Showing posts with label Naqshbandiyah. Show all posts
Showing posts with label Naqshbandiyah. Show all posts

Tuesday, June 1, 2010

*Surau Suluk Induk di Rohul Diresmikan Diharapkan Jadi Pusat Tareqat Rokanhulu




Kamis, 08 April 2010 - 19:27:18 WIB
RAMBAH (rokanhulunews.com) - Dengan diresmikannya Surau suluk Syeh Ibrahim Al Khalidi Naqsabandi sebagai surau suluk Induk (sentral) di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) oleh Bupati Rohul, Kamis (8/4) pagi, diharapkan surau suluk induk yang didirikan di Dusun Ngarai Desa Koto Tinggi Kecamatan Rambah, difungsikan sebagai pusat kegiatan seluruh tareqat di Rohul.

Imbauan dan harapan itu dipaparkan Bupati Rohul Drs H Achmad MSi, dalam sambutannya saat meresmikan Surau suluk Syehk Ibrahim Al Khalidi Naqsabandi sebagai surau suluk Induk di Rohul, yang dihadiri 3 ribu jamaah dan undangan dari Tareqat Bonjol Sumbar dihadiri 250 orang, Tapanuli Utara dan seluruh jamaah Tareqat Naqsabandi se Rohul.

Peresmian surau suluk induk juga dihadiri langsung Ketua Pusat Jamaah Tariqat Muktabarah Indonesia (Jatmi) KH DR Maktub Efendi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau Drs H ashari MH, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Rohul Drs Abdul Ghafar Usman MSc, para Mursyid, Mursyidin serta jemaah tareqat di Rohul, Kepala Dinas, Badan, Kantor, Camat, dan para kepala desa.

''Pembangunan surau suluk Induk ini sebagai bentuk menyatukan seluruh tareqat untuk bersama-sama melaksanan tawajjuh. Dimana dengan adanya surau induk tersebut, seluruh kegiatan persulukan bisa dilaksanakan. Sehingga nantinya tidak ada membedakan antara tareqat yang satu dengan yang lainnua, namun bagaimana seluruh tareqat di Rohul bersama-sama melakukan kegiatan mulai sesuai julukan Rohul sebagai negeri seribu suluk,'' terang Bupati.

Bahkan dengan diresmikannya surau suluk sentral, citra Rohul sebagai �Negeri Seribu Suluk� semakin dikenal serta diakui. Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (TRCK) Ir H Hafith Syukri sebagai pelaksanaan pembangunan surau suluk Syehk Ibrahim menjelaskan, surau suluk dibangun sejak tahun 2008 dari dana APBD Rohul mulai tahun 2008 sebesar Rp1,7 miliar, kemudian tahun 2009 sebesar Rp1,8 miliar dan untuk tahun 2010 ini dilanjutkan membangun rumah Mursyid dengan dana Rp1,1 miliar, hingga secara total dana keseluruhan yang dianggarkan mencapai Rp4,6 miliar.

Bupati juga menjelasakan, bahwa surau suluk yang dibangun Pemkab sendiri, saat ini baru bisa menampung 30 orang jemaah pria dan 30 orang jemaah wanita. Dimana tahun 2011 mendatang, ditargetkan surau mampu menampung 60 jemaah pria dan 60 jemaah wanita.

Ketua Pusat Jemaah Tarikat Muktabarah Indonesia (Jatmi) Jakarta KH DR Maktub Efendi dalam sambutanya menyatakan, walaupun zaman saat ini era digital dan modern, namun zikir dan ibadah harus tetap dilakukan. Apalagi Rohul yang dijuluki �Negeri Seribu Suluk� harus tetap dipertahankan.

''Kita salut atas kemauan keras Bupati Rohul membangun surau suluk dengan dana mencapai Rp5 miliar. Nantinya, surau suluk tersebut bisa difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan terutama zikir, ini menunjukan bahwa sosok Bupati juga memperhatikan keagamaan di Rohul ini,'' ungkap Maktub Efendi.

Bupati juga menyatakan, dulunya surau suluk Syehk Ibrahim pernah berjaya pada saat didirikan. Kemudian ide Bupati selaku cucu dan keturunan Syehk Ibrahim dengan sesuai jabatan dan kemampuan, ingin mengembangkan kejayaan surau suluk dengan membangun surau suluk induk yang juga menggunakan nama Surau suluk Syehk Ibrahim.

Dalam acara peresmian itu, juga dilakukan pemotongan pita, sekaligus pembukaan papan nama surau suluk Syehk Ibrahim serta penyerahan kunci kendaraan operasional surau suluk Syehk Ibrahim. Bupati sendiri berharap, para Mursyid dan khalifah yang ada, untuk merundingkan agar melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan secara bersama.

''Nantinya diharapkan, tidak ada perbedaan sehingga dalam melaksanakan kegiatan di surau suluk induk bisa berjalan lancar,'' terang Achmad.(wan/fik*)

Thursday, January 28, 2010

Buku Biografi Alm KH Nawawi Diluncurkan

19/08/2008

Purworejo, CyberNews. Sedikitnya 25.000 orang memadati komplek Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo, Selasa. Mereka yang berasal dari wali santri, alumni, dan jamaah tariqah ini datang untuk menghadiri laucing buku biografi almarhum KH Nawawi.
KH Nawawi merupakan salah satu tokoh penting di balik berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah yang juga pendiri pesantren tersebut. Laucing buku biografi itu dilakukan bersamaan dengan haul dan khataman santri sebelum memasuki bulan Ramadan.

Buku setebal 183 halaman itu disusun oleh penulis yang tergabung tim Pondok Pesantren An Nawawi. Tim itu terdiri dari Wakil Bupati Drs Mahsun Zain, Sahlan SAg MSi, dan Muhammad Ali Rosidin SPd I.
Biografi yang diberi judul 'Mengenal KH Nawawi Berjan Purworejo, Tokoh di Balik Berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah itu diberi pengantar oleh dua orang kiai yang sudah sangat terkenal. Yakni KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan pengasuh pondok Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Maemoen Zubair.
Dalam kata pengantarnya, KH Ahmad Idris Marzuqi mengungkapkan, KH Nawawi merupakah mursyid Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah yang mengawali karir pengabdiannya dengan menimba ilmu di sejumlah pesantren di Jateng dan Jatim. "Almarhum adalah sosok yang sederhana. Sebuah sikap yang diwarisi dari ayahnya KH Shiddiq bin Zarkasi," katanya.
Disebutkan, KH Nawawi merupakah salah satu kiai yang memprakarsai terselenggarakan Kongres I Alim Ulama Thariqat Qadiriyah/Naqsyabandiyah pada tahun 1957. Kongres itulah yang menandai berdirinya Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah.
Sementara itu, KH Maemoen Zubair mengatakan, buku biografi tersebut sangat perlu untuk menjadi bacaan para muslim dan muslimat ahli sunnah wal jama'ah. "Utamanya para ahli thariqah al-mu'tabarah," katanya.
Pengasuh Pondok An Nawawi Berjan, KH Chalwani mengungkapkan, ditulisnya buku tersebut dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada jama'ah thariqah. "Dalam buku ini banyak diuraikan ajaran-ajaran KH Nawawi yang harus kita teladani. Juga menguraikan kiprahnya di balik berdirinya Jam'iyyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah," katanya.
Salah satu penulis, Muhammad Ali Rosidin mengungkapkan, buku tersebut pertama kali cetak sebanyak 10.000 eksemplar. "Setiap eksemplarnya dijual dengan harga Rp 25.000. Hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan masjid," katanya.


Makam Mbah Dur Dipadati Manusia

Jumat, 28 Desember 2007 Dari Temu Alumni Pesantren Futuhiyyah (2-Habis)

PAGI-PAGI sekali masyarakat dari berbagai daerah sudah berduyun-duyun ke pesarean Mbah Dur (KH Abdurrahman bin Qasidil Haq). Di tempat itu juga terdapat makam KH Ahmad Muthohar, KHMS Lutfil Hakim dan KH Abdurrahman, KH Mohammad Ridlwan dan lain-lain.
Mereka yang kebanyakan mursyid dan santri thoriqoh Qadiriyah Naqsabandiyah secara bersama-sama langsung menggelar tahlil dan yasin. Seolah-olah batu nisan di tempat itu tidak terlihat lagi saking padatnya oleh kerumunan manusia yang berkirim doa.
Mendekati azan zuhur, upacara haul Mbah Dur baru dimulai. Diawali dengan laporan Ketua Alumni KH Abdullah Adib Masrukhan Lc dan sambutan pengasuh pondok KH Hanif Muslih Lc. Sedang tausiyah disampaikan KH Tefur Mawardi dari Purworejo.
Gubernur Ali Mufiz pada kesempatan itu mengingatkan pentingnya keberadaan pondok pesantren dijaga. ''Pesantren ini sebagai benteng penjaga akhlak dan moral,'' tegas Ali Mufiz. Pendidikan agama yang diberikan di lembaga pendidikan menurutnya, porsinya sangat terbatas. Di pondok pesantrenlah penempaan akhlak dan kepribadian maksimal bisa dilakukan.
Menurut Gus Adib, Mbah Dur lahir di Kampung Suburan, Mranggen Demak tahun 1872M. Dialah yang melahirkan ulama besar KH Muslih yang tidak lain ayah KH Hanif Muslih. Mbah Dur pernah menjadi santri Kiai Sholeh Darat Semarang, KH Ibrahim Brumbung Mranggen.
Dari kiai inilah Mbah Dur mengaji ilmu Thoriqoh Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan ia diwisuda menjadi khalifah thoriqoh setelah lulus ujian.
Dalam buku sejarah Futuhiyyah disebutkan, suatu hari Kiai Ibrahim berkata, ''Barang siapa yang nanti tidak batal shalatnya maka dialah yang berhak menyandang khalifah''. Benar juga, pada saat shalat jamaah berlangsung, para santri melihat ular besar merayap dari simbah KH Ibrahim menuju para santri yang jadi ma'mum.
Mereka lari tunggang-langgang dan otomatis batal shalatnya. Kecuali Mbah Dur yang tetap khusyuk meneruskan shalat sampai selesai. Akhirnya dialah yang diwisuda menjadi khalifah thoriqoh. Ia meninggal pada 20 zulhijjah 1360H (tahun 1941M) dalam usia 70 tahun.
Orang Mranggen
Pada kesempatan itu Kiai Hanif mengumumkan pengurus alumni Futuhiyyah masa hidmah 2007-2012 (Ittihadu Khirriji Futuhiyyah). Sayangnya pada jajaran pengurus inti (harian) diisi orang-orang Mranggen. Sedang alumni yang jauh tempat tinggalnya seperti di Samarinda, Pontianak, Jakarta, Lamongan, Sidoarjo, Ciamis, Sumatra dan lain-lain ditempatkan sebagai koordinator wilayah dan bidang-bidang.
Nama-nama alumni seperti Dr KH Taufiq Prabowo Lc DEA Malang, Prof Dr Muhibbin Noor MA, Dr KH Ahmad Munif MA, Prof Dr Qodry Azizy MA, Prof Dr Masykuri Abdillah MA dan lain-lain berada di posisi Dewan Pakar. Menurut Gus Munif pertimbangan rapat formatur menempatkan orang-orang Mranggen di pengurus harian karena latar belakang kepraktisan saja dan tidak membebani tugas alumnus yang punya kesibukan masing-masing. ''Sumbang pikiran dan komunikasi tetap kami butuhkan dan kami harapkan,'' tuturnya.
Karena Futuhiyyah sebagai peninggalan KH Abdurrahman bin Qasidil Haq dan KH Muslih Abdurrahman telah berkembang pesat menjadi lembaga pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat, para alumni diharapkan terus memberikan kontibusi untuk pengembangan Futuhiyyah ke depan. (Agus Fathuddin Yusuf-16)

Ritual Islam Kaffah ala Nahshabandiyah

16 October 2007
Sebuah aliran Islam di Jombang, Jawa Timur bersikukuh menggunakan cara hitung kuno atau aboge, untuk menentukan awal pelaksanaan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Hasilnya, Hari Raya Idul Fitri pun digelar lebih lambat dari perayaan yang dilakukan oleh mayoritas umat Muslim di Indonesia, Minggu (14/10) “Ini persoalan syariat (cara) yang kami yakini benar, dan kami siap mati untuk itu,” kata KH. Nasuha Anwar, pemimpin aliran Tarekat Nashabandiyah Khalidiyah Mujadadiyah al Aliyah pada The Jakarta Post.

Sekilas, tidak ada yang berbeda dengan Masjid Baitul Mutaqin di Dusun Kapas, Dukuh Klopo, Jombang, Jawa Timur. Namun, masjid yang dibangun tahun 1898 di ujung kota Jombang itu adalah pusat ajaran tarekat Nashabandiyah Khalidiyah Mujadadiyah al Aliyah. Sebuah aliran tarekat Islam yang memiliki pola peribadahan yang lebih menekankan pada sholat dan wirid. Penganut tarekat ini meyakini, cara yang dilakukannya mampu memperpendek jalan ke surga.

Tarekat yang akrab disebut Nashabandiyah Khalidiyah ini juga meyakini telah menggunakan cara-cara beribadah RasulullahMuhammad SAW dengan utuh. Cara-cara itu yang selama ini sudah mulai ditinggalkan oleh umat Islam kebanyakan dan menggantinya dengan pendekatan teknologi. Yang paling khas adalah penggunaan cara hitung kuno (aboge) untuk menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Selama ini umat Islam kebanyakan hanya menggunakan cara rukyatul hilal atau melihat bulan secara langsung (biasa dipakai Nahdlatul Ulama/NU)dan hisab atau menghitung secara matematis pergantian bulan (biasa dipakai Muhammadyah). “Tapi cara aboge ini lebih bisa menentukan dengan pas seperti yang diajarkan mursyid (panutan) kami Syech Abdullah Fakir,” kata Nasuha Anwar.

Selain itu, Nashabandiyah Khalidiyah juga memiliki ritual (amaliyah) yang dilakukan di tempat khusus atau Kholwat. Ritual yang biasanya dilakukan pada Bulan Jawa Selo (Jumadil Akhir) itu digelar di kholwat-kholwat yang terletak di samping masjid Baitul Mutaqin. Sembari melakukan puasa tiga hari berturut-turut dan menyepi. “Bentuk amaliyah, termasuk apa yang wirid yang dibaca kali satu ini hanya khusus diberitahukan kepada anggota Nashabandiyah Khalidiyah,” katanya.

Keunikan Nashabandiyah Khalidiyah pertama kali diperkenalkan oleh Syech Abdullah Fakir, menantu Syech Usman Ja’fani, salah satu pembawa Islam di Tanah Jawa. Syech Abdullah Fakir yang lulusan Mekkah itu mendapatkan ilmunya dari Jabal Kubais Mekkah. Ajaran itu kemudian diturunkan kepada Kyai Ja’far, yang diturunkan lagi ke Kyai Anwar, ayah dari Kyai Nasuha Anwar.

“Ajaran Kyai Anwar yang utama adalah Kholwat selama 40 hari di bulan Selo, yang intinya mengimani ketauhidan, tata krama dalam beribadah dan penghormatan kepada orang tua,” kaya Kyai Nasuha. Saat ini, kata kyai yang memiliki dua istri dan enam anak itu, jumlah anggota Nashabandiyah Khalidiyah mencapai 3000-an orang yang tersebar di Jawa dan Sumatera. Namun, seluruh kegiatan dipusatkan di Masjid Baitul Mutaqin yang terletak di tanah wakaf seluas 800 meter persegi itu. Di tanah wakaf itu terbaring jasad Syach Abdullah Fakir dan keturunnannya.

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kebontemu Jombang, Salikun, mengatakan, meski Nashabandiyah Khalidiyah memiliki perbedaan dengan syariat yang dipercaya mayoritas NU, namun hal itu tidak membuat Nashabandiyah Khalidiyah dimusuhi. “Masyakat NU di Jombang tidak merasa terganggu dengan keberadaan Nashabandiyah Khalidiyah, kami tetap hidup berdampingan dengan damai,” kata Salikun.

Selama ini, kata Salikun, bila ada warga Dusun Kapas yang tidak setuju dengan Nashabandiyah Khalidiyah, mereka biasanya memilih untuk beribadah di masjid lain yang tidak menganut aliran Nashabandiyah Khalidiyah. “Kita sama-sama Islam, meskipun nasab (silsilah keturunan) dan syariat (cara) yang kami anut berbeda,” katanya. Islam sebagai agama Rahmatanlil ’Alamin terealisasi di kawasan ini.

Wednesday, January 20, 2010

Ribuan Jamaah Ikuti Dzikir Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah di Jakarta


Senin, 11 Agustus 2008 08:21
Jakarta, NU Online
Ribuan Jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah mengikuti acara dzikir akbar di halaman gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Ahad (10/8) kemarin.

Para jamaah berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) ditambah jamaah ziarah Wali Songo dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta jamaah tarekat dari Malaysia dan Singapura.

Acara dzikir akbar dimulai dengan doa istighotsah dan kemudian diteruskan dengan membaca surat Yasin. Puncak acara dzikir adalah pembacaan kitab Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani yang dibacakan dengan indah, lalu dilanjutkan tahlil dan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedianya acara dzikir akbar Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di Jakarta selalu dipimpin oleh Syeikh KH Asrori Al-Ishaqi namun karena mursyid (guru besar) tarikat ini ini sedang sakit dan dirawat di Surabaya maka pimpinan dzikir diwakilkan kepada KH Hilmi Basaiban.

Ketua Jamaah Alkhidmah Jakarta Yaumi Azhar SH, LLM, mengatakan pada acara dzikir akbar kali ini panitia mengumpulkan 16.000 nasi bungkus dan 600 dus air kemasan dari jamaah Jabodetabek.

Jamaah Alkhidmah adalah organisasi yang menyelenggarakan kegiatan Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di berbagai tempat di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

”Kita datang ke sini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dilindungi dan diselamatkan dari segala musibah. Kita di sini tidak berkumpul tanpa membeda-bedakan status sosial,” kata Yaumi Azhar.

Jamaah Alhidmah Jabodetabek tersebarat di 18 wilayah daerah kota dan selalu menyelenggarakan kegiatan dzikir rutin. Di gedung LIPI dan sekitarnya kegiatan dipimpin langsung oleh Prof. DR. Sofyan Tsauri, mantan direktur lembaga ilmu pengetahuan paling bergengsi di Indonesia itu.

Pada kesempatatan itu kepala biro Askesnas Dr. Sukanta mewakili Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, pembangunan yang dilakukan di Jakarta tidak hanya meliputi bangunan fisik dan material, tetapi juga mental dan spiritual.

”Warga DKI hendaknya memahami program yang dicanangkan oleh pemerintah DKI dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dzikir seperti ini,” katanya. (nam)

Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Dukung JK-Wiranto


Selasa, 9 Juni 2009 17:43
Jakarta, NU Online
Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah mendoakan agar calon presiden Jusuf Kalla memenangkan Pemilu Presiden 2009.

"Kami tadi mendukung dan mendoakan agar JK terpilih pada Pilpres 2009 mendatang," ujar Ketua Umum Yayasan Attarbiyah sekaligus Juru Bicara jemaah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, Helmi Basyaiban, usai bertemu JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (8/6/2009).

Helmi optimis jika jamaahnya yang beranggotakan 500 ribu orang akan mendukung pasangan nomer tiga ini.

"Karena dalam jamaah Tarekat hanya ada satu komando, kalau pimpinan kami sudah bilang pilih pasangan ini, maka secara otomatis semua akan pilih," terangnya.

Mengenai dukungan ini, Helmi mengaku JK tidak memberikan janji apa-apa. "JK hanya bilang, doakan saja," pungkasnya. (okz)

Suluak, Tradisi Unik Naqsabandiyah di Padang

Sejak awal Ramadhan, mereka makan, minum dan tidur di Masjid. Inilah tradisi Suluak.

Kamis, 10 September 2009, 09:59 WIB
Arfi Bambani Amri


VIVAnews - Bulan puasa menjadi bulan penuh rahmat bagi setiap ummat muslim  untuk meningkatkan keimanan. Itikaf (berdiam diri di masjid) menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan hidayah.

Bagi penganut Islam Naqsabandiyah di Padang, itikaf dilakukan dalam waktu yang panjang. Bagi penganut Islam Naqsabandi, mereka menyebutnya dengan istilah 'suluak'. "Suluak merupakan cara mendekatkan diri dengan Allah serta mengkaji sifat-sifat pencipta," kata Zahar (53) jamaah Naqsabandiyah yang ditemui VIVAnews di Surau Baru, Kecamatan Pauh, Padang, Rabu 9 September 2009.

Suluak dilakukan dalam waktu 10 hari hingga 30 hari selama bulan Ramadhan. Selama mengikuti suluak, para jamaah membawa sejumlah perlengkapan seperti beras, bahan-bahan untuk dimakan, pakaian ganti, dan sejumlah perlengkapan tidur.

Perlengkapan keseharian ini disesuaikan dengan lamanya waktu suluak yang diikuti. Selama bersuluak, jemaah menghabiskan waktunya di masjid dan melakukan segala aktivitasnya di dalam rumah ibadah.

Rata-rata peserta suluak didominasi kalangan tua. "Selama bersuluak jemaah mengikuti pengajian-pengajian yang diberikan buya pada waktu-waktu sehabis shalat fardhu," kata Zahar. Saat VIVAnews berkunjung ke Surau Buluh, sedkitnya terlihat empat perempuan tua yang sedang mengikuti kegiatan tersebut.

Di surau tua yang berukuran kecil ini, para peserta suluak menghabiskan waktunya sehari-hari. Masjid tua ini memang terkesan berbeda dengan bangunan yang berada di sekitarnya. Di dalam masjid juga terlihat beragam perlengkapan tidur mereka yang mengikuti suluak.

"Setelah mengikuti suluak diharapkan keimanan kita akan bertambah dan semakin dekat dengan pencipta," kata Zahar. Suluak tak ubahnya seperti menyepi dan menjauhkan diri dari segala kegiatan dunia.

Ajaran Tarekat Naqsabandiyah dibawa Maulana Syaikh H Muhammad  Thaib Bin Ismail (Angku Surau Baru). Aliran Naqsabandiyah diyakini berasal dari Makkah yang dikembangkan murid sekaligus sahabat Rasul Muhammad SAW, Abubakar As Shiddiq.

Angku Syarief Thaeb mengembangkan aliran ini pertama di Sumbar. Hingga saat ini, aliran Tarekat Naqsabandiyah berkembang hampir ke seluruh daerah di Sumbar.

Naqsabandiyah memiliki sistem penanggalan sendiri sehingga Ramadhan dilakukan 30 hari penuh setiap tahunnya. Sesuai kepercayaan aliran ini, Ramadhan bagi jamaah naqsabandiyah dua hari lebih awal dari pemerintah.

Laporan Eri Naldi | Padang

Tuesday, January 19, 2010

Naqsabandiyah dan Tarekat Sattariyah Dukung JK

Kamis, 11 Juni 2009 - 22:15 wib/Rus Akbar - Okezone
PADANG - Ketua Tim Sukses Jusuf Kalla-Wiranto wilayah Sumatera Barat, Irdinansyah Tarmizi mengatakan dua jemaah terbesar di Sumatera Barat, Sattariyah dan Naqsabandiyah mendukung pasangan capres dan cawapres JK-Wiranto.

"Kita sudah menjamin bahwa kedua jemaah Tarekat Sattariyah dan Naqsabandiyah yang jumlahnya ribuan ini akan memilih JK-Wiranto di Sumbar," katanya di kantor DPD Golkar Sumbar, Jalan Rasuna Said, Padang, Kamis (11/6/2009).

Ketua DPP Tarekat Sattariyah Ismet Ismael ternyata merupakan Wakil Ketua DPD Golkar Sumbar, yang secara otomatis memastikan jemaahnya akan mengikuti pimpinannya.

"Beliau telah menyampaikan hal itu pada kita bahwa jemaahnya mendukung JK-Wiranto. Sementara Tarekat Naqsabandiyah menjelang pileg kemarin mereka sudah mengadakan salat bersama dengan partai kita di kantor serta mereka menyatakan dukungan mereka pada Partai Golkar," ujarnya.

Kedua jamaah ini akan ikut meramaikan kampanye terbuka JK-Wiranto pada Minggu, 14 Juni 2009 yang diadakan di lapangan Imam Bonjol Padang.

Dalam kampanye tersebut juga akan diundang beberapa jemaah yaitu NU, Sattariyah dan Naqsabandiyah, serta warga Kota Padang. Rencananya kampanye tersebut akan diikuti 30 ribu orang.

(lam)

Saturday, December 12, 2009

Menelisik Jejak Naqsyabandiah Sejak Abad ke-18 di Riau

Kamis, 10/09/2009 15:58 WIB

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


(Foto: naqshbandi.org)
Pekanbaru - Keberadaan suluk atau tarekat Naqsyabandiah ini sudah berada di Riau sejak abad ke-18 silam. Pengajian dengan cara bersuluk ini awalnya diajarkan oleh Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan yang dia bawa dari tanah suci Makkah.

Tuan Syeh ini lahir di Kota Tengah Kepenuhan yang dulunya menjadi pusat Kerajaan Tuanku Tambusai. Ketika masih remaja, Abdul Wahab Rokan menjalankan rukun Islam yang ke lima yaitu ke tanah suci Makkah. Setelah menunaikan haji, Abdul Wahab tidak langsung kembali ke Tanah Air.

Namun ada 5 tahun warga Riau ini belajar di Jabul Abi Kubis di Makkah. Di sinilah cikal bakal dibawanya aliran Naqsyabandiah ke Riau. Setelah lima tahun menimba ilmu, kembalinya ke tanah Rokan ajaran Naqsyabandiah ini diperluas dengan mendirikan berbagai pondok.

“Inilah sejarah awal cikal bakal lahirnya Negeri Seribu Suluk di Riau. Persulukan ini sudah ratusan tahun usianya dan sampai sekarang, pengikutnya masih terus berkembang, baik di Riau apalagi di Sumatera Utara,” kata tokoh budayawan Riau, Al Azhar dalam perbincangan dengan detikRamadan.

Saat terjadi perang Padri tahun 1838, pengajian Naqsyabandiah ini sempat terganggu sebentar, karena aliran Naqsyabandiah dianggap aliran kaum Islam tua. Tapi perang Padri telah memaksa Raja Tuanku Tambusai penguasa Rokan Hulu yang berbatasan dengan Tapanuli Selatan, Sumut itu harus hijrah ke Negeri Sembilan, Malaysia dan wafat di sana. Belakangan Tuanku Tambusai diangkat pemerintah menjadi pahlawan nasional karena perjuangannya melawan penjajah.

Perkembangan ajaran tarekat Naqsyabandiah yang di bawah Abdul Wahab ini terus berkembang di Riau. Semakin berkembangnya ajaran suluk ini, lantas jamaahnya menjuluki Abdul Wahab Tuan Syeh. Sejak itulah, Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan terus mengembangkan ajarannya sampai ke Langkat, Sumatera Utara.

Menurut Al Azhar, semasa kerajaan Langkat berkuasa, ajaran Naqsyabandiah diterima dengan baik. Itu sebabnya, Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan diberi daerah otoritas untuk mendirikan perpondokan suluk yang cukup luas untuk mengajarkan ilmu suluknya kepada warga di bawah kerajaan Langkat. Dari tahun ke tahun, persulukan yang dibangun Tuan Syeh ini terus berkembang pesat terutama di Langkat.

Belakangan, di Langkat menjadi pusat persulukan terbesar di wilayah Sumatera dibandingkan dipersulukan yang ada Sumbar, Riau dan atau di sejumlah kabupaten lainnya yang ada di Sumut. Sudah tidak terhitung jumlah warga dari berbagai daerah Nusantara mengikuti suluk di sana. Malah jamaah juga datang dari Malaysia.

“Walau Sumut kini menjadi pusat persulukan terbesar, namun Riau tetap saja menjadi persulukan tradisional yang masih satu aliran dengan di Basilam Langkat itu.  Para mursyid yang mengajar di Riau masih satu perguruan dari Basilam,” kata Al Azhar.

Memang bila dilihat dari garis keturunan darah, para mursyid di Rokan, tidak lagi memiliki keterikatan darah dengan Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan. Hanya saja, para mursid atau ustad yang mengajarkan tarekat itu tetap merupakan anak didik turun termurun dari Tuan Syeh Abdul Wahab.

“Sampai sekarang suluk di Rokan dengan di Basilam, Langkat tidak bisa dipisahkan,” kata Al Azhar.

(cha/nwk)


Menengok Negeri Seribu Suluk di Bumi Lancang Kuning

Kamis, 10/09/2009 11:13 WIB

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


(Foto: naqshbandi.org) 


Pekanbaru - Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dijuluki Negeri Seribu Suluk di Bumi Lancang Kuning, Riau. Di daerah ini banyak ditemukan tempat-tempat pengajian atau suluk untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kata suluk, bagi orang Riau atau Sumatera Utara dan Sumatera Barat bukan hal yang asing lagi. Bila ada warga yang menyebut akan bersuluk, itu artinya dia akan meninggal urusan duniawi sementara waktu, dan hanya akan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Untuk bersuluk, warga di Riau tinggal memilih di mana tempat yang akan dia tuju. Namun pusatnya untuk wilayah Riau berada di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Di sana ada 120 pondok untuk bersuluk atau tarekat. Masing-masing sarana suluk dapat menampung ratusan jemaah. Minimal satu lokasi suluk dapat dihuni 70 jemaah yang terdiri dari kaum hawa dan adam.

Banyaknya tempat-tempat persulukan itulah, makanya Kabupaten Rokan Hulu dijuluki
‘Negeri Seribu Suluk’.

Apa lagi di bulan suci Ramadan ini, aktivitas suluk semakin meningkat. Pondok-pondok suluk akan dijubeli jamaah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bila bersuluk itu artinya kita berada di sebuah pondok pesantren yang diasuh para 'tuan syeh' atau bila di Pulau Jawa dikenal dengan istilah kiai. Dalam ajaran suluk ini mengacu pada aliran Tarekat Naqsyabandiah.

“Di bulan puasa seperti ini, di kampung saya itu malah masjid sedikit terlihat sepi. Ini karena warga lebih banyak mengikuti tarekat di pondok-pondok suluk itu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di musala yang ada di tempat suluk itu. Mereka mendekatkan diri dengan cara berzikir saban hari dan meninggal sementara urusan duniawi,” ujar tokoh
budayawan Riau, Al Azhar yang berasal dari Rohul itu dalam perbincangan dengan detikRamadan.

Dalam aliran suluk Naqsyabandiah ini, masing-masing tempat jemaah pria dan wanita dipandu seorang mursyid (ustad). Dari sejumlah lokasi itu, nantinya akan dipandu salah seorang tuan syeh. Aliran suluk ini, jamaah harus memisahkan diri dengan sanak keluarganya, karena jamaah nantinya akan berada di persulukan yang telah disediakan tempat pemondokan. Dalam satu pondok tentunya dipisah antara pria dan wanita.

Masing-masing jamaah nantinya akan diberi kelambu. Kelambu putih inilah yang mereka sebut dengan istilah kuburan. Berada dalam kelambu berarti jamaah masuk dalam kuburnya. Bila keluar dari kelambu, maka jamaah berkumpul di suatu aula untuk berzikir bersama dipandu  mursyid.

“Selama dalam suluk, jamaah Naqsyabandiah ini hanya berurusan dengan Allah. Mereka semata-mata menyerahkan dirinya kepada Allah,” kata Al Azhar yang juga dosen budaya di Universitas Islam Riau (UIR) itu.

Ada hal unik yang diyakini para jamaah Naqsyabandiah ini. Selama mereka mengikuti suluk, maka jemaah tidak memakan makanan yang berdarah. Makan yang berdarah itu dianggap yang harus melalui proses pembunuhan terlebih dahulu. Itu sebabnya, selama mereka suluk, mereka hanya makan lauknya dari sayur-sayuran.

“Ada sebuah keyakinan, kalau memakan yang berdarah sekalipun itu halal hal itu dianggap akan menghalangi mereka untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT selama proses suluk berjalan. Keyakinan ini sampai sekarang masih berlaku bagi jamaah suluk itu,” kata Al Azhar yang sudah berkepala lima itu.

Selama pemondokan ini, keseharian jamaah melaksanakan salat fardu dengan berjamaah. Selepas itu, bersama mursyid mereka menggali ilmu-ilmu Islam dalam berserah diri kepada Allah. Hari-hari mereka hanya salat, zikir dan mengaji.

“Itu sebabnya, mereka tidak pernah putus air wudhunya. Kalau batal, mereka segera berwudhu, karena mereka yakin, hanya dengan bersuci kita bisa lebih dekat dengan Allah,” tutur Al Azhar.

(cha/nwk)
 


Sunday, December 6, 2009

Hilal Tak Terlihat

Duta Masyarakat Selasa, 30 September 2008

SURABAYA�Warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diperkirakan berlebaran bareng. Pasalnya hasil rukyatul hilal di sembilan titik di Jawa Timur Senin (29/9) malam tidak membuahkan hasil. Para perukyat tidak melihat hilal (bulan).

Kesembilan titik rukyatul hilal tersebut adalah Pantai Nambangan Surabaya, Bukit Condro Gresik, Tanjung Kodok Lamongan, Pantai Serang Blitar, Pantai Gebang Bangkalan, Pantai Nyamplong Jember, dan Pasir Putih Situbondo. �Ketujuh tempat ini tidak terlihat dan cuacanya mendung,� kata H Sholeh Hayat, Wakil Tanfidziyah PWNU Jatim, tadi malam.

Sedang dua tempat lain yakni Pantai Ambet Pamekasan, dan Krapat Tunggal Bawean, tidak terlihat apa-apa meski cuacanya saat ini terlihat cerah. �Hasil rukyatul hilal ini dilaporkan ke PBNU sebagai landasan dalam sidang itsbat,� katanya.

Jika hasil dari PWNU Jatim dijadikan sebagai patokan PBNU dalam menentukan 1 Syawal 1429 H atau Idul Fitri, maka akan digenapkan atau diistikmalkan sesuai hasil rukyat, puasa Ramadhan menjadi 30 hari.
�Meski hitungan hisab secara jelas tidak bakal terlihat (rukyatul hilal) tapi sesuai syariat agama dan ajaran ahlussunnah wal jamaah, NU tetap melakukan rukyatul hilal,� terang Koordinator Rukyatul Hilal PWNU Jatim ini.

Karena, lanjut Sholeh, dari rekap hasil perhitungan ijtima� dan tinggi hilal dari metode/sistem yang ditelaah melalui 19 kitab, tinggi bulan rata-rata 1o. Seperti Sulla�im Mayyirain Ijtima� pukul 14:36 tinggi hilal 1o27�30", sedangkan Fathu Al Radf Al Manan, ijtima� pukul 15:22 tinggi hilal terletak pada 1o4�30". �Prediksi awal, dari hasil hitungan ini kemungkinan tidak terlihat cukup besar,� terang Sholeh.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Prof Dr Syafiq Mughni menyatakan sejak awal puasa kemarin pihaknya telah menetapkan 1 Syawal 1429 H akan jatuh pada 1 Oktober mendatang sesuai penghitungan tim ahli hisab PWM Jatim yang dilakukan pertengahan Juli lalu. �Dalam rapat penetapan penghitungan itu, Muhammadiyah sudah menetapkan hari raya Idul Fitri jatuh pada 1 Oktober 2008 besok,� terang Prof Mughni.

Sudah Lebaran

Namun Tarekat Naqsyabandiyah di Kota Padang sudah takbiran Ahad malam. Menurut ajaran mereka, 1 Syawal 1429 Hijriah, jatuh pada pukul 14.00 WIB Senin kemarin (29/9). Sedangkan komunitas muslim Al Muhdor sebuah varian aliran tarekat di Desa/Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, sudah salat Ied, Ahad (28/9).

Malam takbiran Naqsabandiyah di Kota Padang dilakukan di Surau Baitul Makmur dan Surau Baru, Kelurahan Binuang, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Di Surau Baitul Makmur jumlah jamaah yang mengikuti takbiran 13 laki-laki dan 31 orang perempuan.

Menurut pimpinan muslim pengikut ajaran Tarekat Naqsyabandiyah, Syafril Malin Mudo, kaumnya menentukan jatuhnya 1 Syawal berdasarkan bilangan malam dengan berpuasa selama 30 hari. Dengan perhitungan bilangan malam itu, jamaah Tarekat Naqsyabandiyah di Kota Padang menggelar salat Idul Fitri 1429 Hijriah, Senin (29/9) siang di surau-surau kaumnya. Mereka memulai ibadah puasa Ramadhan 1429 Hijriah pada Sabtu, 30 Agustus 2008, atau dua hari lebih awal dari yang ditetapkan pemerintah Indonesia Senin, 1 September 2008.

Sedang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menetapkan 1 Syawal pada tanggal 30 September 2008. Para anggota HTI akan melaksanakan Salat Idul Fitri pada hari Selasa pagi ini. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I HTI Sulsel, Shabran, mengatakan hal tersebut di Sekretariatnya, di Makassar, Senin. Dia menjelaskan, metode yang mereka gunakan adalah hisab (perhitungan matematika astronomi) dan rukyah (pandangan mata). Dari hisab yang mereka lakukan, posisi bulan saat ini sudah akan mendekati posisi 0 (nol) derajat pada poros bumi-matahari. Pihaknya memperkirakan, posisi nol derajat akan terjadi pada hari Senin (29/9), pukul 15.00 WIB.

Imam Salat Ied

Sejumlah nama imam dan khatib yang akan memimpin salat Id di Surabaya dan Sidoarjo di antaranya Drs. Syafi�i di halaman Masjid Al-Badar, Jl. Kertomenanggal IV/1, Drs. M. Nidhom Hidayatullah di halaman Tugu Pahlawan, KH. Mu�ammal Hamidy, Lc di lapangan Gelora 10 Nopember.

Kemudian Drs. H. M. Wahyudi Indrajaya di lapangan Waduk Kedurus Dukuh I, Imam Syaukani, MA di halaman Masjid Taqwa Banjarsugihan, Ir. H. Imam Sugiri, MM di lapangan Hokky, Jl. Dharmawangsa, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni MA di lapangan Gunungsari Indah AA-EE, Gunungsari, Prof. Dr. Ir. H. Ika Radjatun di Terminal Bratang, Drs. Imam Addaruqudni, MA. di Jl. Wiguna Gununganyar. Sedangkan di Sidoarjo di antaranya Prof. Dr. A. Jainuri, MA di halaman Masjid An-Nur Sidoarjo, Jl. Mojopahit Sidoarjo, Drs. Yoyon Mudjiono, M.Si. di lapangan belakang Kantor Polisi Lama Sedati Gede, Prof. Dr. Imam Bawani, MA di lapangan Taman Pondok Jati Geluran. (sir)

Satu Daerah Tiga Idul Adha

Duta Masyarakat Rabu, 10 Desember 2008
PADANG - Sekitar 50 ribu warga muslim penganut aliran Tarekat Sattariyah akan melakukan salat Idul Adha, Rabu (10/12) pagi ini. Penetapan Idul Adha oleh pengikut aliran tarekat yang dibawa Syech Burhanuddin tersebut molor dua hari dibanding jadwal yang ditetapkan pemerintah karena masuknya hilal dilihat dengan mata telanjang.

�Sebagian besar surau di Padang Pariaman baru akan melaksanakan salat Idul Adha besok,� ujar Bachtiar (74), warga Kelurahan Sungai Sarik, Padang Pariaman ketika Selasa kemarin.

Tidak hanya dalam merayakan Idul Adha, Ramadhan lalu pengikut tarekat Sattariyah juga terlambat memulai puasa dua hari dari jadwal yang ditetapkan pemerintah dan terlambat melaksanakan salat Idul Fitri satu hari dari jadwal resmi pemerintah. Namun pengikut Syeikh Burhanuddin di Koto Tangah, Padang, sudah merayakan Idul Adha Selasa kemarin.

Afriyono (30), ustad Mushala Darul Fallah Simpang Kalumpang, Kelurahan Lubuk Buaya, Koto Tangah, Padang, salah satu musala Sattariyah, mengatakan puluhan pengikut aliran Sattariyah di Koto Tangah Padang menggelar Shalat Idul Adha di Mushala Darul Fallah pagi kemarin dan dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. �Berdasarkan perhitungan kalender hijriyah hari raya Idul Adha jatuhnya hari ini. Kami lakukan perhitungan sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW,� katanya, kemarin.

Sebelumnya lagi sekitar 1.000 orang jamaah tarikat Naqsabandiyah di Sumatera Barat malah sudah merayakan Idul Adha pada Sabtu (6/12). (det/ok)

Hamka ternyata penganut tarekat: BAIAT PADA ABAH ANOM SURYALAYA


Duta Masyarakat Selasa, 16 Juni 2009
SIAPA sangka mantan pimpinan Muhammadiyah Buya Hamka ternyata mengikuti tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Ketua MUI pertama ini berbaiat kepada Abah Anom, mursyid tarekat dari pesantren Suryalaya Tasikmalaya.

Hal ini diungkapkan Dr Sri Mulyati, pengajar tasawwuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baru-baru ini. �Ini penelitian pribadi saya ketika menyelesaikan disertasi, ada fotonya ketika berbaiat dengan Abah Anom. Cuma ada sebagian orang Muhammadiyah yang tak percaya,� katanya.

Mantan Ketua Umum Fatayat NU ini menuturkan, Hamka sendiri pernah berujar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya bahwa dirinya bukanlah Hamka, tetapi �Hampa�. �Saya tahu sejarahnya, saya tahu tokoh-tokohnya, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya, karena itu saya mau masuk. Akhirnya beliau masuk, karena mungkin haus spiritual,� tandasnya.

Hamka memang dikenal memahami dunia tarekat. Salah satu karyanya adalah Tasawuf Modern, yang mengupas dunia tasawuf dan penerapannya pada era modern ini.

Tokoh lain yang dikenal publik sangat rasional tetapi juga mengikuti tarekat adalah Harun Nasution. Menurut Sri Mulyati yang lulus doctor dari McGill University ini, persentuhan Harun dengan dunia tarekat dimulai ketika mengantar proses penyembuhan anaknya ke Suralaya. Ia melihat, hanya dengan sholat tahajjud saja, seseorang bisa sembuh.

�Akhirnya, sampai akhir hayatnya, beliau sangat sufi, ikut Abah Anom. Padahal beliau seorang profesor yang sangat rasional,� terangnya.
Ibnu Taimiyah, yang oleh sebagian orang dipercaya anti-tarekat, ternyata juga secara pribadi mengikuti tarekat.

�Dalam buku Syeikh Hisyam Kabbani, dia belajar dan mempraktekkan tarekat, memang tidak mengajarkan. Seperti Imam Ghozali, belajar dan mempraktekkan, meskipun bukan mursyid, setelah dia tidak puas di ilmu kalam, akhirnya belajar tasawwuf dan mengamalkan sehingga menghasilkan rekonsiliasi,� ujarnya.n

KH. AHMAD ASRORI AL-ISHAQI: Eksistensi tarekat-kiai menyatukan umat

Duta Masyarakat Sabtu, 18 Juli 2009
Di pesantren Al-Fithroh, akan digelar haul akbar dan haflah dzikir Maulidurrasul, Sabtu-Minggu (25/26) mendatang. Inilah sosok Kiai Asrori Al-Ishaqi, pengasuhnya.

Dalam sebuah pengajian, KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi mengajak umat Islam untuk memahami pengertian tarekat secara proporsional. �Ada orang berpendapat miring tentang tarekat, dikira seseorang hanya disuruh berdzikir melulu tanpa bekerja. Ini menunjukkan sebuah kedangkalan pendapat dalam memandang tarekat,� tutur Mursyid Tarekat Qadiriyah Wan-Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah (dinisbatkan kepada Kiai Utsman).

Kiai Asrori pun melanjutkan petuahnya. �Apa definisi dunia dan akhirat. Yang dinamakan dunia, kulluma yusdziruka anillah fahuwa dunya wakulluma yuinnuka alallah fahuwal ukhra. Apapun yang menghalangi, yang mendindingi yang mengganggu kita untuk menghadap kepada Allah, itulah dunia. Apakah itu berbentuk ilmu, ibadah, dzikir, bila tidak bisa didudukkan pada kedudukan yang betul-betul yang akan diterima dan di-ridhai oleh Allah, adalah dunia. Sebaliknya, apa pun, yang bisa mendorong, menolong, membantu kita untuk menghadap kepada Allah, jangankan ilmu yang mendorong kita beribadah kepada Allah, atau pun segala sesuatu ilmu yang bisa mendorong kepada ridha Allah, itu adalah akhirat.�

Dalam setiap ceramah Kiai Asrori, selalu mendapat perhatian intens dari umat Islam. Lalu, faktor apa yang mempersatukan umat Islam, yang setiap dengan ajaran-ajaran Sang Kiai? Umat rela berdesak-desakan selama berjam-jam? Dua sisi menjadi faktor penentu: tarekat dan eksistensi kiai� Kiai Asrori sendiri selaku Mursyid Tarekat Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah (dinisbatkan kepada Kiai Utsman).

Konon, almaghfurlah KH Utsman adalah seorang santri kesayangan KH Romli Tamim (ayah KH Musta�in) Peterongan, Rejoso, Jombang. Kiai Utsman dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta�in (sekitar tahun 1977), Kiai Utsman mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya, kawasan Sawah Pulo Surabaya.

Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktivitas tarekat di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jamaah yang hadir semakin membeludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwah Kiai Asrori dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. �Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi�, ujarnya.

Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu, Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al-Fithroh dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok Tanah Air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.

Jamaah Al-Khidmah

Sadar bahwa manusia tidak akan hidup di dunia selamanya, Kiai Asrori telah berfikir jauh ke depan untuk keberlangsungan pembinaan jamaah yang sudah jutaan jumlahnya. Perkembangan jumlah murid cukup menggembirakan ini sekaligus mengundang kekhawatiran. Banyaknya murid yang berbaiat di Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah menunjukkan, ajaran ini memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi murid-murid yang telah berbaiat terus dibina melalui berbagai majelis, sehingga amalan-amalan dari sang guru tetap terpelihara.

Di sisi lain banyaknya murid juga mengundang kekhawatiran sang guru. Karena mereka tidak terurus dan terorganisir dengan baik, sehingga pembina-annya pun kurang termonitor. Kondisi inilah yang mendorong beberapa murid senior memiliki gagasan untuk perlunya membentuk wadah di samping dorongan yang cukup kuat dari Kiai Asrori sendiri, sehingga diharapkan dengan terbentuknya wadah bagi para murid-muridnya dapat lebih mudah melaksanakan amalan amalan dari gurunya.

Maka dibentuklah wadah bernama Jamaah Al-Khidmah. Organisasi ini dengan kegiatan utamanya ialah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Majelis Khatmil Al-Qur�an, Maulid dan Manaqib serta kirim doa kepada orang tua dan guru-gurunya.

Demikian sepenggal perjalanan dakwah yang dilakukan Kiai Asrori pada periode awal. Keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jamaahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta tarekat sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan tarekat.

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat tarekat. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah.n

Friday, December 4, 2009

Ratusan Warga Salat Gerhana


26-1-2009-metro26-1-2009-gerhana.JPG
SRIPO/HUSIN
SALAT GERHANA --- Ratusan warga di Talangjambe, Sukarami, Palembang menggelar salat gerhana matahari  tepat pukul 16.30 di komplek Pesantren Aulia Cendikia. Fenomena alam ini jarang terjadi sehingga warga memanfaatkan momentum ini untuk berdoa dan melakukan taubat.
Sriwijaya Post - Senin, 26 Januari 2009 18:45 WIB
PALEMBANG, SENIN - Ratusan warga Talangjambe, Kecamatan Sukarami, Palembang menggelar salat gerhana Matahari sekitar pukul 16.30, Senin (26/1) di Komplek Pesantren Aulia Cendikia. Salat diikuti anak-anak dan orang dewasa.
Selesai salat, warga yang hadir juga mendengarkan khutbah singkat yang disampaikan Ustad Syaiful Wardi.
Suasana salat gerhana yang dilakukan di Palembang kebanyakan dilakukan di ruang terbuka sehingga masyarakat dapat merasakan detik-detik gerhana. Hanya saja, peristiwa alam ini tidak dapat disaksikan secara langsung oleh warga karena cuaca di Palembang menndung dan matahari diselimuti awan hitam. Namun, saat pelaksanaan salat gerhana, suasana memang terasa gelap tetapi setelah itu, langit kembali cerah.
Selain di komplek pesantren Aulia Cendikia, pelaksanaan salat Gerhana juga dilakukan di Pesantren Innayatullah di Desa Gasing diikuti 318 orang. Juga Pengajian Raudhatul Quran di Plaju, Majelis Tarekat Qodariyah Wa Naqsabandiyah, Plaju dan Majelis Taklim Asmaul Husna di Talang Jambi.  Secara umum pelaksanaan gerhana berlangsung khusuk.    

Wednesday, December 2, 2009

Naqsabandiyah Sudah Idul Adha


PDF Print E-mail
Minggu, 07 Desember 2008
PADANG, TRIBUN  - Meski sempat dipertanyakan oleh Departemen Agama (Depag), Jemaah Naqsabandiyah tetap meyakini Hari Raya Idul Adha jatuh pada Sabtu (6/12) kemarin. Jemaah tersebut menyatakan telah melakukan perhitungan sejak zaman Rasulullah dengan kalender Arab.
Karena itulah sekitar 3.000 anggota Jemaah Naqsabandiyah di Sumatera Barat, Riau, dan Bengkulu melakukan Shalat Id lebih awal dari penetapan pemerintah dan sejumlah ormas Islam lainnya pada Senin (8/12) besok.

Di Surau Baru kawasan Kelurahan Cupak Tangah ,Kecamatan Pauh, Kota Padang,-- misalnya, warga mulai melakukan ibadah sekitar pukul 07.00 WIB.

Layaknya perayaan Idul Adha, mereka juga melakukan penyembelihan tujuh hewan kurban yang kemudian dibagikan kepada warga sekitarnya. Perayaan serupa terjadi di daerah Pasaman, Sasak, Kota Paya Kumbuh, dan Kabupaten Solok.

Menurut guru agama, Syafri Malin Mudo di Musala Baitul Makmur, Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang,  mereka memang sempat didatangi Kepala Kanwil Departemen Agama Sumbar bersama dengan MUI. “Tapi kami telah yakin Idul Adha jatuh pada hari Sabtu ini, dan ini juga perhitungan sejak dulu. Kami membuat kalender Arab,” katanya sambil menunjukkan kalendernya yang ditempel di dinding musala yang terletak di Jalan Dr M Hatta di Padang.

Munir, pengurus Surau Baru menambahkan, pihaknya menetapkan jatuhnya  Idul Adha berdasarkan perhitungan lamanya bulan hijriyah  29 dan 30 hari.

Menanggapi hal itu, MUI akan meminta pertanggungjawaban kepada Jemaah Naqsabandiyah. “Saya kira akan kita minta tanggung jawab penghitungannya. Apakah mereka melihat bulan atau atas dasar hisab. Hisab itu terjadi justru setelah wukuf. Di Arab Saudi saja baru besok (Minggu),” terang Sekjen MUI Ikhwan Syam.

Lain lagi yang diyakini pengikut Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah di Jombang, Jawa Timur. Mereka berencana menggelar Shalat Idul Adha, Selasa (9/12). Penetapan itu sebatas hasil hisab atau penghitungan bulan. “Jika bulan di tanggal 29 Dzulqo’dah tidak tampak, maka kami genapkan menjadi 30 hari. Begitu pula sebaliknya,” kata pengurus tarekat, KH Nasuchah Anwar.

Meski kemungkinan berbeda dengan mayoritas umat Islam yang Shalat Id Senin, namun tarekat ini menganggap sebagai kewajaran. “Sama-sama punya dasar dalam menentukan hukum,” tandas Nasuchah.

Tarekat yang mengklaim memiliki banyak anggota di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, sering berbeda dengan pemerintah. Salat Idul Adha tahun 2007 juga digelar sehari setelah pemerintah menetapkan hari lebaran haji, Jumat (20/12) silam.

Begitu pula saat memulai bulan puasa maupun Shalat Idul Fitri tahun ini. Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah yang mirip ajaran Islam Jawa ala warga NU ini, berbeda dengan pemerintah maupun mayoritas ormas Islam.

Sambut Wukuf
Sementara itu, jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia mulai diberangkatkan ke Padang Arafah pada Sabtu pagi untuk mengikuti prosesi wukuf (berdiam untuk berzikir, istigfar dan berdoa). Akibat jadwal yang bersamaan inilah, jalan-jalan menuju kawasan Armina menjadi macet.

“Kita juga menetapkan pemberangkatan jamaah haji Indonesia yang jumlahnya 210.000 ke Arafah sejak sabtu pagi. Diharapkan Minggu pagi semuanya sudah berada di Arafah,” kata Ketua PPIH Arab Saudi Nur Samad Kamba.

Terkait masalah transportasi, Nur Samad menegaskan bahwa transportasi Arafah Musdalifah dan Mina tetap akan menggunakan sistem Taraduddi seperti tahun lalu. Dengan cara ini diharapkan jamaah dapat tenang selama melaksanakan ibadah di Armina karena pasti terangkut.

“Dalam safari wukuf disediakan 19 ambulans, empat couster, untuk mengangkut 70 pasien. Untuk 130 pasien jamaah yang bisa duduk disiapkan tiga bus besar” kata Nur Samad.

Diperoleh informasi pula, dari total jemaah haji Indonesia 210.000 orang, 107 jemaah meninggal dunia karena berbagai sebab. Sedangkan jamaah haji yang dirawat di BPIH Makkah tercatat 111 orang dan di Rumah Sakit Arab saudi 60 orang.(tic/ant/dtk)

Jemaah Tarekat di Jelbuk, Berlebaran Lebih Awal

Rabu, 16 September 2009 | 17:13 WIB | Posts by: Sugeng Wibowo
SURABAYA | SURYA Online - Jemaah Thariqah Naqsabandiyah Jombang, Jawa Timur (Jatim) akan berlebaran pada 21 September. “Sejak dulu, mereka memang berbeda, tapi sifatnya hanya lokal,” kata koordinator rukyat PWNU Jatim H Sholeh Hayat di Surabaya, Rabu (16/9).
Menurutnya, jemaah Thariqah Naqsabandiyah Jombang mencapai 5.000 orang, namun jemaah mereka yang berlebaran berbeda hanya berkisar 1.000-1.500 orang. “Jadi, dampaknya hanya lokal dan tidak akan sampai mempengaruhi kebijakan secara umum yang dilakukan NU, Muhammadiyah, dan pemerintah tentang Idul Fitri,” kata Sholeh.
Bahkan, jemaah Thariqah Naqsabandiyah di Padang dengan anggota hanya puluhan orang juga akan berlebaran secara berbeda. “Jemaah Thariqah Naqsabandiyah di Padang justru akan berlebaran paling akhir yakni 23 September, sedangkan jemaah Aboge di Sulawesi justru lebih awal yakni 19 September,” katanya.
Jemaah tarekat di Jelbuk, Jember, lebih awal, karena mereka diperkirakan berlebaran pada 17-18 September.
“Insya-Allah, pemerintah Saudi Arabia akan menetapkan Idul Fitri pada tanggal 20 September atau sama dengan keputusan Muhammadiyah, NU, Persis, HTI, dan Dewan Syuro PKS,” kata Sholeh.ant

Ijma’ Ulama Aceh: Tarekat Naqsabandiyah Kadirun Yahya Sesat

Serambi Indonesia 26 May 2009

IDI - Hasil kesepakatan ulama (ijma’) Aceh menyatakan bahwa Tarekat Naqsabandiyah yang diajarkan oleh Kadirun Yahya sesat dan menyesatkan. Karena itu, kepada pengikut tarekat itu diminta segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar sesuai dengan aliran ahli sunnah wal jama’ah.

Hal itu disampaikan Abuya Muhibuddin Waly usai menggelar musyawarah akbar terbuka dengan para ulama dari MUNA, HUDA dan MPU Kecamatan Darul Aman, di Halaman Masjid Besar Baitul Muttaqin, Idi Cut, Aceh Timur, Minggu (24/5) terkait dengan mulai beredarnya tarekat naqsabandiyah tersebut di kawasan Idi Cut dan Julok, Aceh Timur.

“Setelah meneliti, mengkaji, dan mempertimbangkan, serta merujuk kepada alquran serta hadis, maka Tarekat Naqsabandiyah yang mursyidnya Kadirun Yahya kami nyatakan tidak sesuai dengan aliran ahli sunnah wal jama’ah,” demikian antara lain fatwa yang dibacakan oleh Abuya Muhibuddin Waly.

Sebelum diputuskan sesat terhadap tarekat tersebut, di hadapan ribuan umat Islam, Abuya Muhibuddin Waly terlebih dahulu juga mendengarkan beberapa keterangan saksi terkait tarekat tersebut. Diantara para teungku dayah yang meneliti tarekat itu juga menyebutkan, di dalam tarekat itu diajarkan bahwa ayat al-quran dapat menghidupkan orang yang telah mati, dan juga meyakini roh orang mati itu terkatung-katung di antara langit dan bumi.

“Selain itu juga dianjurkan dalam tarekat tersebut, bagi siapapun yang telah suluk pada tempat yang telah ditentukan, umat Islam itu tidak lagi diwajibkan shalat Jumat selama-lamanya,” kata Tgk Burhanuddin, Pimpinan Pondok Pesantren Malikul Saleh Buket Kawat, Idi Cut. Kepada Abuya, Tgk Burhanuddin menanyakan tentang kebenaran ajaran itu. Dengan spontan Abuya menjawab bahwa itu semuanya bohong dan sesat lagi menyesatkan. Tgk Burhanuddin juga mengatakan, ia selama ini telah berhasil mengumpulkan sejumlah fotocopy buku-buku yang menjadi rujukan pengikut Tarekat Naqsyabandiyah Kadirun Yahya.

Bahkan di dalam tarekat itu juga diajarkan, bagi orang yang belum mencukupi biaya untuk naik haji dianjurkan untuk pergi ke sebuah tempat dulu. “Apakah benar seperti itu. Adakah dalam al-quran dan hadis disebut seperti itu,” tanya Tgk Burhanuddin yang disambut ucapan astagfirullah oleh ribuan pengunjung.

Ditengah-tengah musyawarah akbar terbuka itu, pihak Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur juga menghadirkan salah satu pengikut Tarekat Naqsyabandyah Kadirun Yahya. Ia adalah Tgk MKyang menjadi seorang pimpinan pesantren di Kecamatan Idi Cut. Namun dalam sebulan terakhir ratusan santrinya berangsur hilang, karena Tgk MZ dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam.

Dalam kesempatan itu, Tgk MZ juga diberikan kesempatan untuk menjelaskan segala tuduhan yang dialamtkan kepadanya. Bahkan, Tgk MZ menyatakan siap bersumpah atas nama Allah SWT bahwa ia tidak pernah mengamalkan tarekat yang menyimpang dari ajaran Islam. Namun ia juga tidak membantah ketika disampaikannya amalan yang berkembang di bawah pimpinannya banyak yang salah. “Saya siap bertaubat jika apa yang selama ini saya pelajari itu menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri,” kata Tgk MZ. Seperti diketahui, Almarhum Kadirun Yahya yang berdomisili di Sumatera Utara mengajarkan tarekat naqsabandiyah. Banyak orang yang belajar dan mengamalkan ajaran ini, termasuk dari Aceh.

Selain itu, Abuya juga menyebutkan, tidak sedikit tarekat yang diamalkan oleh sekelompok orang yang mengganggap itu dibenarkan oleh agama. Ia mencontohkan, akidah salek buta. Menurut Abuya, itu adalah penyakit yang amat membahayakan, karena itu harus dibinasakan dari Aceh dan pengikutnya segera bertaubat dengan taubat nasuha.

Abuya juga berharap, agar umat Islam di seluruh Aceh untuk bersatupadu dalam aliran ahli sunnah wal jamaah dengan Mazhab Imam Syafi’i. “Jangan pernah berniat memecah belah umat Islam, karena itu mari kita bersatu menjaga kemurnian Islam itu sebaik-baiknya,” harap Abuya Muhibuddin Waly. (yuh)

Tuesday, December 1, 2009

Abah Anom Terima "Piagam Emas"

PR - Kamis, 08 Januari 2009 , 11:42:00
TASIKMALAYA, (PRLM).- Pimpinan Pondok Pesantren (Pontren) Suryalaya Tasikmalaya, Abah Anom memperoleh penghargaan "Piagam Emas" dari PBB, atas perannya dalam penanganan narkotika dan obat terlarang (narkoba).
Juru bicara Pontren Suryalaya, K.H. Zaenal Abidin, Kamis (8/1), mengatakan, Pontren Suryalaya selama ini selalu konsisten terhadap penanganan narkoba. Saat ini sudah ada 31 inabah (tempat rehabilitasi pecandu narkoba) yang dimiliki Pontren Suryalaya. Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya berada di luar negeri.
Semetnara itu, Kapolda Jabar, Irjen Timur Pradopo menyampaikan selamat dan ucapan terima kasih terhadap pimpinan Pontren Suryalaya. "Santri selain mendalami ilmu agama, juga akan sangat lebih berarti jika membantu dalam penanganan narkoba," katanya. (A-97/A-147)***

Jamaah Naqshbandi Dibubarkan karena Belum Ada Izin

Jum'at, 18 September 2009 - 14:08 wib

Fahmi Firdaus - Okezone
JAKARTA - Salat Ied yang diikuti sekira 150 jamaah Naqshbandi Al-Haqqoni dibubarkan secara paksa oleh warga Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Warga beralasan pembubaran dilakukan karena jamaah Naqsahbandi belum pernah meminta izin dari Ketua RT/RW setempat.

"Saya tidak tahu dengan keberadaan mereka. Seharusnya mereka meminta izin kepada kita," kata Entong Syafei, Ketua RW03 Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, saat ditemui okezone, Jumat (18/9/2009).

Menurutnya, salat Ied jamaah Naqshbandi baru kali pertama digelar di lingkungannya. Tadi pagi, jamaah menggelar salat di Sekretariat Rabbani Sufi Institut of Indonesia milik seorang pengusaha di Jalan Bango II/18, RT05/RW03, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Merasa terganggu dengan jamaah yang memiliki perbedaan pandangan merayakan hari raya Idul Fitri ini, spontan warga langsung membubarkannya.

"Langsung saya minta kepada mereka untuk menghentikan shalat Ied," sambung Entong.

Dia menuturkan, salat Ied yang digelar jamaah ini sangat menyimpang dari ajaran Islam sebenarnya. (dnt)
(lsi)