Showing posts with label Syattariyah. Show all posts
Showing posts with label Syattariyah. Show all posts

Wednesday, January 20, 2010

Tarekat Syattariyah Dukung Mega-Prabowo


Jumat, 19 Juni 2009 07:46
Jakarta, NU Online
Pemimpin Tarekat Syattariyah KH M Sofyan al-Mursyid menyatakan ketertarikannya kepada pasangan Megawati-Prabowo Subianto. Menurutnya pasangan ini selalu mengedepankan ekonomi kerakyatan.

Sebagai wujud dukungannya, dikatakannya, 270 kiai di dalamnya bergabung dengan Front Persatuan Pendukung Prabowo (F-PPP). Mereka juga siap menggalang dukungan massa untuk Prabowo.

"Pembelaannya kepada nasib petani dan nelayan membuat kami tertarik. Komitmennya membela rakyat miskin, membuat kami tidak ragu memberikan dukungan," kata Sofyan kepada wartawan di Jakarta seperti dilansir okezone.com, Jum’at (18/6).

Sofyan menambahkan, pemihakan Prabowo kepada rakyat kecil sudah terlihat ketika memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPI).

Dia menegaskan, anggota Tarekat Syattariyah tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan anggota terbanyak ada di Provinsi Jawa Timur yang menjadi basis NU. Untuk Jawa Timur, pihaknya mengaku sudah didukung 400 khalifah (tingkat kabupaten) dan muqoddam (tingkat kecamatan). "Nah, yang tergabung dalam tarekat  ini mulai dari kiai khos hingga kiai kampung," ujarnya.

Menurut Sofyan Tarekat Syattariyah merupakan bagian dari NU. Karena itu, pihaknya tidak akan kesulitan untuk mendapat dukungan dari warga NU. Mengenai sosok Megawati, Sofyan tak mempersoalkan kepemimpinan perempuan. Sebab, kepemipinan tidak dilihat dari jenis kelamin melainkan dari kemampuan.

"Jadi tidak ada masalah dengan Ibu Megawati. Pada Pilpres 2004 lalu, Ibu Megawati berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi yang saat itu menjabat Ketua Umum PBNU," ungkapnya. (sam)

Tuesday, January 19, 2010

Naqsabandiyah dan Tarekat Sattariyah Dukung JK

Kamis, 11 Juni 2009 - 22:15 wib/Rus Akbar - Okezone
PADANG - Ketua Tim Sukses Jusuf Kalla-Wiranto wilayah Sumatera Barat, Irdinansyah Tarmizi mengatakan dua jemaah terbesar di Sumatera Barat, Sattariyah dan Naqsabandiyah mendukung pasangan capres dan cawapres JK-Wiranto.

"Kita sudah menjamin bahwa kedua jemaah Tarekat Sattariyah dan Naqsabandiyah yang jumlahnya ribuan ini akan memilih JK-Wiranto di Sumbar," katanya di kantor DPD Golkar Sumbar, Jalan Rasuna Said, Padang, Kamis (11/6/2009).

Ketua DPP Tarekat Sattariyah Ismet Ismael ternyata merupakan Wakil Ketua DPD Golkar Sumbar, yang secara otomatis memastikan jemaahnya akan mengikuti pimpinannya.

"Beliau telah menyampaikan hal itu pada kita bahwa jemaahnya mendukung JK-Wiranto. Sementara Tarekat Naqsabandiyah menjelang pileg kemarin mereka sudah mengadakan salat bersama dengan partai kita di kantor serta mereka menyatakan dukungan mereka pada Partai Golkar," ujarnya.

Kedua jamaah ini akan ikut meramaikan kampanye terbuka JK-Wiranto pada Minggu, 14 Juni 2009 yang diadakan di lapangan Imam Bonjol Padang.

Dalam kampanye tersebut juga akan diundang beberapa jemaah yaitu NU, Sattariyah dan Naqsabandiyah, serta warga Kota Padang. Rencananya kampanye tersebut akan diikuti 30 ribu orang.

(lam)

Sunday, December 6, 2009

Satu Daerah Tiga Idul Adha

Duta Masyarakat Rabu, 10 Desember 2008
PADANG - Sekitar 50 ribu warga muslim penganut aliran Tarekat Sattariyah akan melakukan salat Idul Adha, Rabu (10/12) pagi ini. Penetapan Idul Adha oleh pengikut aliran tarekat yang dibawa Syech Burhanuddin tersebut molor dua hari dibanding jadwal yang ditetapkan pemerintah karena masuknya hilal dilihat dengan mata telanjang.

�Sebagian besar surau di Padang Pariaman baru akan melaksanakan salat Idul Adha besok,� ujar Bachtiar (74), warga Kelurahan Sungai Sarik, Padang Pariaman ketika Selasa kemarin.

Tidak hanya dalam merayakan Idul Adha, Ramadhan lalu pengikut tarekat Sattariyah juga terlambat memulai puasa dua hari dari jadwal yang ditetapkan pemerintah dan terlambat melaksanakan salat Idul Fitri satu hari dari jadwal resmi pemerintah. Namun pengikut Syeikh Burhanuddin di Koto Tangah, Padang, sudah merayakan Idul Adha Selasa kemarin.

Afriyono (30), ustad Mushala Darul Fallah Simpang Kalumpang, Kelurahan Lubuk Buaya, Koto Tangah, Padang, salah satu musala Sattariyah, mengatakan puluhan pengikut aliran Sattariyah di Koto Tangah Padang menggelar Shalat Idul Adha di Mushala Darul Fallah pagi kemarin dan dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. �Berdasarkan perhitungan kalender hijriyah hari raya Idul Adha jatuhnya hari ini. Kami lakukan perhitungan sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW,� katanya, kemarin.

Sebelumnya lagi sekitar 1.000 orang jamaah tarikat Naqsabandiyah di Sumatera Barat malah sudah merayakan Idul Adha pada Sabtu (6/12). (det/ok)

Jangan paksakan penerapan syariat: KEMBALILAH PADA KONSEP TASAWUF

Duta Masyarakat | 10 November 2009
 Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengatakan, penerapan syariat harus didahului pembangunan berbagai infrastuktur pemberdayaan masyarakat. “Jangan memaksakan penerapan syariat sebelum semua infrastruktur pemberdayaan masyarakat terpenuhi,” katanya.

Masdar mengatakan itu dalam diskusi dan bedah buku Abu Habib Muda Seunagan dan Thariqat Syattariyah di kantor PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta, Masdar, Senin (9/11). Hadir pada acara teresbut para pejabat dan warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang tingal di Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Masdar, pembangunan ekonomi masyarakat sangat penting sebelum syariat Islam diterapkan. “Suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa yang paling penting adalah soal kebutuhan ekonomi,” katanya dalam diskusi yang membincang tokoh kharismatik NAD yang ditulis dalam buku setebal 254 halaman tersebut.

Umat Islam, kata Masdar, terutama di NAD, tidak boleh terjebak pada logika syariat atau logika benar salah dalam mengatasi berbagai persoalan yang sedang berkembang. Misalnya ingin menerapkan hukuman potong tangan bagi para pencuri.

“Umat Islam perlu kembali pada konsep tasawuf yang diterapkan dalam berbagai ajaran tarekat. Tasawuf menekankan pada aspek moral dan penyadaran diri, bukan ancaman, atau menakut-nakuti,” kata Masdar.

Menurutnya, umat Islam di Indonesia telah melupakan ajaran tarekat yang telah dikembangkan para penyebar Islam di Nusantara. Ajaran tarekat menekankan pada pendalaman moral dan penerapan akhlak dalam kehidupan.

Belakangan ini, lanjut Masdar, umat Islam hanya berpijak pada aspek syariat yang menekankan pada soal hukum atau sanksi yang diberikan kepada para pelanggar peraturan agama.

“Maka jadilah agama ini sepertinya hanya bertugas menghukum orang. Padahal, agama kan bertujuan agar manusia ini menjadi lebih baik. Kita selama ini melupakan ajaran tarekat yang menekankan aspek penyadaran,” katanya.

Menurut Masdar, Islam tidak datang untuk menakut-nakuti manusia dengan berbagai hukuman atau akibat yang diterima jika manusia melakukan sesuatu yang dinilai melanggar agama.

Prof Dr Syahrizal dari Universitas Arraniri Banda Aceh menyampaikan hal serupa. Menurutnya, umat Islam selama ini hanya terpaku pada logika hitam putih, bukan logika kesadaran. Logika kesadaran ini, katanya, dikembangkan dalam konsep tasawuf yang diamalkan dalam berbagai ajaran tarekat.

Wednesday, December 2, 2009

Pak Wali Beri Kejutan


PDF
Print
E-mail
Selasa, 09 Desember 2008
Pak Wali Beri KejutanBATAM, TRIBUN - Meski tanggal merah, bukan berarti ada jadwal senggang bagi Wali Kota Batam, H Ahmad Dahlan. Pun saat bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Senin (8/12) kemarin. Dengan didampingi sang istri, hj Mariana,  Ahmad Dahlan rela berkeliling ke berbagai tempat pelaksanaan ibadah kurban.
Tak ketinggalan, walikota juga menyempatkan diri mampir ke Tribun Batam untuk menyerahkan secara simbolis hewan kurban berupa seekor sapi. Tak urung kedatangan orang nomor satu di Kota Batam itu cukup mengejutkan para karyawan maupun warga yang sedang sibuk mempersiapkan diri melakukan penyembelihan hewan kurban.

Wali Kota disambut Pimpinan Perusahaan Tribun Batam, Daryono, serta sejumlah staf Tribun. Dalam suasana penuh kekeluargaan berbagai canda pun sempat terlontar. Daryono tak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas sumbangan dan perhatian yang diberikan walikota.
Ia berharap bantuan itu bermanfaat dan ibadahnya itu sampai kepada yang berhak.  Secara keseluruhan dalam Idul Adha kali ini Tribun melakukan kurban dua sapi dan 11 kambing, sumbangan dari sejumlah isntansi dan pejabat di Batam.

Sebelumnya, Shalat Id yang digelar di pelataran Kompleks MCP Batuampar berlangsung khidmat. Ratusan warga dan para karyawan mengikuti rangkaian shalat dengan khusuk. Meski hujan rintik-rintik sempat mengguyur, hal itu tidak mengurangai antusiasme umat muslim untuk melaksanakan ibadah.

Panitia sempat merencanakan menggelar shalat di masjid. Sampai-sampai pesan pendek (SMS) pun disebar yang intinya memberikan informasi pemindahan tempat shalat. Namun karena cuaca diangggap cukup mengizinkan, keputusan itu kemudian diralat.

Sementara itu, berbagai kejadian di sejumlah daerah di tanah air mewarnai perayaan Idul Adha tahun ini. Pembagian daging kurban di Kota Madiun tepatnya di sekolah Pesantren Sabililah Mutaqim (PSM), misalnya, diwarnai aksi dorong.
Warga yang antusias mengantre seakan tak sabar untuk merangsek maju hingga membuat pagar pintu sekolah roboh. Ketua Panitia Kurban Abdul Muin membenarkan adanya kejadian bahwa pintu pagar yang terbuat dari besi roboh itu karena warga kurang tertib.

“Sebenarnya kita sudah sediakan pengamanan untuk antisipasi kasus Pasuruan. Yakni mensiagakan sejumlah anggota brimob serta kesatuan lainnya. Namun karena kondisi jalan sempit dan ratusan warga antusias akhirnya pagar roboh,” jelas Abdul Muin.

aksi saling dorong juga terjadi di Halaman Pengadilan Negeri Surabaya, di Jakarta, Tangerang, dan sejumlah kota lain. Namun kejadian fatal yang mengakibatkan korban jiwa terhindarkan.

Yang cukup menarik pembagian daging yang dilakukan panitia kurban Masjid Istiqlal. Agar masyarakat tidak menerima lebih dari satu, panitia pun memberlakukan sistem celup tinta seperti pelaksanaan pemungutan suara pemilu. “Kaya pemilu. Ini bahan latihan untuk pemilu,” kata Ketua Panitia, Syamsudin yang menyelingi penjelasannya dengan canda.

Panitia menyembelih hewan kurban pada malam hari ini, usai Shalat Isya. Panitia pun menyediakan sekitar 5.000 kupon kurban untuk dibagikan esok harinya usai Shalat Subuh. “Siapa saja bisa mengantre, yang penting itu orang yang memang berhak untuk menerima,” katanya.

Berbeda
Pada saat sebagian besar umat Islam telah merayakan Idul Adha, lain halnya dengan pengikut aliran Sattariyah di Sumatera Barat. Sekitar 300 muslim tradisional di Padangpariaman yang menganut Sattariyah melaksanakan  Shalat Idul Adha 1429 Hijriah pada Rabu (10/12) esok. Mereka terlambat dua hari dari  jadwal yang ditetapkan pemerintah dan sejumlah ormas Islam lainnya.

Bachtiar (74), warga Sungai Sariak, Padangpariaman, mengatakan, penetapan Idul Adha berdasarkan penglihatan bulan atau hilal. Ajarah tarekat Sattariyah  dibawa Syech Burhanuddin dan disebarkan dari Ulakan, Padangpariaman. Paham ini identik dengan muslim tradisional di Sumbar.

Salah satu ciri khas ajaran Sattariyah adalah menentukan masuknya awal bulan hijriah dengan melihat bulan atau hilal dengan mata telanjang.  Awal puasa lalu, Sattariyah terlambat puasa dua hari dari jadwal pemerintah dan Idul Fitri terlambah satu hari dari jadwal pemerintah.

Sebelumnya, lebih dari seribu jemaah tarikat Naqsabandiyah Sumbar justru merayakan Idul Adha pada Sabtu lalu. Naqsabandiyah menetapkan Idul Adha lebih cepat dua hari dari Idul Adha resmi pemerintah.(pwk/tic/dtc/ant)


Agam: "Yang Kami Lakukan Sesuai Syariat"

Serambi Indonesia 15 April 2009

KONTRAS, Selasa (7/4) siang lalu berhasil menghubungi salah seorang dari kelompok yang diklaim sesat sehingga merebaknya isu di Indra Makmue. Akan tetapi, yang bersangkutan enggan namanya dipublikasikan. Sebut saja namanya Agam, warga Idi, Aceh Timur.

Ketika disinggung adanya dugaan aliran sesat, dia mengaku secara pribadi tidak sesat. Malah dia balik bertanya, faktor apa yang menyebabkan klaim sesat muncul. "Kami biasa-biasa saja. Ibadah kami seperti biasa, tidak ada yang beda dengan syariat yang dipraktekkan selama ini. Aneh juga kan kalau kek gini," ujarnya.

Ia menceritakan, selama ini dirinya dan beberapa temannya hanya mengikuti pengajian biasa pada Tgk Muhammad di Julok. Pengajian yang dimaksudkan juga berjalan seperti layaknya pengajian lain. Dalam proses pengajian pihaknya juga mengamalkan tarekat yang dinamakan dengan Syaktariah. Sementara kepada guru sesuai dengan tarekat dipanggil syekh. "Kalau untuk teungku yang tempat kami belajar biasa saja kami panggil abu," ungkapnya menambahkan.

Ketika didesak tentang sinyalemen adanya ibadah puasa yang dilakukan kelompok tersebut dari jam ke jam dan ibadah sembahyang farzu yang disebut-sebut boleh diganti dengan zikir saja ketika darurat, dia menampiknya. Sang teungkue yang tidak mau namanya disebut menampik semua tuduhan itu. Dia menilai aneh, dari mana sinyalemen itu muncul.

MPU Turun Ke Lapangan
Sementara itu, Ketua MPU Aceh Timur, Tgk Bukhari Hasan yang dihubungi secara terpisah mengakui pihaknya telah menerima laporan tertulis dari MPU Kecamatan Indra Makmue. Sebagai tindaklanjutnya, MPU akan turun bersama tim ke lapangan usai pemilu nanti. "Insya Allah setelah pemilu kami akan turun ke lapangan mengumpulkan sejumlah keterangan dari warga," kata Ayah Bukhari sapaan akrabnya.

Ayah Bukhari mengaku bahwa dalam laporan yang diterimanya juga tidak disebutkan nama kelompok yang diduga sesat itu. Begitu juga apa-apa saja tindakan mereka yang menyimpang. "Belum, belum ada kami terima, masih laporan datar saja," ujarnya. Meski begitu, pihaknya berkomitmen untuk menyelesaikan persoalan tersebut sampai tuntas agar tidak muncul persoalan di tengah- tengah warga, sehingga menganggu ketentraman termasuk ketentraman beribadah.(iskandar usman al-farlaky)

Aceh Poros Utama Peradaban Islam

Serambi Indonesia 11 August 2009, 08:11 Kutaraja Administrator

BANDA ACEH - Aceh merupakan poros utama peradaban Islam di Indonesia. Buktinya, banyak karya intelektual dari sini tersebar ke berbagai daerah di nusantara serta berbagai penjuru dunia. Hal ini dikatakan Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, saat mempresentasikan makalahnya pada Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-5 di Gedung Activity Academic Centre (AAC) Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Senin (10/8).

Ia mengatakan, identitas Aceh sebagai poros utama tradisi intelektual Islam Indonesia terletak pada kebesaran ulamanya. Karya ulama Aceh disusun dalam database naskah Islam Indonesia. Oman mengatakan, pada tahun 2008, Puslitbang Lektur Keagamaan dan PPIM UIN Jakarta menyusun database tersebut. Tujuannya, untuk memberikan informasi pentingnya tradisi intelektual Islam Indonesia pada dunia. Salah satu karya intelektual yang menyebarkan tradisi peradaban Islam yakni Tarekat Syattariyah. Tarekat dimaksud disusun ulama Aceh oleh Syaikh Abd al-Ra’uf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri (1615-1693), atau lebih dikenal dengan Abdurrauf al-Singkili atau Syiah Kuala. Tarekat Syattariyah itu kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Penyebarannya dilakukan dua murid utama Syaikh al-Singkili yaitu, Syaikh Burhan al-Din Ulakan dari Minangkabau dan Syaikh Abd al-Musyi dari Pamijahan, Jawa Barat. Tarekat ini berupa kumpulan naskah kuno. Sebagian tersimpan cukup baik di lembaga-lembaga. Tapi, sebagian lagi tercecer tanpa perawatan di tangan masyarakat. “Karya-karya ulama Aceh masa lalu tersebu saat kini terabadikan dalam naskah kuno tulisan tangan,” imbuhnya. Karena dimakan usia, naskah kuno itu telah berubah menjadi benda cagar budaya bangsa Indonesia.

Ia menyimpulkan, naskah-naskah kuno tersebut menyimpan identitas budaya dan kejayaan Aceh masa lalu. Tapi, dia menyesalkan banyaknya naskah kuno yang terabaikan keberadaannya. Bahkan, ada yang telah dimakan rayap, terutama yang tersimpan di tangan-tangan masyarakat. “Jika kelak khazanah naskah kuno tersebut musnah sama sekali, niscaya bukan hanya masyarakat Aceh yang kehilangan salah satu identitas budaya dan mata rantai masa lalunya. Namun juga, bangsa Indonesia secara keseluruhan,” kata Oman seraya menyarankan semua pihak untuk segera melakukan upaya pemeliharaan, pelestarian, dan penelitian naskah-naskah kuno tersebut.

Sumber inspirasi
Sebelumnya, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, mengatakan, dalam budaya Aceh, meunasah dan masjid adalah sumber inspirasi yang berkembang dalam teritorial gampong dan mukim. Meunasah sebagai pencerminan pembangunan ‘nilai-nilai adat’ dan masjid sebagai pencerminan pembangunan ‘nilai-nilai islami’. “Integrasi kedua nilai inilah melahirkan nilai primer adat antara lain aqidah islami, persatuan dan kesatuan, serta keteladanan,” ujar Wagub saat membuka seminar budaya tersebut.

Di samping itu, lanjut Nazar, budaya Aceh penuh nilai-nilai dan semangat untuk damai seperti yang pernah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Aceh masa lalu. Bahkan, kata Wagub, penyelesaian sengketa juga menjadi arena bagi adat untuk menjalankan perannya. “Banyak kasus dalam masyarakat yang diselesaikan secara adat,” katanya seraya menyatakan upaya Pemerintah Aceh menghadirkan qanun tentang perangkat gampong juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Aceh.

Ia mengatakan, dengan sikap perilaku nilai-nilai budaya adat maka setidaknya memberi kejelasan kepada kita bahwa peranan lembaga-lembaga adat dan fungsionaris adat merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pembinaan kultur dan struktur budaya Aceh. Ia mengharapkan hasil dari seminar itu akan jadi pijakan bagai Pemerintah Aceh dalam upaya melestarikan budaya Aceh dari sekarang hingga masa yang akan datang.

Kunjungi
Usai membuka seminar budaya yang akan berlangsung hingga hari ini, Wagub mengunjungi Meseum Aceh serta Pustaka dan Meseum Ali Hasjmy. Di Meseum Aceh, Wagub Nazar melihat berbagai literatur Islam dan budaya Aceh yang dipamerkan dalam rangka PKA Ke-5 seperti kitab-kitab kuno dan barang-barang peninggalan Kerajaan Aceh masa dulu. Hal yang sama juga dilakukan Wagub juga melihat berbagai naskah, kitab, dan benda-benda bersejarah lainnya hasil koleksi pribadi almarhum Ali Hasjmy.

Disela-sela kunjungan ke Pustaka dan Meseum Ali Hasjmy yang berada di Jalan Sudirman Banda Aceh, Wagub kepada wartawan mengatakan, meseum dan pustaka merupakan tempat penting untuk melestarikan adat dan budaya. Karena itu, ia mengimbau semua lapisan masyarakat Aceh untuk membangkitkan kembali budaya mengunjungi meseum dan pustaka. Dengan begitu, masyarakat terutama generasi muda juga akan tahu bagaimana adat dan kebudayaan Aceh masa dulu untuk ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari.(aza/jal)

Sunday, November 29, 2009

Jawa bukan minang

Majalah Tempo
Wawancara dengan dr. taufik abdullah tentang kemungkinan timbulnya "semangat kepercayaan" di minang. perang padri digambarkan sebagai perang antara islam lawan islam dan raja hanya merupakan simbul. (ag)
MASALAH kepercayaan pada umumnya memang terbatas pada masyarakat Jawa Tengah dan Timur. Tidak mungkinkah semangat kepercayaan akan bangkit di Minang - meminta untuk dimerdekakan? Sebagai perbandingan sekali lagi Dr. Taufik Abdullah dari Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (Leknas-LIPI) memberikan wawancara dan berikut ini ringkasan:

Tonggak terpenting dalam sejarah Minangkabau adalah Perang Padri. Orang sering salah sangka: mengira Perang Padri perang antara kaum Islam dengan kaum adat. Yang benar ialah: perang antara Islam lawan Islam, dan di sini antara faham Islam yang baru dengan yang lebih baru. Baru dalam arti murni orthodox. Inilah bedanya Minang dari Jawa: di Minang masalah aqidah (keimanan) mendasari krisis sosial, dan diselesaikan dengan perang. Di Jawa tidak.

Sebenarnya orthodoxi pemurnian agama sudah ada menjelang akhir abab 18 di Minangkabau. Tuanku Nan Tuo ini, guru sendiri membereskan tarekat-tarekat Syattariah dan sebagainya ke arah yang lebih mengikuti syara. Lalu datanglah Imam Bon ol dan tokoh-tokoh yang baru pulang dari Mekah dan mendapat pengaruh gerakan Wahabi yang keras itu.

Yang mereka tuju pertama kali-justru surau Tuanlku Nan Tuo ini, guru sendiri. Mereka misalnya menuntut dilarangnya kebiasaan makan sirih atau merokok. Dan Tuanku sendiri akhirnya dituduh kafir. Lalu sebagai simbul mereka membakar rumah adat. Lalu mulai perang desa dengan desa, negari dengan negari.

Perang berlangsung 20 tahun. Pada satu titik kemenangan. penghulu-penghulu adat mereka ganti dengan kadi dan imam. Dengan ini mereka merobah sistim sosial adat. Tapi ini hanya berlangsung 3 tahun. Sesudah itu imam tetap ada tapi penghulu yang berkuasa ketika di tahun 1827 Belanda mulai ikut-ikutan campur tangan. Imam Bonjol mengajak para penghulu untuk menentukan sikap. Tapi para penghulu berdebat sama sendiri: ada yang mau perang, ada yang mau menyerah. Imam Bonjol akhirnya pergi - dia tidak kuasa....

Proses orthogenetik dalam hal Islam (menganggap Islam sebagai budaya sendiri) sebenarnya sudah ada sebelum para pembaharu itu. Kosmogoni adat Minang sendiri sangat bersifat tarekat: ketika belum berbelum, adat sudah ada juga . . . Adat ini identik dengan Nur Muhammad, lewat mana Tuhan berkata: Kun! -- fa yakun (Adalah! --maka adalah). Konsep ini bisa dicari hubungannya dengan tarekat Syattariah atau yang semacam yang juga berkembang di Jawa.

Definisi Minang terhadap dirinya adalah: negeri yang beradat dan beragama. Dalam kata adat sendiri sudah masuk pengertian agama. Beberapa waktu yang lalu semboyannya adalah: Adat bersendi syara, syara bersendi adat . Kemudian berobah menjadi. Adat bersendi syara, syara bersendi Kitabullah . Sekarang ini, lebih mungkin seorang Minang tidak tahu adatnya daripada tidak tahu Islam. Definisi diri seorang Minang: pertama-tama dia adalah Islam. Jadi tak mungkin terjadi kasus seperti di Jawa.

Satu faktor yang sangat menentukan adalah sistim politiknya. Di Jawa berkembang dengan baik sistim kerajaan patrimonial: penguasa daerah ditentukan legitimasinya oleh pusat, apa yang terjadi di daerah dipertanggungjawabkan ke pusat, dan raja adalah pusat dunia. Di Minang raja hanya simbul. Tiap negeri hakikatnya independen: bisa orientasi apa saja, tak ada yang kontrol. Karena itu tak ada pusat pautan seperti di Jawa.

Tarekat, Bukan Islam Jama'ah

Tempo Edisi 47/IX 19 Januari 1980
Tentang seluk beluk aliran tarekat, di jawa timur aliran ini mengelola pondok pesantren sabilul muttaqmin, diminangkabau merupakan pusat aliran syathariyah.
 
BERZIARH, berdoa dan zikir di makam Syech Burhanuddin di Ulakan, pada suatu hari tertentu di bulan Safar (Desember - Januari ini), dan dilaksanakan sampai 7 kali, pahalanya sama dengan ibadat haji.

Itu adalah kepercayaan pengikut Tarekat Syathariyah di Sumatera Barat. Jumlah mereka lumayan besar. Di Kabupaten Padang Pariaman saja diperkirakan lebih dari 100 ribu orang. Di kabupaten-kabupaten lain hampir sebanyak itu pula.

Desa Ulakan, di Kecamatan Nan Sebaris Padang Pariaman, memang pusat aliran Syathariah yang sudah masuk Minangkabau sejak 1670. Pelopornya Syech Burhanuddin itulah, yang membawa aliran itu setelah belajar dengan Syech Abdurrauf Syiah Kuala -- yang namanya dipakai untuk universitas negeri di Banda Aceh.

Di sekitar bulan Safar, Ulakan seperti sehuah kota kecil. Desa pantai terletak 57 km dari Padang itu diserbu para pengikut bahkan dari Riau, Jambi, Aceh dan Sumatera Utara.

Di atas ketiga makam (dari Syech Burhanuddin dan dua sahabatnya), ada atap tirai yang tiap bulan Safar diganti. Penukaran tirai selalu dibarengi perebutan oleh para pengikut bekas tirai dibawa pulang, sebagai azimat atau pun obat.

Selama masa ziarah (sekitar 2 minggu), jumlah penduduk Ulakan yang resminya kira-kira 12.500 orang itu membengkak menjadi lebih dari 100 ribu. Ini pada siang hari -- malamnya kurang, sebab banyak yang pulang. Tapi khusus di malam puncak doa dan zikir, sekitar kompleks akan dihuni lebih dari 60 ribu orang seperti yang terjadi kemarin ini.

Tidak ada catatan resmi sejak kapan tradisi ziarah ke makam Syech Burhanuddin dimulai. Tapi pengurus Yayasan Syech Burhanuddin yang mengelola kompleks mempercayai bahwa syech mereka itu meninggal hari Rabu 10 Syafar 1111 H. Karena itu pula acara puncak ziarah dilaksanakan tiap Rabu yang jatuh sesudah 10 Safar. Karena acara dilaksanakan tiap Safar, lama-lama disebut upacara 'Basafar'. Dalam bahasa sehari-hari 'Basapa'.

Upacara dimulai setelah sembahyang isya, resminya berlangsung sampai jam 24.00. Tapi pengikut yang terlalu fanatik (atau punya "tujuan-tujuan tertentu") bertahan sampai subuh. Di situ dilakukan bermacam cara berdoa dan zikir. Dan orang-orang pun menyentuh makam. Ada yang bersujud ke situ. Ada yang mengambil pasir dan tanah makam untuk dibawa pulang. Ada yang menaruh limau untuk beberapa saat, kemudian dibungkus dibawa pulang. Tanah dan pasir digunakan untuk ramuan pupuk padi, agar "tumbuh subur dan lebat". Macam-macamlah tingkah yang oleh kebanyakan ulama akan dituding sebagai syirik, tahyul atau penyembahan benda. Sementara itu, Yayasan Syech Burhanuddin yang didirikan sejak 1969 menaruh sebuah peti besi derma. Ketika dibuka tahun lalu, isinya mendekati Rp 1 juta.

Sudah tentu Syathariah bukan hanya berarti kuburan. Bahkan upacara pemuaan makam, yang ada di mana-mana, bukan sebuah ciri mengapa sebuah tarekat bernama tarekat. Yang datang ke upacara di Ulakan pun mungkin sebagian, atau sebagian besar, orang-orang yang sekedar mengambil berkah untuk suatu "keperluan" -- atau paling jauh tidak dengan sendirinya mereka pemeluk aktif.

Aliran Syathariah yang di Jawa Timur misalnya cukup terkenal. Mereka mengelola pondok Pesantren Sabilul Muttaqin (PSM) yang punya beratus cabang dan diketuai KHM Tarmudji (salah seorang ketua DPP Golkar, dan orang yang di malam resepsi menyambut abad XV di Istana tempo hari tampil membaca doa penutup, sesudah ceramah Hamka). Adalah PSM yang kalau tidak salah sudah dua kali melakukan transmigrasi bedol pesantren: ratusan orang, lengkap dengan santri dan kiai-kiainya plus keluarga. Toh menurut drs Bisri Affandi MA tokoh aliran itu yang sekarang menjadi Dekan Fakultas Tarbiah IAIN Sunan Ampel Surabaya, pengikut Syathariah sebenarnya hanya sekitar 150 - 200 orang -- "yang benar-benar masih terus aktif." Kok, sedikit amat?

Rahasia Perusahaan

"Sebab Syathariah tidak ekspansionis," katanya. Dan itulah memang ciri penting umumnya tarekat, yang membedakan mereka misalnya dari kumpulan semacam Islam Jama'ah. Karena kelompok tarekat -- seperti juga kebatinan, yang dalam hal ini hanya berbeda istilah -- terbentuk "dengan sendirinya" oleh persamaan kebutuhan untuk sesuatu kebahagiaan ketuhanan, arahnya lebih bersifat 'ke dalam'. Bahkan seperti juga dalam cerita tentang perguruan pencak silat, mereka yang mau masuk justru "dipersulit" dengan ujian tertentu.

Memang, dengan demikian kelompok itu tertutup. Tetapi sepanjang ia sebuah tarekat yang normal, ketertutupan itu lebih bersifat menjaga "rahasia perusahaan" daripada sebuah sikap congkak yang mengklaim keselamatan akhirat setidak-tidaknya begitulah cara mereka berhadapan dengan kelompok-kelompok tarekat lain.

Perbedaan menonjol antara tarekat dan kebatinan yang pertama itu mengenal wasithah, yakni guru atau perantara -- bukan antara manusia dan Tuhan, melainkan antara pengikut kini dengan sumber pertama, yang selalu diakui sebagai Nabi Muharnmad sendiri. Bisri Affandi misalnya, mengaku punya daftar nama para wasithah mulai dari Nabi Muhammad, lewat Ali bin Abi Thalib sampai ke Indonesia. "Tapi sebenarnya sulit dibuktikan secara ilmiah siapa orang orang itu," katanya.

Yang jelas, wasithah terakhir Syathariah di sini meninggal April tahun lalu. Itulah Kiai M. Kusnun dari Tanjung Anom, Nganjuk -- yang menerima mandat wasithah dari pendahulunya, Kiai Imam Mursyid Muttaqin pendiri pondok PSM di Takeran, Magetan -- yang hilang dalam peristiwa pemberontakan PKI di Madiun 1948 bersama 12 ulama PSM lainnya. Yang tak jelas ialah siapa nama wasithah pengganti (yang barangkali hanya tidak diumumkan), juga bagaimana hubungan Syathariah yang di Ja-Tim dengan yang di Sum-Bar atau tempat lain. Tampaknya mereka memang mempunyai pusat sendiri-sendiri, meskipun jelas bahwa pada akhirnya tarekat memang lebih bersifat lokal.

Tetapi seorang wasithah memang bukan orang sembarangan. Ia dianggap sudah mencapai empat martabat: mursyid (penunjuk, murbiy (pengasuh), nashih (pemberi petuah) dan kamil alias orang sempurna (ingat drama Insan Kamil karangan almarhum Abu Hanifah?). Martabat keempat itulah tentunya yang paling top: memungkinkannya untuk mclakukan ma'rifat kapan saja dikehendakinya -- yakni "memperoleh kenikmatan pengetahuan tertinggi mengenai Dzat," sesuatu yang dekat dengan "ke satuan". "Orang ma'rifat itu tidak ingat dunia lagi. Jasadnya mati" -- begitu menurut Bisri Affandi.

Pengambilan bai'at, prasetya, juga merupakan wewenang wasithah. "Jangan diartikan seperti bai'at Islam Jama'ah," kata Bisri lagi. Bai'at model Syathariah menurutnya semata-mata pemberian kunci bagi ma'rifat, sedang dalam ma'rifat sendiri wasithah dikatakan berfungsi sebagai penunjuk jalan.

Menurut pengamatan TEMPO, bai'at Syathariah itu hanya dilakukan setelah sang calon (yang telah cukup mempelajari dasar-dasar perguruan) berpuasa sehari semalam tanpa tidur. Setelah itu mereka melakukan bentuk zikir tertentu (yang berbeda antara satu tarekat dengan tarekat lain). Setelah dicapai tingkat suasana khidmat yang dikehendaki, wasithah lantas membisikkan sesuatu ke telinga sang calon yang mengikuti tiap katanya. Pada tarekat lain, seperti Naqsyabandiyah di Sumatera Barat, bai'at misalnya dilakukan persis tengah malam -- setelah murid dimandikan kemudian dibungkus kafan putih.

Menurut Bisri Affandi, dalam Syathariah seorang wasithah sebenarnya tidak punya otoritas mutlak. Dalam arti bahwa ia menguasai seluruh seluk-beluk kehidupan jamaahnya seperti dalam Islam Jama'ah, memang. Tetapi kenyataan penghormatan luar biasa kepada guru (dibanding dengan keadaan di luar tarekat, dan ini pula semangat yang dekat sekali hubungannya dengan pemujaan kubur) betapapun merupakan ciri kelompok-kelompok ini. Man qaala lima faqad inqatha 'at masyiikhatuhu (Barangsiapa berkata 'kenapa', putuslah hubungan keguruannya), biasa dipandang khas untuk kalangan ini. Bukankah 'menghadirkan rupa guru', misalnya, juga diperintahkan dalam samadi atau ber'ma'rifat"? Dan itulah di antara hal-hal yang sering ditentang kalangan nontarekat khususnya di hari-hari kemarin.

Tentangan itu datang dari gerakan pemurnian Islam sejak akhir abad XIX Masehi, seperti yang kemudian ditubuhkan dalam misalnya Muhammadiyah Al-Irsyad, Persis -- tapi juga dari para eksponen dalam tubuh partai "konservatif" sendiri seperti Nahdlatul Ulama yang besar. Dan pelan-pelan memang semangat tarekat mundur ke belakang, sementara wajah Islam disapu oleh warna yang lebih "bersemangat".

NU sendiri melakukan "seleksi" terhadap berbagai tarekat dalam tubuhnya --dengan hasil Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah (Himpunan Tarekat yang Boleh Dipegang) -- yang pemimpin organisasinya, KH Musta'in Romli, kemudian lari ke Golkar. Betapapun, yang duduk di pucuk NU bukan tokoh-tokoh yang dikenal sebagai orang tarekat. Meski begitu, sangat disangsikan bahwa semangat tarekat benar menipis (TEMO, 21 Januari 1978). Di Jawa Barat misalnya, di Tasikmalaya, pcsantren tarekat Qadiriah-Naqsyabandiyah di Surialaya cukup populer. Selain terkenal maju (punya proyek pertanian yang luas, punya perpustakaan modern), Juga menjadi tempat penampungan sementara bagi banyak anak orang kota yang dikirim orangtuanya untuk "diperhaiki". Almarhum Prof. Aboebakar Atjeh, yang juga anggota Muhammadiyah (TEMPO, 5 Januari, Pokok & Tokoh), juga seorang mistikus yang di masa-masa akhir diketahui menjadi kurang penting di pesantren ini, di samping menulis satu buku kecil tentang tarekat mereka.

Selain Syathariah, Qadiriah (dari Syech Abdul Qadir Jailani) dan Naqsyabandiyah memang barangkali tarekat yang paling besar di tanah air. Di Minangkabau, Naqsyabandiyah diketahui masuk baru akhir abad lalu, dengan kecepatan mengembang yang tinggi -- konon, menurut catatan Departemen Agama Provinsi, berpengikut 132.408. Lebih kecil dari itu adalah Sammanniah yang berpusat di Kabupaten 50 Kota: sekitar 50.000 orang.

Sebuah penelitian yang dilakukan LEKNAS 1977, yang menugaskan drs. Nur Anas Jamil, menyatakan bahwa di Sum-Bar masih terdapat aliran-aliran kecil meski hampir tak dikenal (dan demikian mestinya di semua pelosok tanah air) Munfaridiyah, Mufradiyah, Munfasidiyah dan apa lagi. Di Aceh ada Rifa'iyah yang tua. Di Jawa Tengah dan banyak tempat terdapat tarekat Syadziliyah.

Di samping itu cukup menarik terdapatnya kelompok-kelompok 'amalan', yakni kumpulan non-tarekat yang mempraktekkan wirid atau zikir seperti orang tarekat. Bahkan ada juga yang menyebarkan secara tak bersyarat kumpulan zikir seperti Shalawat Wahidah dicetak stensilan, dan dikatakan "sudah diijazahkan" kepada siapa saja -- tak perlu dibai'at lebih dulu untuk bisa mengamalkannya. Dikabarkan juga bahwa warga Muhammadiyah banyak pula yang mengamalkan wirid secara berombongan -- berbeda dari waktu yang sudah-sudah -- misalnya dengan mengambil doa-doa dalam Al-Ma'tsurat susunan Imam Hasan Al-Banna, ulama Ikhwanul Muslimin di Mesir yang dihukum mati Jamal Abdul Nasser dahulu.

Perbedaan mereka dengan tarekat sudah tentu mereka tidak merasa perlu mengambil segi metafisik yang "sulit-sulit' (atau kadang aneh-aneh) untuk amalan yang dimaksud sekedar mencapai ketenteraman dan kekhusyukan hidup. Tidak seperti orang tarekat, yang umumnya percaya bahwa Nabi sebenarnya mewariskan dua macam ilmu yang syari'at dan yang hakikat. Sesudah masa pembersihan mistik oleh Ghazali (meninggal 1111 M.), orang tarekat sekarang bukan hanya menyatakan bahwa orang takkan mencapai "pengetahuan sejati tentang Tuhan" bila hanya memegang syari'at. Tapi juga bahwa hakikat itu tak mungkin dicapai tanpa syari'at. Dan di antara keduanya itu berdirilah tarekat, 'jalan'.

Seirama

Ulama non-tarekat sudah tentu masih membutuhkan bukti bahwa Nabi memang mewariskan "dua ilmu". Apa lagi seperti pernah ditulis Prof. Dr. Rasjidi, pembagian "syari'at, tarekat dan hakikat" itu, yang menurutnya datang dari seorang sufi India, "sudah ketinggalan zaman". Lagi pula siapa yang mengatakan bahwa seorang yang hanya bersyari'at dengan baik saja takkan mampu mencapai kebahagiaan ketuhanan, asal istilah itu diartikan secara wajar? Barangkali, memang, untuk sebagian orang diperlukan usaha "mempermudah" dengan wirid atau zikir, kalau tidak lewat tarekat. Tetapi Ustaz Said Thalib Al-Hamdany misalnya, ulama Pekalongan yang banyak juga menulis buku agama, mengritik Ghazali dan mendaftar beberapa "kesombongan ketuhanan"nya.

Dan memang, di sekitar ide tentang ma'rifat itulah tumbuh berbagai "konsep tambahan" tentang ketuhanan. Juga tentang tujuan hidup (Bisri Affandi misalnya mengatakan: tujuan hidup kita bukanlah surga, melainkan ma'rifat Allah'). Atau di sana-sini, yang banyak dikritik, cara-cara mencapai "kemanunggalan". Dan ini memang berbeda-beda antar aliran, dan perbedaan itu pula menentukan "sah dan tidak sahnya" sesuatu tarekat -- misalnya dilihat dari kacamata NU.

Juga literatur mereka berbeda-beda. Bisri sendiri menuturkan di Indonesia tidak ada buku tasauf yang cocok dengan dirinya -- kecuali tentunya Al Hikam dari Ibnu 'Athaillah (Iran). "Semua orang mempelajari Al-Hikam," katanya. "Tapi kalau bukan orang Syathariah, lain cara menafsirkannya. Ibnu 'Athaillah memang orang Syathariah." Kalaupun ada buku tasauf yang dibikin orang Indonesia sendiri, maka itu adalah Serat Wirid Hidayat Jati dari Ronggowarsito -- yang dinilai Bisri sebagai "seirama".

Dan memang orang Syathariah menganggap Ronggowarsito orang mereka (ia dikabarkan dahulu belajar di pondok Tegalsari, Ponorogo). Tidak hanya dia. Juga Sultan Agung dan para WaliSongo.