada masa Gestapu, Syeikh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI. Bersamanya, ditangkap pula Habib Hasyim al-Quthban Yogyakarta, ketika sedang bepergian menuju daerah Bumiayu Brebes untuk memberikan ilmu kekebalan atau kesaktian kepada para laskar pemuda Islam. Dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban mengalami shock dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan.
Kepribadian
Dalam hidupnya, Syeikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca al-Qur'an dan Shalawat. Dikenal sebagai ulama yang mempunyai berkepribadian sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian akhlakul karimah. Maka amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.
Syeikh Abdul Malik adalah pribadi yang sangat sederhana, santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahim kepada murid-muridnya, terutama kepada mereka yang miskin atau sedang mengalami kesulitan hidup. Santri-santri yang biasa dikunjunginya ini, selain mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuh waluh, Bojong, juga sanri-santri lain yang tinggal di tempat jauh.
Setiap hari Selasa pagi, dengan bersepeda, naik becak atau dokar, Syeikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian, sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan. Acara ini merupakan forum silaturrahim bagi para pengikut Thoriqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Kedung paruk yang diisi dengan pengajian dan tawajjuhan.
Syeikh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.
Termasuk di antara para ulama yang sering berkunjung ke kediaman Syeikh Abdul Malik ini adalah Syeikh Ma'shum (Lasem, Rembang) yang sering mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik sebagai tabarruk (meminta barakah) kepadanya. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Kholil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas). Para ulama ini merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur'an, namun tetap belajar ilmu al-Qur'an kepada Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk.
Sementara itu, murid-murid langsung dari Syeikh Abdul Malik di antaranya adalah KH Abdul Qadir, Kiai Sa'id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah), KH Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma'shum (Purwokerto) dan lain-lain.
Selain, menularkan ilmunya kepada santri-santi yang kemudian menjadi ulama dan pemimpin umat, Syeikh Abdul Malik juga memiliki santri-santri dari berbagai kalangan, seperti Haji Hambali Kudus, seorang pedagang yang dermawan dan tidak pernah rugi dalam aktivitas dagangnya dan Kyai Abdul Hadi Klaten, seorang penjudi yang kemudian bertaubat dan menjadi hamba Allah yang shaleh dan gemar beribadah.
Keluarga
Syeikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturunan. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K Abu Bakar bin H Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).
Ada sebuah cerita unik tentang putera pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syeikh Abdul Malik berkata padanya, "Nak, besok kamu menikah di surga saja ya?" Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.
Istri kedua Syeikh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari desa Mrenek, Maos Cilacap. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak. Istimewanya, suatu hari Syeikh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, "Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat." Mendengar permintaan ini, Syeikh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.
Sedangkan istri ketiga-nya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan shalihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari puterinya inilah nasab Syeikh Abdul Malik diteruskan.
Pesan dan Berpulang
Salah seorang cucu Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan Beliau kepada cucu-cucunya. Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama'ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.
Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur'an. Baca dan pelajari setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur'an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur'an dan qari'-qari'ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.
Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.
Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum'at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya' dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus. Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum'at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto.
Disadur kembali oleh Zakki Amali
Tuesday, December 1, 2009
Gus Kim Berpesan untuk Kembangkan Pendidikan
SM - Rabu, 01 Desember 2004
TANGIS pelayat yang memadati kompleks Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, seolah-olah tak terbendung saat jenazah KH MS Lutfil Hakim (Gus Kim) diberangkatkan menuju pemakaman. Seiring kalimat tahlil, ribuan pelayat mengantarkan pimpinan dan pengasuh Pondok Futuhiyyah itu menuju peristirahatan terakhir, di kompleks pemakaman keluarga, Selasa (30/11).
Di antara ribuan santri dan pengikut tarekat Mu'tabararoh An Nahdliyyah bertakziah, tampak hadir KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rois Syuriyah PWNU Jateng KH Masruri Mughni, sejumlah kiai dari Jatim dan Jateng, Kakanwil Depag Jateng Drs H Chabib Thoha dan sejumlah pejabat Pemprov dan Pemkab Demak. Di sela-sela Muktamar Ke-31 NU di Donohudan Boyolali, Gus Dur menyempatkan diri melayat Gus Kim. Gus Dur tiba di Futuhiyyah pukul 10.00, dan hanya didampingi ajudan. Kiai yang pernyataannya selama Muktamar NU dinilai kontroversial ini langsung menuju rumah duka di kompleks pondok pesantren. Gus Dur juga melakukan shalat sebagai penghormatan terakhir kepada Rois Aam Idaroh Ulya Thoriqot Mu'tabaroh An Nahdliyyah tersebut.
Seperti diungkapkan adik kandung Gus Kim, KH Hanif Muslih, seluruh keluarga dan masyarakat merasa kehilangan atas kepergian Gus Kim. Dengan kepergian Kiai Hakim, Futuhiyyah kehilangan salah satu kiai besar.
''Pada saat terakhir, beliau berpesan, hendaknya yayasan terus mengembangkan pendidikan dan keluarga diminta menjaga kerukunan,'' ungkap Gus Hanif.
Rasa kehilangan itu pula yang tergambar dari gurat ribuan pelayat yang berbondong-bondong datang dari segala penjuru. Seperti halnya Ahmad Jais (80) yang datang berombongan dari Ungaran. Bersama rekan-rekan tarekat, Jais ingin memberikan penghormatan terakhir kepada putra Kiai Muslih itu. Jais mengaku mendapat baiat Thoriqot Mu'tabaroh dari almarhum Kiai Muslih Abdurrohman, ayahanda Gus Kim. (Ninik D-58t)
Sunday, November 29, 2009
Sosok Ulama Tarekat KH Asrori Al Ishaqi: Anak Macan Akhirnya Jadi Macan Juga
SM 20 Agustus 2009
Meninggalnya KH Asrori Al Ishaqi (58), menjadi berita duka bagi keluarga besar Pondok Al Fithrah dan jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di Tanah Air. Siapa sosok Kiai Asrori?
KARANGAN bunga duka cita dari sejumlah tokoh penting masih berdiri kokoh di pintu gerbang Pondok Assalafi Al Fithrah di Jalan Kedinding Lor 99 Kota Surabaya. Ada karangan bunga dari Presiden SBY, Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bahrul Alam, Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Ronny F Sompie, dan Wali Kota Surabaya Bambang DH.
Para petakziah pun terus berdatangan. Mereka langsung ziarah ke makam tokoh dan mursyid jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, KH Asrori Al Ishaqi, di depan masjid pondok.
Gundukan bekas tanah galian makam masih terlihat basah. Hamparan karpet warna hijau dan sejumlah sekatan kayu lapis bercat putih yang diposisikan sekitar 5 meter dari makam berdiri. Kayu ini untuk membatasi barisan depan peziarah dengan lokasi makam Kiai Asrori.
Para pengurus atau pimpinan pondok pun masih larut dalam suasana duka. ”Masih suasana duka, tak ada wawancara sampai tujuh hari sepeninggal Pak Kiai (Asrori),” ujar seorang santri usai shalat zuhur, kepada Suara Merdeka.
Berdasar referensi tertulis, Kiai Asrori adalah anak KH Utsman Al Ishaqi, sahabat KH Mustain Romli dari Pondok Darul Ulum Rejoso, Jombang. Nama belakang Ishaqi pada Kiai Utsman dinisbahkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman dinilai masih ada jalinan keturunan dengan Sunan Giri.
Ketika Kiai Ramli Tamim masih hidup, ada 3 kiai yang dibaiat sebagai mursyid (pimpinan tarekat) Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, yakni KH Utsman Al Ishaqi Kedinding Lor Surabaya, KH Makki Karangkates Kediri, dan KH Bahri Mojosari Mokojerto.
Berdasar buku ”Politik Tarekat” yang ditulis Mahmud Sujuthi (2001), sepeninggal Kiai Utsman, estafet kepemimpinan lembaga tarekat dipimpin Kiai Asrori, saat usia baru 30 tahun.
Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah berkembang dan memperoleh apresiasi dari banyak umat. Ada kegiatan yang disebut khususiyah yang dihelat tarekat ini yang dihadiri rata-rata 4.000 orang di Pondok Al Fithrah.
“Yang menarik pengamal tarekat pimpinan Kiai Asrori adalah sebagian besar karyawan swasta, PNS, ilmuwan, dan tokoh penting pemerintahan. Di kalangan Tarekat Kedinding Lor yang berhak melakukan baiat kepada anggota baru adalah Kiai Asrori saja selaku mursyid, tak ada khalifah atau badal atau wakil mursyid sebagaimana tarekat Cukir Jombang dan Rejoso Jombang,” tulis Mahmud Sujuthi.
Sebagaimana anak kiai besar dan dihormati karena ilmunya yang tinggi, Kiai Asrori dalam menimba ilmu dan pengetahuan agama mengembara dari satu pondok ke pondok lainnya. Tapi, tempo mondoknya tergolong singkat. Kabarnya, Kiai Asrori pernah nyantri di Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang hanya setahun. Demikian pula di Pondok Pare Kediri dan Pondok Bendo juga setahun.
Karena kepintarannya yang luar biasa, terutama di bidang ilmu agama, di kalangan kiai dan santri pondok, Kiai Asrori dinilai memiliki ilmu laduni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Dia memperoleh ilmu itu tanpa melalui proses belajar-mengajar yang wajar sebagaimana dijalani santri pondok pada umumnya.
Selama menimba ilmu di Pondok Rejoso itu, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum Al-Din karya Imam Al Ghazali dengan sangat baik. “Kalau saya bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya,” ujar KH Utsman Al Ishaqi sebagaimana dikutip dari buku “Politik Tarekat” karya Dr Mahmud Sujuthi.
Karena kepintarannya itu, tak ada keraguan sedikit pun pada Kiai Utsman untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan tarekat yang dipimpinnya kepada anaknya, Kiai Asrori. Kendati Kiai Asrori bukan anak laki-laki tertua dari 9 bersaudara.
“Kiai Asrori ulama tarekat yang luar biasa dan istiqomah menjalankan perannya itu dengan baik. Karena itu, semua fatwa dan pandangannya diikuti umatnya. NU sangat kehilangan sepeninggal beliau,” kata Rois Syuriah NU Jatim, KH Miftakhul Akhyar.
Tarekat Qodiriyyah Wan Naqsabandiyah Kedinding Lor Surabaya di bawah pimpinan Kiai Asrori termasuk 3 lembaga tarekat besar di lingkungan NU. Dua lembaga tarekat lain adalah Tarekat Rejoso Jombang di bawah pimpinan KH Mustain Ramli dan Tarekat Cukir Jombang dengan pimpinan KH Adlan Ali.
Hakikatnya, ketiga tarekat itu awalnya bersumber dari satu wadah, yakni Tarekat Rejoso Jombang. Setelah KH Mustain Ramli merapat ke Golkar pascapemilu 1971 dan mendukung partai itu pada pemilu 1977, terjadi pembelahan tarekat di kalangan NU.
Yang berdiri berseberangan secara politik dengan Tarekat Rejoso adalah Tarekat Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali. Tarekat Cukir ketika itu dekat dengan kalangan PPP dan Pondok Tebuireng Jombang di bawah pimpinan KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).
Tarekat Kedinding Lor di bawah KH Utsman Al Ishaqi memisahkan diri dari Tarekat Rejoso di bawah mursyid KH Mustain Ramli bukan karena pertimbangan politik yakni masuknya Kiai Mustain ke Golkar. Tapi, karena Kiai Mustain menghapus KH Utsman Al Ishaqi dari silsilah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Rejoso.
Padahal, yang mengangkat Kiai Mustain sebagai mursyid adalah Kiai Utsman atas permintaan Nyi Djah, bukan langsung dari ayahnya KH Ramli Tamim.
Pada era 1970-an, komunitas tarekat yang identik dengan kalangan NU itu menjadi sasaran penguasa Orde Baru untuk dirangkul. Soeharto melalui Golkar berhasil merebut dan mengambil hati KH Mustain Ramli yang memimpin Tarekat Rejoso. Padahal, saat itu sebagian besar kiai, tokoh, dan warga NU merapat ke PPP. Sebab, partai ini dinilai sebagai satu-satunya partai yang mewadahi dan memperjuangkan aspirasi umat Islam dan berasas Islam pula.
Karena itu, kiai tarekat lain yang lebih dekat ke PPP mendirikan Tarekat Cukir dengan tokoh utama KH Adlan Ali dan didukung Pondok Tebuireng. Dalam perspektif politik, Tarekat Rejoso dan Cukir berada di posisi berseberangan. Di sisi lain, Tarekat Kedinding Lor berada di titik netral. Tak terikat dengan partai mana pun maupun menyandarkan diri di antara Tarekat Rejoso dan Cukir.
Dari sisi perilaku politik, Tarekat Rejoso bersifat adaptif kompromis, Tarekat Cukir bersifat antagonis, dan Tarekat Kedinding Lor bersifat kooperatif. Selain itu, dari sudut pola pemikiran, antara Tarekat Rejoso dan Kedinding sama-sama bersifat rasionalistik, realistik, dan substantivistik. Sedang Tarekat Cukir bersifat skripturalistik, idealistik, dan formalistik.
Cuma dari sisi afiliasi politik, antara ketiga tarekat itu berbeda-beda. Tarekat Rejoso merapat ke Golkar, Tarekat Cukir bersandar ke PPP, dan Tarekat Kedinding Lor berposisi netral. Karena sifat netralnya secara politik, Tarekat Kedinding Lor di bawah pimpinan Kiai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dengan berbagai kalangan di tingkat nasional.
Kiai Asrori memiliki akses dengan pusat-pusat kekuasaan di Jakarta. Ketika Ibu Tien Soeharto wafat dan diperingati 100 hari kematiannya, Kiai Asrori yang memimpin tahlil akbar di Ndalem Kalitan Solo dan makam Astana Giribangun Karanganyar, Jateng.
Tapi, Tarekat Kedinding Lor tak pernah mengarahkan jamaahnya untuk memilih parpol tertentu pada pemilu, termasuk pada pileg dan pilpres 2009 lalu. Pondok Al Fithrah, selain dikenal sebagai mursyid Tarekat Kedinding Lor Surabaya, Kiai Asrori mewarisi peran ayahnya sebagai pengasuh ponpes. Pondok Assalafi Al Fithrah yang didirikan tahun 1985 bersama 3 santri Pondok Darul Ubudiyah Jatipurwo Surabaya, yakni Zainal Arief, Wahdi Alawy, dan Khoiruddin sekarang mengalami perkembangan pesat.
Pondok Al Fithrah kini memiliki 2.600 santri dan santriwati. Dari jumlah itu, 1.209 santri bersifat menetap dan yang tak menetap sebanyak 1.391 santri. Pondok yang berdiri di atas lahan 4 hektare lebih itu, memiliki lembaga pendidikan di semua tingkatan, dari tingkat TK, MI, MTS, MA, dan STIU Al Fithrah.
Ada sejumlah kegiatan unggulan Pondok Al Fithrah dibanding pondok salaf lainnya di lingkungan NU. Di antaranya, jamaah maktubah, aura aurod, dan qiroatul Alquran. (Ainurrohim-77)
Meninggalnya KH Asrori Al Ishaqi (58), menjadi berita duka bagi keluarga besar Pondok Al Fithrah dan jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di Tanah Air. Siapa sosok Kiai Asrori?
KARANGAN bunga duka cita dari sejumlah tokoh penting masih berdiri kokoh di pintu gerbang Pondok Assalafi Al Fithrah di Jalan Kedinding Lor 99 Kota Surabaya. Ada karangan bunga dari Presiden SBY, Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bahrul Alam, Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Ronny F Sompie, dan Wali Kota Surabaya Bambang DH.
Para petakziah pun terus berdatangan. Mereka langsung ziarah ke makam tokoh dan mursyid jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, KH Asrori Al Ishaqi, di depan masjid pondok.
Gundukan bekas tanah galian makam masih terlihat basah. Hamparan karpet warna hijau dan sejumlah sekatan kayu lapis bercat putih yang diposisikan sekitar 5 meter dari makam berdiri. Kayu ini untuk membatasi barisan depan peziarah dengan lokasi makam Kiai Asrori.
Para pengurus atau pimpinan pondok pun masih larut dalam suasana duka. ”Masih suasana duka, tak ada wawancara sampai tujuh hari sepeninggal Pak Kiai (Asrori),” ujar seorang santri usai shalat zuhur, kepada Suara Merdeka.
Berdasar referensi tertulis, Kiai Asrori adalah anak KH Utsman Al Ishaqi, sahabat KH Mustain Romli dari Pondok Darul Ulum Rejoso, Jombang. Nama belakang Ishaqi pada Kiai Utsman dinisbahkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman dinilai masih ada jalinan keturunan dengan Sunan Giri.
Sebagai Mursyid
Kiai Asrori adalah anak Kiai Utsman dan memiliki 13 saudara yang kini tinggal 9 orang. Kiai Utsman meninggal pada Januari 1984 pada usia 77 tahun. Kiai Utsman adalah santri KH Ramli Tamim, ayah KH Mustain Ramli.Ketika Kiai Ramli Tamim masih hidup, ada 3 kiai yang dibaiat sebagai mursyid (pimpinan tarekat) Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, yakni KH Utsman Al Ishaqi Kedinding Lor Surabaya, KH Makki Karangkates Kediri, dan KH Bahri Mojosari Mokojerto.
Berdasar buku ”Politik Tarekat” yang ditulis Mahmud Sujuthi (2001), sepeninggal Kiai Utsman, estafet kepemimpinan lembaga tarekat dipimpin Kiai Asrori, saat usia baru 30 tahun.
Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah berkembang dan memperoleh apresiasi dari banyak umat. Ada kegiatan yang disebut khususiyah yang dihelat tarekat ini yang dihadiri rata-rata 4.000 orang di Pondok Al Fithrah.
“Yang menarik pengamal tarekat pimpinan Kiai Asrori adalah sebagian besar karyawan swasta, PNS, ilmuwan, dan tokoh penting pemerintahan. Di kalangan Tarekat Kedinding Lor yang berhak melakukan baiat kepada anggota baru adalah Kiai Asrori saja selaku mursyid, tak ada khalifah atau badal atau wakil mursyid sebagaimana tarekat Cukir Jombang dan Rejoso Jombang,” tulis Mahmud Sujuthi.
Sebagaimana anak kiai besar dan dihormati karena ilmunya yang tinggi, Kiai Asrori dalam menimba ilmu dan pengetahuan agama mengembara dari satu pondok ke pondok lainnya. Tapi, tempo mondoknya tergolong singkat. Kabarnya, Kiai Asrori pernah nyantri di Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang hanya setahun. Demikian pula di Pondok Pare Kediri dan Pondok Bendo juga setahun.
Anak Macan
Yang menarik, ketika mondok di Pondok Rejoso Jombang, Kiai Asrori tak aktif mengikuti ngaji. Namun itu tak membuat risau KH Mustain Ramli, pimpinan Pondok Rejoso. “Biarkan saja, anak macan kan akhirnya jadi macan juga,” kata Kiai Mustain Ramli.Karena kepintarannya yang luar biasa, terutama di bidang ilmu agama, di kalangan kiai dan santri pondok, Kiai Asrori dinilai memiliki ilmu laduni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Dia memperoleh ilmu itu tanpa melalui proses belajar-mengajar yang wajar sebagaimana dijalani santri pondok pada umumnya.
Selama menimba ilmu di Pondok Rejoso itu, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum Al-Din karya Imam Al Ghazali dengan sangat baik. “Kalau saya bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya,” ujar KH Utsman Al Ishaqi sebagaimana dikutip dari buku “Politik Tarekat” karya Dr Mahmud Sujuthi.
Karena kepintarannya itu, tak ada keraguan sedikit pun pada Kiai Utsman untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan tarekat yang dipimpinnya kepada anaknya, Kiai Asrori. Kendati Kiai Asrori bukan anak laki-laki tertua dari 9 bersaudara.
“Kiai Asrori ulama tarekat yang luar biasa dan istiqomah menjalankan perannya itu dengan baik. Karena itu, semua fatwa dan pandangannya diikuti umatnya. NU sangat kehilangan sepeninggal beliau,” kata Rois Syuriah NU Jatim, KH Miftakhul Akhyar.
Tarekat Qodiriyyah Wan Naqsabandiyah Kedinding Lor Surabaya di bawah pimpinan Kiai Asrori termasuk 3 lembaga tarekat besar di lingkungan NU. Dua lembaga tarekat lain adalah Tarekat Rejoso Jombang di bawah pimpinan KH Mustain Ramli dan Tarekat Cukir Jombang dengan pimpinan KH Adlan Ali.
Hakikatnya, ketiga tarekat itu awalnya bersumber dari satu wadah, yakni Tarekat Rejoso Jombang. Setelah KH Mustain Ramli merapat ke Golkar pascapemilu 1971 dan mendukung partai itu pada pemilu 1977, terjadi pembelahan tarekat di kalangan NU.
Yang berdiri berseberangan secara politik dengan Tarekat Rejoso adalah Tarekat Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali. Tarekat Cukir ketika itu dekat dengan kalangan PPP dan Pondok Tebuireng Jombang di bawah pimpinan KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).
Tarekat Kedinding Lor di bawah KH Utsman Al Ishaqi memisahkan diri dari Tarekat Rejoso di bawah mursyid KH Mustain Ramli bukan karena pertimbangan politik yakni masuknya Kiai Mustain ke Golkar. Tapi, karena Kiai Mustain menghapus KH Utsman Al Ishaqi dari silsilah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Rejoso.
Padahal, yang mengangkat Kiai Mustain sebagai mursyid adalah Kiai Utsman atas permintaan Nyi Djah, bukan langsung dari ayahnya KH Ramli Tamim.
Pada era 1970-an, komunitas tarekat yang identik dengan kalangan NU itu menjadi sasaran penguasa Orde Baru untuk dirangkul. Soeharto melalui Golkar berhasil merebut dan mengambil hati KH Mustain Ramli yang memimpin Tarekat Rejoso. Padahal, saat itu sebagian besar kiai, tokoh, dan warga NU merapat ke PPP. Sebab, partai ini dinilai sebagai satu-satunya partai yang mewadahi dan memperjuangkan aspirasi umat Islam dan berasas Islam pula.
Karena itu, kiai tarekat lain yang lebih dekat ke PPP mendirikan Tarekat Cukir dengan tokoh utama KH Adlan Ali dan didukung Pondok Tebuireng. Dalam perspektif politik, Tarekat Rejoso dan Cukir berada di posisi berseberangan. Di sisi lain, Tarekat Kedinding Lor berada di titik netral. Tak terikat dengan partai mana pun maupun menyandarkan diri di antara Tarekat Rejoso dan Cukir.
Dari sisi perilaku politik, Tarekat Rejoso bersifat adaptif kompromis, Tarekat Cukir bersifat antagonis, dan Tarekat Kedinding Lor bersifat kooperatif. Selain itu, dari sudut pola pemikiran, antara Tarekat Rejoso dan Kedinding sama-sama bersifat rasionalistik, realistik, dan substantivistik. Sedang Tarekat Cukir bersifat skripturalistik, idealistik, dan formalistik.
Cuma dari sisi afiliasi politik, antara ketiga tarekat itu berbeda-beda. Tarekat Rejoso merapat ke Golkar, Tarekat Cukir bersandar ke PPP, dan Tarekat Kedinding Lor berposisi netral. Karena sifat netralnya secara politik, Tarekat Kedinding Lor di bawah pimpinan Kiai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dengan berbagai kalangan di tingkat nasional.
Kiai Asrori memiliki akses dengan pusat-pusat kekuasaan di Jakarta. Ketika Ibu Tien Soeharto wafat dan diperingati 100 hari kematiannya, Kiai Asrori yang memimpin tahlil akbar di Ndalem Kalitan Solo dan makam Astana Giribangun Karanganyar, Jateng.
Tapi, Tarekat Kedinding Lor tak pernah mengarahkan jamaahnya untuk memilih parpol tertentu pada pemilu, termasuk pada pileg dan pilpres 2009 lalu. Pondok Al Fithrah, selain dikenal sebagai mursyid Tarekat Kedinding Lor Surabaya, Kiai Asrori mewarisi peran ayahnya sebagai pengasuh ponpes. Pondok Assalafi Al Fithrah yang didirikan tahun 1985 bersama 3 santri Pondok Darul Ubudiyah Jatipurwo Surabaya, yakni Zainal Arief, Wahdi Alawy, dan Khoiruddin sekarang mengalami perkembangan pesat.
Pondok Al Fithrah kini memiliki 2.600 santri dan santriwati. Dari jumlah itu, 1.209 santri bersifat menetap dan yang tak menetap sebanyak 1.391 santri. Pondok yang berdiri di atas lahan 4 hektare lebih itu, memiliki lembaga pendidikan di semua tingkatan, dari tingkat TK, MI, MTS, MA, dan STIU Al Fithrah.
Ada sejumlah kegiatan unggulan Pondok Al Fithrah dibanding pondok salaf lainnya di lingkungan NU. Di antaranya, jamaah maktubah, aura aurod, dan qiroatul Alquran. (Ainurrohim-77)
Subscribe to:
Posts (Atom)