Showing posts with label Sufi Rituals. Show all posts
Showing posts with label Sufi Rituals. Show all posts

Friday, May 21, 2010

600 Pria Zikir 3 Malam Keliling Kampung Besilam



Pos Metro Medan Selasa, 20 Oktober 2009
LANGKAT
PEMBUNUHAN Hj Basariah (65), Rabu (9/9) lalu, sepertinya sulit dilupakan masyarakat di perkampungan Babussalam, Besilam, Langkat. Karenanya, mereka tidak ingin peristiwa di Dsn II, Ds. Besilam, Kec. Padang Tualang, Langkat, itu terulang kembali.

Sebagai bentuk keprihatinan itu, mereka menggelar kembali tradisi yang telah diwariskan Syeikh Abdul Wahab Rokan kepada anak dan cucunya, yakni zikir berjalan keliling kampung. Dan itu telah dilaksanakan pada Jumat (16/10) hingga Minggu (18/10) lalu.

Zikir ini sendiri diikuti 600 jamaah khusus pria, dengan mengenakan pakaian wajib berwarna putih-putih. Sebelum ritual berjalan keliling kampung dilakukan, mereka terlebih dahulu berdoa dan zikir di makam Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan. Selain berzikir, dalam ritual tersebut, juga dilakukan azan dan doa di empat sudut kampung.

Yang menarik, selain berkeliling kampung, warga yang bermukim di perkampungan Babusslam tak diperkenankan membuka pintu ataupun jendela rumah mereka, selama ritual berlangsung. Tujuannya, agar warga terhindar dari mala petaka.

�Didalam zikir berjalan ini, selain berkeliling kampung, juga di lakukan Azan dan Doa terhadap 4 sudut kampung Besilam dan saat dilakukannya zikir berjalan, setiap rumah tidak dibenarkan membuka pintu dan jendela rumah mereka,� kata Khalifah Jamaluddin Khalik dan H.Ahyar Murni.

Ritual zikir yang sudah 11 tahun terakhir tidak dilaksanakan ini, dipimpin oleh Tuan Guru Syekh Tajuddin Al Mudawar. Usai zikir berjalan, para khalifah (pimpinan) ritual langsung kembali ke makam tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan. Di sini, mereka makan Bertih dan pisang Bantan secara bersamaan. Ini merupakan adat tradisi turun temurun penganut tariqat naqsabandi di perkampungan Besilam, Langkat.

�Tujuan dilaksanakan zikir ini adalah untuk mengusir segala marabahaya dari perkampungan Besilam Babussalam,� terang Syekh Tajuddin.(ndi/smg)

Friday, February 12, 2010

Gerimis Hiasi Acara Zikir SBY di Monas

Sabtu, 13/02/2010 08:05 WIB
Nograhany Widhi K - detikNews
 Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pagi ini menghadiri zikir bersama di Monas. Hujan gerimis pun menghiasi zikir yang dihadiri ribuan orang ini.

Pantauan detikcom di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (13/2/2010) ada 3 panggung yang didirikan di Monas bagian selatan. Panggung paling besar berukuran 5x7 meter setinggi 180 cm diletakkan di sisi Monas, tepatnya menghadap gerbang Monas dekat bundaran Patung Kuda.

Sedangkan dua panggung lainnya lebih kecil berukuran 3x3 meter diletakkan serong menghadap panggung besar itu.

Panggung paling besar ditempati para habaib yang akan memimpin zikir, dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Tampak hadir di antaranya Mensesneg Sudi Silalahi, Menpora Andi Mallarangeng, Menkokesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mendiknas  M Nuh.

SBY tiba sekitar pukul 08.00 WIB mengenakan pakaian koko putih dan berpeci. Sementara, Ani Yudhoyono berbalut pakaian serba putih. Kedatangan keduanya disambut salawat badar.

Gerimis di Monas mulai turun pada pukul 07.10 WIB hingga pukul 07.45 WIB gerimis masih mengguyur. Sehingga para jamaah di tanah lapang membuka payung dan sebagiannya lagi pasrah diguyur air.

"Pindahkan hujan dari tempat ini. Jadikan tempat ini tempat yang maslahat bagi kami," ujar salah satu habaib yang memimpin.

"Amiin," sahut jamaah serempak.

Zikir yang bertema 'Berzikir untuk Indonesiaku' ini diadakan oleh Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Majelis Dzikir Nurul Musthofa dan Forum Habib Nasional.
(nwk/mad)

Wednesday, January 20, 2010

Ribuan Jamaah Ikuti Dzikir Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah di Jakarta


Senin, 11 Agustus 2008 08:21
Jakarta, NU Online
Ribuan Jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah mengikuti acara dzikir akbar di halaman gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Ahad (10/8) kemarin.

Para jamaah berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) ditambah jamaah ziarah Wali Songo dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta jamaah tarekat dari Malaysia dan Singapura.

Acara dzikir akbar dimulai dengan doa istighotsah dan kemudian diteruskan dengan membaca surat Yasin. Puncak acara dzikir adalah pembacaan kitab Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani yang dibacakan dengan indah, lalu dilanjutkan tahlil dan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedianya acara dzikir akbar Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di Jakarta selalu dipimpin oleh Syeikh KH Asrori Al-Ishaqi namun karena mursyid (guru besar) tarikat ini ini sedang sakit dan dirawat di Surabaya maka pimpinan dzikir diwakilkan kepada KH Hilmi Basaiban.

Ketua Jamaah Alkhidmah Jakarta Yaumi Azhar SH, LLM, mengatakan pada acara dzikir akbar kali ini panitia mengumpulkan 16.000 nasi bungkus dan 600 dus air kemasan dari jamaah Jabodetabek.

Jamaah Alkhidmah adalah organisasi yang menyelenggarakan kegiatan Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di berbagai tempat di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

”Kita datang ke sini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dilindungi dan diselamatkan dari segala musibah. Kita di sini tidak berkumpul tanpa membeda-bedakan status sosial,” kata Yaumi Azhar.

Jamaah Alhidmah Jabodetabek tersebarat di 18 wilayah daerah kota dan selalu menyelenggarakan kegiatan dzikir rutin. Di gedung LIPI dan sekitarnya kegiatan dipimpin langsung oleh Prof. DR. Sofyan Tsauri, mantan direktur lembaga ilmu pengetahuan paling bergengsi di Indonesia itu.

Pada kesempatatan itu kepala biro Askesnas Dr. Sukanta mewakili Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, pembangunan yang dilakukan di Jakarta tidak hanya meliputi bangunan fisik dan material, tetapi juga mental dan spiritual.

”Warga DKI hendaknya memahami program yang dicanangkan oleh pemerintah DKI dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dzikir seperti ini,” katanya. (nam)

Suluak, Tradisi Unik Naqsabandiyah di Padang

Sejak awal Ramadhan, mereka makan, minum dan tidur di Masjid. Inilah tradisi Suluak.

Kamis, 10 September 2009, 09:59 WIB
Arfi Bambani Amri


VIVAnews - Bulan puasa menjadi bulan penuh rahmat bagi setiap ummat muslim  untuk meningkatkan keimanan. Itikaf (berdiam diri di masjid) menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan hidayah.

Bagi penganut Islam Naqsabandiyah di Padang, itikaf dilakukan dalam waktu yang panjang. Bagi penganut Islam Naqsabandi, mereka menyebutnya dengan istilah 'suluak'. "Suluak merupakan cara mendekatkan diri dengan Allah serta mengkaji sifat-sifat pencipta," kata Zahar (53) jamaah Naqsabandiyah yang ditemui VIVAnews di Surau Baru, Kecamatan Pauh, Padang, Rabu 9 September 2009.

Suluak dilakukan dalam waktu 10 hari hingga 30 hari selama bulan Ramadhan. Selama mengikuti suluak, para jamaah membawa sejumlah perlengkapan seperti beras, bahan-bahan untuk dimakan, pakaian ganti, dan sejumlah perlengkapan tidur.

Perlengkapan keseharian ini disesuaikan dengan lamanya waktu suluak yang diikuti. Selama bersuluak, jemaah menghabiskan waktunya di masjid dan melakukan segala aktivitasnya di dalam rumah ibadah.

Rata-rata peserta suluak didominasi kalangan tua. "Selama bersuluak jemaah mengikuti pengajian-pengajian yang diberikan buya pada waktu-waktu sehabis shalat fardhu," kata Zahar. Saat VIVAnews berkunjung ke Surau Buluh, sedkitnya terlihat empat perempuan tua yang sedang mengikuti kegiatan tersebut.

Di surau tua yang berukuran kecil ini, para peserta suluak menghabiskan waktunya sehari-hari. Masjid tua ini memang terkesan berbeda dengan bangunan yang berada di sekitarnya. Di dalam masjid juga terlihat beragam perlengkapan tidur mereka yang mengikuti suluak.

"Setelah mengikuti suluak diharapkan keimanan kita akan bertambah dan semakin dekat dengan pencipta," kata Zahar. Suluak tak ubahnya seperti menyepi dan menjauhkan diri dari segala kegiatan dunia.

Ajaran Tarekat Naqsabandiyah dibawa Maulana Syaikh H Muhammad  Thaib Bin Ismail (Angku Surau Baru). Aliran Naqsabandiyah diyakini berasal dari Makkah yang dikembangkan murid sekaligus sahabat Rasul Muhammad SAW, Abubakar As Shiddiq.

Angku Syarief Thaeb mengembangkan aliran ini pertama di Sumbar. Hingga saat ini, aliran Tarekat Naqsabandiyah berkembang hampir ke seluruh daerah di Sumbar.

Naqsabandiyah memiliki sistem penanggalan sendiri sehingga Ramadhan dilakukan 30 hari penuh setiap tahunnya. Sesuai kepercayaan aliran ini, Ramadhan bagi jamaah naqsabandiyah dua hari lebih awal dari pemerintah.

Laporan Eri Naldi | Padang

Tuesday, January 19, 2010

Mengikuti "Selasanan" Tarekat Syadziliyah di Kudus


Rabu, 6 Agustus 2008 07:19
Kudus, NU Online
Senin (4/7) malam kemarin, para jamaah Tarekat Syadziliyah berkumpul di kediaman Kiai Muhammad Thariq di Kudus Jawa Tengah yang merupakan badal (wakil) Syeikh al-Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Yahya Mursyid Thariqah Syadziliyyah sekaligus Rais Aam Jam'iyyah Ahlut Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah. Waktu itu, digelar forum mujahadah dan pengajian Tarekat Syadziliyyah.

Selasanan, begitu dikenal, diawali dengan pembacaan istighatsah bersama yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Aziz, setelah itu dilaksanakan pembacaan kitab Mafakhirul 'Ulyah li Thariqil Syadziliyyah karangan Habib Ahmad bin Muhammad yang juga dibacakan ustadz yang sehari-hari mengajar di Madrasah Qudsiyah ini.

Dalam pembacaan kitab tersebut telah sampai pada halaman 126 yang berkenaan dengan suluk kedua yang wajib dijalankan setiap murid Tarikat Syadziliyyah. Tingkatan tersebut mewajibkan murid untuk istiqamah terhadap keta'atan kepada Allah. Baik dikala sempit maupun lapang murid harus melaksanakan perintah Allah.

"Ini sebagaimana Ndoro Syekh Abdul Qadir al Jealani yang mendawamkan (melanggengkan) wudhu dengan sempurna di sepanjang malam. Ketika batal lalu berwudhu begitu seterusnya," katanya.

Ia menambahkan bahwa melaksanakan perintah tersebut bukan hal mudah. Ia mencontohkan hal kecil berupa shalat witir yang mempunyai faedah penting. "Saking pentingnya shalat witir sampai-sampai ketika waktu shalat subuh datang masih diperbolehkan menunaikannya," ujarnya.

Menurut pengalamannya ia pernah menjumpai Habib Lutfi berada pada keadaan demikian. Saat waktu subuh datang ada keinginan untuk berjamaah, tetapi Habib mengisyaratkan masih mempunyai tanggunan shalat witir, sehingga ia harus menunggu terlebih dahulu.

Seperti dilaporkan kontributor NU Online Zakki Amali, ada dua forum Selasanan di Kudus. Selain di kediaman Kiai Thariq, yang kedua di kediaman Muhammad Sukram, biasa dikenal Mbah Datuk.

Forum ini merupakan amanah Habib Lutfi, sementara beliau mendapat amanah dari gurunya Thariqahnya yang mewariskan kedudukan Mursyid Syadziliyyah kepada beliau Syekh Abdul Malik bin Ilyas bin Yahya.

Di Kabupaten Kudus forum ini dilaksanakan setiap malam Selasa ba'da Isya' di kedua kediaman tersebut, dan bagi murid Tarekat Syadziliyah dapat mengikuti sesuai daerah terdekat masing-masing. (zak)

Idul Khotmi Tarekat Tijaniyah: Libatkan Dua Ratus Ribu Jemaah

Idul Khotmi atau perayaan pengangkatan guru (mursyid) Tarekat Tijaniyah menjadi wali Allah yang digelar di Pamekasan, bisa dibilang merupakan acara massal terbesar pertama di Madura pada 2009. Acara yang puncaknya akan berlangsung hari ini, Minggu (15/2), dihadiri oleh pengikut Tijaniyah di Indonesia, yang totalnya puluhan juta jemaah.

Acara puncak Idul Khotmi ke 216 akan digelar di Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan mulai pukul 08.00 pagi ini dan berakhir pukul 13.00 WIB. Dua hari sebelum acara puncak, telah diadakan acara pendahuluan di Ponpes Tegal Al-Amien, Prenduan, Sumenep.

Menurut sekretaris panitia Idul Khotmi Nasional ke-217 Tarekat Tijaniyah, Drs H M Djatim Makmun, jemaah yang akan hadir pada acara puncak sekitar 200.000 orang. Mereka akan ditampung di 59 penginapan, yang meliputi rumah warga dan ponpes di Pamekasan.

Berdasarkan pengamatan Surya, jumlah bus yang mengangkut mereka sekitar 1.000 armada. Itu belum termasuk yang membawa kendaraan pribadi. Sebagian jemaah sudah ada yang tiba di Pamekasan mulai Kamis (12/2) malam.

Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, jadi tujuan pertama karena tempat ini merupakan pusat pengembangan ajaran Tarekat Tijaniyah di wilayah Madura. Di Madura, pengembangan tarekat dirintis oleh pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan KH Jauhari Khothib, dan kemudian diteruskan oleh putranya KH Moh Tidjani Djauhari MA. Setelah 10 bulan lalu KH Moh Tidjani wafat, kini putranya KH Fauzi Tijani Lc menjadi penerus.

Secara internasional, Tarekat Tijaniyah dipelopori oleh Syekh Ahmad at-Tijani yang dilahirkan pada tahun 1737 di negara Aljazair (Afrika). Beliau dikenal mempunyai keistimewaan di atas manusia umumnya, karena sejak berumur 7 tahun telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil mempelajari berbagai cabang ilmu seperti Usul, Fiqh, dan sastra.

“Bahkan di usia remaja, beliau telah mahir cabang-cabang ilmu agama Islam,” ujar Ahmad Syarif, seorang jemaah Tijaniyah asal Jawa Tengah.

Menurut ketua pelaksana Idul Khotmi, KH Sufyan Nawawi, setiap Idul Khotmi (termasuk yang kini digelar di Madura) selalu dihadiri pula oleh pemimpin Tarekat Tijaniyah dari berbagai negara asing.
“Terutama dari Aljazair dan Maroko yang merupakan cikal bakal lahirnya tarekat Tijaniyah ini,’’ ujar KH Sufyan Nawawi, Sabtu (14/2).

Oleh karena itu, Idul Khotmi akan diisi pula dengan tausiyah oleh Syekh Muhammad Thohir Al-Husaini dari Aljazair dan Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Hafidhz dari Mesir.

Selain itu, juga hadir para wakil tarekat-tarekat lain yang tergabung dalam Tarekat Muktabaroh Indonesia dan Tarekat Muktabaroh An-Nahdliyah, yaitu tarekat yang tergabung dalam wadah Nahdlatul Ulama (NU).

KH Sufyan mengungkapkan, Tarekat Tijaniyah adalah salah satu tarekat dari 43 Tarekat Muktabaroh Indonesia atau tarekat yang diakui keabsahannya. Di Indonesia, pengikut tarekat ini ada sekitar 10 juta jiwa. Sekitar 40 % dari mereka adalah kalangan kyai dan pemimpin ponpes, yang tersebar di 14.657 ponpes.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Pamekasan, Kompol Bambang Sulastro, menyatakan, polisi terpaksa menutup seluruh akses jalan kota saat puncak kegiatan Idul Khotmi berlangsung hari ini. Sebab, jemaah yang akan hadir pada kegiatan itu dipastikan akan memenuhi kota Pamekasan.

“Jadi Minggu (15/2) ini, arus lalu lintas di dalam kota Pamekasan dipastikan akan lumpuh total. Makanya, akses lalu lintas yang menuju kota Pamekasan semuanya kami tutup,” kata Bambang. (achmad rivai)

Sumber: Surya, Minggu, 15 Februari 2009

Saturday, December 12, 2009

Menengok Negeri Seribu Suluk di Bumi Lancang Kuning

Kamis, 10/09/2009 11:13 WIB

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


(Foto: naqshbandi.org) 


Pekanbaru - Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dijuluki Negeri Seribu Suluk di Bumi Lancang Kuning, Riau. Di daerah ini banyak ditemukan tempat-tempat pengajian atau suluk untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kata suluk, bagi orang Riau atau Sumatera Utara dan Sumatera Barat bukan hal yang asing lagi. Bila ada warga yang menyebut akan bersuluk, itu artinya dia akan meninggal urusan duniawi sementara waktu, dan hanya akan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Untuk bersuluk, warga di Riau tinggal memilih di mana tempat yang akan dia tuju. Namun pusatnya untuk wilayah Riau berada di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Di sana ada 120 pondok untuk bersuluk atau tarekat. Masing-masing sarana suluk dapat menampung ratusan jemaah. Minimal satu lokasi suluk dapat dihuni 70 jemaah yang terdiri dari kaum hawa dan adam.

Banyaknya tempat-tempat persulukan itulah, makanya Kabupaten Rokan Hulu dijuluki
‘Negeri Seribu Suluk’.

Apa lagi di bulan suci Ramadan ini, aktivitas suluk semakin meningkat. Pondok-pondok suluk akan dijubeli jamaah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bila bersuluk itu artinya kita berada di sebuah pondok pesantren yang diasuh para 'tuan syeh' atau bila di Pulau Jawa dikenal dengan istilah kiai. Dalam ajaran suluk ini mengacu pada aliran Tarekat Naqsyabandiah.

“Di bulan puasa seperti ini, di kampung saya itu malah masjid sedikit terlihat sepi. Ini karena warga lebih banyak mengikuti tarekat di pondok-pondok suluk itu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di musala yang ada di tempat suluk itu. Mereka mendekatkan diri dengan cara berzikir saban hari dan meninggal sementara urusan duniawi,” ujar tokoh
budayawan Riau, Al Azhar yang berasal dari Rohul itu dalam perbincangan dengan detikRamadan.

Dalam aliran suluk Naqsyabandiah ini, masing-masing tempat jemaah pria dan wanita dipandu seorang mursyid (ustad). Dari sejumlah lokasi itu, nantinya akan dipandu salah seorang tuan syeh. Aliran suluk ini, jamaah harus memisahkan diri dengan sanak keluarganya, karena jamaah nantinya akan berada di persulukan yang telah disediakan tempat pemondokan. Dalam satu pondok tentunya dipisah antara pria dan wanita.

Masing-masing jamaah nantinya akan diberi kelambu. Kelambu putih inilah yang mereka sebut dengan istilah kuburan. Berada dalam kelambu berarti jamaah masuk dalam kuburnya. Bila keluar dari kelambu, maka jamaah berkumpul di suatu aula untuk berzikir bersama dipandu  mursyid.

“Selama dalam suluk, jamaah Naqsyabandiah ini hanya berurusan dengan Allah. Mereka semata-mata menyerahkan dirinya kepada Allah,” kata Al Azhar yang juga dosen budaya di Universitas Islam Riau (UIR) itu.

Ada hal unik yang diyakini para jamaah Naqsyabandiah ini. Selama mereka mengikuti suluk, maka jemaah tidak memakan makanan yang berdarah. Makan yang berdarah itu dianggap yang harus melalui proses pembunuhan terlebih dahulu. Itu sebabnya, selama mereka suluk, mereka hanya makan lauknya dari sayur-sayuran.

“Ada sebuah keyakinan, kalau memakan yang berdarah sekalipun itu halal hal itu dianggap akan menghalangi mereka untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT selama proses suluk berjalan. Keyakinan ini sampai sekarang masih berlaku bagi jamaah suluk itu,” kata Al Azhar yang sudah berkepala lima itu.

Selama pemondokan ini, keseharian jamaah melaksanakan salat fardu dengan berjamaah. Selepas itu, bersama mursyid mereka menggali ilmu-ilmu Islam dalam berserah diri kepada Allah. Hari-hari mereka hanya salat, zikir dan mengaji.

“Itu sebabnya, mereka tidak pernah putus air wudhunya. Kalau batal, mereka segera berwudhu, karena mereka yakin, hanya dengan bersuci kita bisa lebih dekat dengan Allah,” tutur Al Azhar.

(cha/nwk)
 


Tuesday, December 8, 2009

Jamaah tarekat qodiriyah doakan Soeharto

Koran Sore Wawasan; Tuesday, 15 January 2008


BANYUMAS - Jamaah tarekat qodiriyah Banyumas malam tadi menggelar doa bersama untuk mantan orang nomor satu di Indonesia, Soeharto. Doa bersama dipimpin oleh Ustadz Hayun di Dusun Sawangan, Desa Karangtengah, Kecamatan Baturaden. Doa bersama diikuti sekitar 50 warga yang merasa prihatin dengan kondisi kesehatan Soeharto.
Sekitar pukul 21.00, warga mulai berdatangan untuk berdoa. Doa bersama dilakukan di salah satu rumah warga setempat. Warga dipimpin Ustadz Hayun kemudian mulai melakukan tahlil dan melantunkan surat Al Fatihah bersama- sama hingga tengah malam.
Usai melakukan doa bersama, kepada wartawan Ustadz Hayun mengatakan, doa bersama ini digelar atas inisitif warga yang merasa prihatin dengan kondisi kesehatan mantan pimpinan Orde Baru tersebut. Selain itu, bagaimanapun Soeharto adalah saudara sesama muslim, sehingga sangat pantas untuk didoakan.
Warga juga meminta agar rakyat Indonesia memaafkan kesalahan Soeharto. Sebab, lanjut Ustadz Hayun, bangsa yang besar adalah bangsa menghormati pahlawan dan bisa memaafkan kesalahan orang lain. Rencananya doa bersama ini akan terus digelar selama Soeharto masih kritis. hef/Pr

Harmoko Bawa Ahli Tarekat Doakan Soeharto

Rabu 16 Januari 2008 - 21:47 wib/Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone

JAKARTA - Mantan Ketua MPR/DPR Harmoko membawa seorang kyai ahli tarekat ke RSPP secara khusus untuk mendoakan mantan Presiden Soeharto.

"Saya datang bersama Ketua Umum Jatmi (Jamiyah Ahli Tarikah Mutabarah Indonesia) KH Maftuh Efendi. Saya sengaja membawa beliau untuk memimpin doa," kata Harmoko usai menjenguk di RSPP, Jalan Kyai Maja, Jakarta, Rabu (16/1/2008).

Harmoko mengaku beberapa hari lalu juga menggelar doa bersama di pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur bersama santri dan kyai agar Soeharto pulih dari kesehatanya dan mampu menerima cobaan.

"Hal ini merupakan salah satu perjalanan hidup Pak Harto yang berkali-kali masuk rumah sakit. Insya allah doa santri dan kyai bisa diterima Allah," katanya.

Ditanyakan soal proses hukum Soeharto, mantan menteri penerangan ini mengaku tidak akan memberi tanggapan. "Saya tidak akan memasuki wilayah pro kontra itu, saya serahkan sepenuhnya ke pemerintah," pungkasnya.

(uky)


Friday, December 4, 2009

Ratusan Warga Salat Gerhana


26-1-2009-metro26-1-2009-gerhana.JPG
SRIPO/HUSIN
SALAT GERHANA --- Ratusan warga di Talangjambe, Sukarami, Palembang menggelar salat gerhana matahari  tepat pukul 16.30 di komplek Pesantren Aulia Cendikia. Fenomena alam ini jarang terjadi sehingga warga memanfaatkan momentum ini untuk berdoa dan melakukan taubat.
Sriwijaya Post - Senin, 26 Januari 2009 18:45 WIB
PALEMBANG, SENIN - Ratusan warga Talangjambe, Kecamatan Sukarami, Palembang menggelar salat gerhana Matahari sekitar pukul 16.30, Senin (26/1) di Komplek Pesantren Aulia Cendikia. Salat diikuti anak-anak dan orang dewasa.
Selesai salat, warga yang hadir juga mendengarkan khutbah singkat yang disampaikan Ustad Syaiful Wardi.
Suasana salat gerhana yang dilakukan di Palembang kebanyakan dilakukan di ruang terbuka sehingga masyarakat dapat merasakan detik-detik gerhana. Hanya saja, peristiwa alam ini tidak dapat disaksikan secara langsung oleh warga karena cuaca di Palembang menndung dan matahari diselimuti awan hitam. Namun, saat pelaksanaan salat gerhana, suasana memang terasa gelap tetapi setelah itu, langit kembali cerah.
Selain di komplek pesantren Aulia Cendikia, pelaksanaan salat Gerhana juga dilakukan di Pesantren Innayatullah di Desa Gasing diikuti 318 orang. Juga Pengajian Raudhatul Quran di Plaju, Majelis Tarekat Qodariyah Wa Naqsabandiyah, Plaju dan Majelis Taklim Asmaul Husna di Talang Jambi.  Secara umum pelaksanaan gerhana berlangsung khusuk.    

Wednesday, December 2, 2009

Ribuan Orang Hadiri Haul Agung Sultan Fatah: Generasi Wali Allah Tidak Pernah Putus

SM Minggu, 07 Agustus 2005
DEMAK- Ribuan orang muslim menghadiri puncak peringatan Haul Agung Ke-2 Kanjeng Sultan Raden Abdul Fatah Al Akbar Sayyidin Panotogomo Ke-487 M/502 H, Sabtu siang (6/8), di depan Masjid Agung Demak.
Puncak haul agung memperingati kematian Sultan Fatah, pendiri Kerajaan Islam pertama di Demak Bintoro itu, diisi dengan pengajian akbar oleh H Ahmad Jauhari MSi dari Depag Pusat dan KH Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan. Ikut menghadiri acara itu, Bupati Hj Endang Setyaningdyah, Muspida, Kepala Biro Umum Setda Pemprov Jateng Drs Ateng C Miftah SE MSi mewakili Gubernur Jateng, dan Kakanwil Depag Jateng Drs HM Chabib Toha MA.
Acara dimulai dengan tahlil bersama. Bupati dan Muspida serta sejumlah tamu yang berangkat dari pendapa berjalan kaki diiringi kelompok penabuh terbang. Tampak di antara rombongan, Kakandepag Demak Drs H Bambang Sugito TH, Imam Masjid Agung Demak KH Muzayin Munawar, serta para ulama dan kiai di Kota Wali.
Ribuan orang Islam yang membanjiri alun-alun tampak khusyuk mengikuti kegiatan itu. Mereka rela terkena panas matahari yang begitu menyengat.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Haul Agung Drs HM Dachirin Said SH menjelaskan, acara akbar itu guna menghormati kematian Sultan Fatah. Sultan Fatah merupakan sosok raja atau penguasa yang tetap mengedepankan ahlaqul karimah. Bahkan, dia tergolong seorang wali Allah.
Karena posisi Sultan yang demikian, Kakanwil Depag HM Chabib Toha mengajak masyarakat untuk meniru pola kepemimpinan Sultan Fatah.
''Dulu Demak marupakan pusat kerajaan yang rakyatnya damai dan jauh ada pertentangan. Karena itu, masyarakat Demak harus menjaga kondisi yang demikian, jangan menyampaikan sesuatu dengan pengerahan massa, apalagi sampai terjadi benturan,'' tuturnya.
Dia mengatakan, materi yang disampaikan sedikit berbau politik, karena yang sedang diperingati adalah ulama yang juga penguasa. ''Jadi, bisa dibilang haul kali ini juga haul politik. Kebetulan saat haul ini, suhu politik di daerah yang dikenal sebagai Kota Wali itu sedang hangat.''
Pesan perjuangan yang disampaikan Sultan Fatah, terangnya, lebih mengedepankan musyawarah. Pola demikian harus terus dijadikan pegangan.
Selalu Lahir Wali
Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan, jumlah wali di muka bumi ini tidak pernah berkurang. Artinya, generasi wali tidak pernah putus. Setiap ada seorang wali yang meninggal, akan ada seorang wali yang menggantikannya. Sultan Fatah merupakan salah satu walisongo pada zaman Maulana Malik Ibrahim.
''Saat itu Sunan Kalijaga belum diangkat sebagai wali. Sebenarnya sampai saat ini walisongo itu masih ada, tetapi siapa orangnya dan sekarang ada di mana, saya tidak tahu,'' paparnya.
Jumlah wali Allah, kata dia, terbanyak adalah di tanah Jawa. Tugas para wali cukup berat. Tidak hanya membentengi umat dari ancaman bahaya, tetapi juga menjaga moralitas umat. ''Kebanyakan wali itu lebih mementingkan menjaga umat, dan itu tugas yang tidak ringan.'' (H1-37t)

Sembilan Kiai Khos Pimpin Mujahadah

SM Jumat, 6 September 2002SEMARANG-Sebanyak sembilan kiai khos dari berbagai daerah di Jateng, semalam memimpin doa mujahadah di lokasi pembangunan Masjid Agung Jateng. Sembilan kiai membaca doa secara bergantian diawali KH Habib Luthfi Bin Yahya dari Pekalongan. Dilanjutkan KH Musyafa Achmad dari Demak, KH Maemun Zubair dari Sarang Rembang, KH Abdul Rozaq Rembang, KH Muhammad Hidayat dari Purwokerto Banyumas, KH Habib Ali AlHabsyi dari Pemalang, KHM Amin Sholeh MC dari Jepara dan KH Wildan Abdul Hamid dari Kendal.
Ribuan umat Islam yang duduk lesehan di atas tikar secara koor mengamini doa tersebut. Sebelumnya, jamaah yang sudah duduk sejak bakda Maghrib, dengan khusyuk mengikuti hataman Alquran yang dipimpin KH Turmudzi Taslim AlHafidz pengasuh pesantren Raudlatul Quran Kauman Semarang dan KH Harir Muhammad AlHafidz pengasuh Pesantren Bustan Usyaqil Quran (BUQ) Demak. Semaan Alqurannya sendiri dilakukan oleh seratus hafiz (penghafal Alquran) dari berbagai daerah dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Sayangnya, semaan Alquran tersebut tidak banyak diikuti oleh umat Islam.
Jamaah juga mengikuti bacaan Istighotsah Asmaul Husna dipimpin KH Drs Amjad AlHafidz BSc dan KH Baidlowi Syamsuri pengasuh pesantren Sirojuth Tholibin,Brabu, Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.
Yang menarik, pada saat upacara pembukaan hataman, pembacaan Alquran tidak dilakukan oleh qari yang sudah dipersiapkan panitia. Melainkan oleh Menag Prof Dr H Said Agil Husin Al-Munawar sendiri. Sambil duduk, Menag yang memang seorang hafiz dan pernah menjadi qari terbaik internasional, dengan merdu dan syahdu melantunkan ayat suci Alquran secara hafalan.
Disamping kirinya Gubernur Jateng H Mardiyanto mendengarkan dengan khusyuk. Sedang disamping kanannya Dirjen Kelembagaan Islam Dr H Qodry A Azizy dan Kakanwil Depag Drs HM Chabib Thoha MA.
Hampir semua pejabat Pemprov semalam hadir mengikuti mujahadah dan istighotsah tersebut. Mulai dari Wagub II H Djoko Sudantoko S.Sos MM, Wagub III Ir H Mulyadi Widodo, Sekda Mardjijono SH, Kepala Badan Kesbanglinmas HS Prayitno, Asisten II Ir Suwito, Asisten III Drs Suprapto Sudarto, Karo Umum Drs H Sumantoro, Karo Kesra Drs H Suwarto Nasucha, Kepala BIKK Drs H Anwar Cholil, para kepala badan dan dinas. Mereka semuanya larut dalam bacaan doa istighotsah dan mujahadah sambil menyimak tuntunan doa yang digandakan oleh panitia.
Didengar Allah
Menag dalam sambutannya menyambut baik berbagai kegiatan spiritual yang dilakukan umat Islam sebelum mengawali pembangunan Masjid Agung Jateng pagi ini. "Apalagi doa-doanya di-pimpin oleh para kiai, habaib dan ulama dengan bacaan mujahadah dan istighotsah. Allah subhanahu wataala pasti mendengarnya," katanya.
Tentang besarnya biaya pembangunan masjid, Menag minta umat Islam Kota Semarang tidak terlalu merisaukannya. "Kalau tiang sudah ditancapkan dan bangunan sudah mulai kelihatan, Insya Allah semuanya akan berjalan dengan lancar. Tidak pembangunan masjid di dunia yang tidak selesai. Allah pasti akan memberikan kemudahan," tegasnya.
Gubernur Jateng H Mardiyanto mengatakan, pembangunan Masjid Agung Jateng berawal ungkapan syukur Takmir Masjid Besar Kauman Semarang atas kembalinya tanah wakaf banda masjid tersebut, setelah dalam masa panjang menjadi polemik dan sengketa yang rumit. (B13-60)