Wednesday, January 20, 2010

Tarekat Syattariyah Dukung Mega-Prabowo


Jumat, 19 Juni 2009 07:46
Jakarta, NU Online
Pemimpin Tarekat Syattariyah KH M Sofyan al-Mursyid menyatakan ketertarikannya kepada pasangan Megawati-Prabowo Subianto. Menurutnya pasangan ini selalu mengedepankan ekonomi kerakyatan.

Sebagai wujud dukungannya, dikatakannya, 270 kiai di dalamnya bergabung dengan Front Persatuan Pendukung Prabowo (F-PPP). Mereka juga siap menggalang dukungan massa untuk Prabowo.

"Pembelaannya kepada nasib petani dan nelayan membuat kami tertarik. Komitmennya membela rakyat miskin, membuat kami tidak ragu memberikan dukungan," kata Sofyan kepada wartawan di Jakarta seperti dilansir okezone.com, Jum’at (18/6).

Sofyan menambahkan, pemihakan Prabowo kepada rakyat kecil sudah terlihat ketika memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPI).

Dia menegaskan, anggota Tarekat Syattariyah tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan anggota terbanyak ada di Provinsi Jawa Timur yang menjadi basis NU. Untuk Jawa Timur, pihaknya mengaku sudah didukung 400 khalifah (tingkat kabupaten) dan muqoddam (tingkat kecamatan). "Nah, yang tergabung dalam tarekat  ini mulai dari kiai khos hingga kiai kampung," ujarnya.

Menurut Sofyan Tarekat Syattariyah merupakan bagian dari NU. Karena itu, pihaknya tidak akan kesulitan untuk mendapat dukungan dari warga NU. Mengenai sosok Megawati, Sofyan tak mempersoalkan kepemimpinan perempuan. Sebab, kepemipinan tidak dilihat dari jenis kelamin melainkan dari kemampuan.

"Jadi tidak ada masalah dengan Ibu Megawati. Pada Pilpres 2004 lalu, Ibu Megawati berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi yang saat itu menjabat Ketua Umum PBNU," ungkapnya. (sam)

Sekilas Sosok Kiai Marogan

coba
23.08.2009 BERITA MUSI
Oleh YASIR AMRI

KIAI Marogan sebenarnya bernama lengkap Masagus H. Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud. Namun bagi masyarakat Palembang, julukan “Kiai Marogan” lebih terkenal dibanding nama lengkapnya. Julukan Kiai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang. Mengenai waktu kelahirannya, tidak ditemukan catatan yang pasti. Ada yang mengatakan, ia lahir sekitar tahun 1811, dan ada pula tahun 1802.
Namun menurut sumber lisan dari zuriatnya, dan dihitung dari tahun wafatnya dalam usia 89 tahun, maka yang tepat adalah ia lahir tahun 1802, dan meninggal dunia pada 17 Rajab 1319 H yang bertepatan dengan 31 Oktober 1901.
Pada waktu Kiai Marogan lahir, kesultanan Palembang sedang dalam peperangan yang sengit dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dilahirkan oleh seorang ibu bernama Perawati yang keturunan Cina, dan Ayah yang bernama Masagus H. Mahmud alias Kanang, keturunan priyayi atau ningrat. Dari surat panjang hasil keputusan Mahkamah Agama Saudi Arabia, diketahui silsilah keturunan Masagus H. Mahmud berasal dari sultan-sultan Palembang yang bernama susuhunan Abdurrahman Candi Walang.
Sultan Palembang memiliki garis keturunan dari Wali Songo—melalui Sunan Giri Ainul Yakin—dan merupakan keturunan Nabi Muhammad saw melalui jalur Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Dari kedua orang tuanya, Kiai Marogan hanya memiliki seorang adik yang bernama Masagus KH. Abdul Aziz, yang juga menjadi seorang ulama dengan sebutan Kiai Mudo. Sebutan ini dikarenakan ia lebih muda dari Kiai Marogan. Kiai Mudo lebih dikenal di daerah Muara Enim seperti Gumay, Kertomulyo, Betung, Sukarame, Gelumbang, Lembak dan sekitarnya. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari keluarga bangsawan, Kiai Marogan memperoleh pendidikan agama dengan istimewa.
Hal ini dikarenakan di dalam lingkungan kesultanan Palembang, agama Islam mempunyai tempat yang terhormat, di mana hubungan antara negara dan agama sangat erat, sebagaimana dibuktikan oleh birokrasi agama di istana Palembang. Birokrasi ini dipimpin oleh seorang pegawai dengan gelar Pangeran Penghulu Naga Agama. Di samping itu, Kiai Marogan memperoleh pendidikan langsung dari orang tuanya yang ternyata merupakan seorang ulama besar yang lama belajar di Mekah dibawah bimbingan ulama besar seperti Syekh Abdush Shomad al-Falimbani. Setelah wafat, ayah Kiai Marogan dimakamkan di negeri Aden, Yaman Selatan. Melihat kecerdasan Kiai Marogan dalam menyerap ilmu agama kemudian orang tuanya mengirimkannya ke Mekah untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama.
Kiai Marogan tercatat pernah belajar ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadits dan tasawuf. Hal ini dapat diperoleh dari isnad-isnad yang ditulis oleh Syekh Yasin al-Fadani, mudir (pimpinan) Madrasah Darul Ulum Mekah.
Kiai Marogan memiliki dua orang isteri yang bernama Masayu Maznah dan Raden Ayu salmah. Dari pernikahannya ia dikarunia tiga putra putri yaitu Masagus H. Abu Mansyur, Masagus H. Usman, dan Masayu Zuhro. Pada masa mudanya Kiai Marogan dikenal giat berbisnis di bidang saw-mill atau perkayuan. Ia memiliki dua buah pabrik penggergajian kayu. Bakat bisnis mungkin diperoleh dari ibunya yang merupakan keturunan Cina. Berkat sukses dalam bisnis kayu ini memungkinkan Kiai Marogan untuk pulang pergi ke tanah suci dan menjalankan kegiatan penyebaran dakwah di pedalaman Sumatra Selatan. Dari hasil usaha kayu ini juga Kiai Marogan mampu mendirikan sejumlah masjid yang diperuntukkan sebagai pusat pengajian dan dakwah.
Banyak ajaran Kiai Marogan yang masih melekat di sebagian penduduk Palembang, di antaranya adalah sebuah zikir yang hebat: “La ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin Muhammadur Rasulullah Shadiqul Wa’dul Amin”, yang berarti “Tiada Tuhan Selain Allah, Raja Yang Benar dan Nyata, Muhammad adalah Rasulullah Yang Jujur dan Amanah.”
Zikir yang diamalkan oleh Kiai Marogan di atas, ternyata sumbernya di dalam hadits. Dari Sayyidina Ali Ra Karramallahu wajhahu berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa setiap hari membaca 100 x Lailahaillah al-Maliku al-Haqqu al-Mubin, maka ia akan aman dari kefakiran, jadi kaya, tenang di alam kubur, dan mengetuk pintu surga.
Menurut kesimpulan penulis, selain berniaga kayu dengan mengamalkan zikir ini Kiai Marogan dianugerahi dan dibanjiri rezeki yang melimpah baik semasa hidup maupun setelah wafat hatta setelah 1 abad yang lalu dengan meninggalkan warisan untuk anak cucunya yang belum habis-habis hingga sekarang.
Konon, amalan zikir ini dibaca oleh Kiai Marogan dan murid-muridnya dalam perjalanan di atas perahu. Sambil mengayuh perahu, beliau menyuruh murid-muridnya mengucapkan zikir tersebut berulang-ulang sepanjang perjalanan dengan suara lantang. Zikir ini dapat menjadi tanda dan ciri khas penduduk apabila ingin mengetahui Kiai Marogan melewati daerahnya.Amalan zikir ini ternyata sampai sekarang masih dibaca oleh Wong Palembang, khususnya kaum Ibu-ibu ketika menggendong anak bayi untuk menimang atau menidurkan anaknya dengan irama yang khas dan berulang-ulang.
Dalam berdakwah Kiai Marogan menitikberatkan pada sikap zuhud dan kesufian dengan memperkuat keimanan. Hal ini dikarenakan pengaruh dari ajaran tarekat yang ia amalkan.Di dalam buku, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Martin van Bruinessen memasukkan nama Kyai Marogan (Masagus H. Abdul Hamid) sebagai salah seorang guru dari tarekat Sammaniyah. Ia mempelajari tarekat Sammaniyah dari orang tuanya sendiri, yang berguru kepada Syekh Muhammad Aqib dan Syekh Abdush Shomad Al-Falimbani.Menurut istilah di dalam ilmu tasawuf, tarekat ialah perjalanan khusus bagi para sufi yang menempuh jalan menuju Allah swt.
Perjalanan mengikuti jalur yang ada melalui tahap dan seluk beluknya. Dan tujuan dari tarekat adalah menciptakan moral yang mulia.Sebagaimana diketahui bahwa di daerah Palembang sejak masa kesultanan Palembang tarekat Sammaniyah telah menyebar secara luas dibawa oleh Syekh Abdush Shomad Al-Falimbani murid dari pendirinya Syekh Muhammad Abdul Karim Samman. Hampir seluruh masjid tua di Palembang, membaca ratib Samman yaitu bacaan yang meliputi syahadat, surah al-Qur’an dan bacaan zikir yang disertai gerak dan sikap yang khas tarekat Samman.Tidak ditemukan kitab yang dapat diidentifikasi sebagai karya Kiai Marogan. Meskipun menurut penuturan dari zuriyatnya bahwa Kiai Marogan pernah menulis kitab tasawuf. Akan tetapi, yang dapat diketahui adalah Kiai Marogan meninggalkan beberapa bangunan masjid yang besar dan bersejarah. Yaitu masjid Jami’ Muara Ogan di Kertapati Palembang dan masjid Lawang Kidul di 5 Ilir Palembang.
Menurut cicitnya, Masagus H. Abdul Karim Dung, selain kedua masjid di atas, Kiai Marogan juga membangun beberapa masjid lagi seperti masjid di dusun Pedu Pedalaman OKI, masjid di dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir OKI, Mushalla di 5 Ulu Laut Palembang, masjid Sungai Rotan Jejawi, masjid Talang Pangeran Pemulutan. Namun, pernyataan dari cicitnya ini belum dapat dibuktikan secara empiris, perlu dilakukan penelitian dan peninjauan lebih lanjut. Sedangkan kedua masjid yaitu masjid Jami’ Muara Ogan dan masjid Lawang Kidul yang berada di kota Palembang, dapat dibuktikan melalui surat Nazar Munjaz atau surat Wakaf yang ditandatangani oleh Kiai Marogan langsung.

Suluak, Tradisi Unik Naqsabandiyah di Padang

Sejak awal Ramadhan, mereka makan, minum dan tidur di Masjid. Inilah tradisi Suluak.

Kamis, 10 September 2009, 09:59 WIB
Arfi Bambani Amri


VIVAnews - Bulan puasa menjadi bulan penuh rahmat bagi setiap ummat muslim  untuk meningkatkan keimanan. Itikaf (berdiam diri di masjid) menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan hidayah.

Bagi penganut Islam Naqsabandiyah di Padang, itikaf dilakukan dalam waktu yang panjang. Bagi penganut Islam Naqsabandi, mereka menyebutnya dengan istilah 'suluak'. "Suluak merupakan cara mendekatkan diri dengan Allah serta mengkaji sifat-sifat pencipta," kata Zahar (53) jamaah Naqsabandiyah yang ditemui VIVAnews di Surau Baru, Kecamatan Pauh, Padang, Rabu 9 September 2009.

Suluak dilakukan dalam waktu 10 hari hingga 30 hari selama bulan Ramadhan. Selama mengikuti suluak, para jamaah membawa sejumlah perlengkapan seperti beras, bahan-bahan untuk dimakan, pakaian ganti, dan sejumlah perlengkapan tidur.

Perlengkapan keseharian ini disesuaikan dengan lamanya waktu suluak yang diikuti. Selama bersuluak, jemaah menghabiskan waktunya di masjid dan melakukan segala aktivitasnya di dalam rumah ibadah.

Rata-rata peserta suluak didominasi kalangan tua. "Selama bersuluak jemaah mengikuti pengajian-pengajian yang diberikan buya pada waktu-waktu sehabis shalat fardhu," kata Zahar. Saat VIVAnews berkunjung ke Surau Buluh, sedkitnya terlihat empat perempuan tua yang sedang mengikuti kegiatan tersebut.

Di surau tua yang berukuran kecil ini, para peserta suluak menghabiskan waktunya sehari-hari. Masjid tua ini memang terkesan berbeda dengan bangunan yang berada di sekitarnya. Di dalam masjid juga terlihat beragam perlengkapan tidur mereka yang mengikuti suluak.

"Setelah mengikuti suluak diharapkan keimanan kita akan bertambah dan semakin dekat dengan pencipta," kata Zahar. Suluak tak ubahnya seperti menyepi dan menjauhkan diri dari segala kegiatan dunia.

Ajaran Tarekat Naqsabandiyah dibawa Maulana Syaikh H Muhammad  Thaib Bin Ismail (Angku Surau Baru). Aliran Naqsabandiyah diyakini berasal dari Makkah yang dikembangkan murid sekaligus sahabat Rasul Muhammad SAW, Abubakar As Shiddiq.

Angku Syarief Thaeb mengembangkan aliran ini pertama di Sumbar. Hingga saat ini, aliran Tarekat Naqsabandiyah berkembang hampir ke seluruh daerah di Sumbar.

Naqsabandiyah memiliki sistem penanggalan sendiri sehingga Ramadhan dilakukan 30 hari penuh setiap tahunnya. Sesuai kepercayaan aliran ini, Ramadhan bagi jamaah naqsabandiyah dua hari lebih awal dari pemerintah.

Laporan Eri Naldi | Padang

SBY Bahas Fitnah dengan Majelis Zikir

Laporan: Antara
Sabtu, 12 Desember 2009 | 20:43 WITA
Bogor, Tribun - - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara bersilaturahmi dengan keluarga besar Majelis Dzikir Nurussalam dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1431 H di Padepokan H Harris Thahir, Jalan Raya Sukabumi, Rancamaya, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (12/12) sore.
Acara yang dihadiri sedikitnya 1.000 anggota Majelis Dzikir Nurussalam itu bertema "Hindarkan fitnah, tebarkan benih-benih kebaikan di antara anak bangsa. Mari kita bersatu membangun negeri dengan akhlak mulia".

Presiden Yudhoyono yang sore itu mengenakan kemeja koko berwarna putih dengan didampingi oleh putra bungsunya Edhie Baskoro, langsung melaksanakan salat Tahyatul Masjid begitu memasuki masjid.

Acara yang berlangsung lebih kurang dua jam itu diawali dengan pembacaan Qisoh Maulid dan siraman rohani oleh KH M Hidayat. Dalam siraman rohaninya Hidayat mengatakan bahwa orang-orang yang mudah memfitnah tidak akan bisa mencium bau surga. Ia menegaskan bahwa mencari kebenaran tidak perlu dilakukan melalui fitnah.

Ia kemudian mengatakan tiga hal yang harus dilakukan seseorang jika ingin dosa fitnahnya diampuni.

"Pertama, yang memfitnah harus datang ke kerumunan orang tempat ia menyebarkan fitnah dan memberikan klarifikasi. Kedua, orang yang memfitnah harus datang kepada korban yang difitnah dan meminta maaf. Ketiga, bertobat kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan fitnah. Memfitnah itu artinya sama seperti memakan daging saudara sendiri," katanya.

Sementara itu Presiden Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Mejelis Dzikir Nurussalam, membuka sambutannya dengan menceritakan sejarah singkat pembentukan Majelis Dzikir Nurussalam di Cikeas pada tahun 2004, serta makna nama dari Nurussalam.

"Lima tahun sejak berdirinya Majelis Dzikir telah menjalankan ibadah dan peran yang baik untuk mengajak umat berdzikir, membimbing umat menuju jalan yang benar, dan yang terus mendampingi saya selaku kepala negara di dalam memimpin bangsa dan negara, membangun hari esok yang lebih baik," katanya.

Pada kesempatan itu Presiden juga mengajak seluruh anggota Majelis Dzikir untuk menghindarkan fitnah, melainkan harus terus mampu menebar benih-benih kebaikan di antara anak bangsa dan bersatu membangun negeri dengan akhlak mulia.

"Saya setuju, jangan main-main dengan fitnah, kebohongan dan berita dusta...karena luar biasa azab yang akan diterimakan kepada mereka kecuali mereka bertobat," katanya.

Melalui forum itu, Presiden juga menyeru semua pihak untuk menjalani kehidupan tanpa kekerasan yang jauh dari akhlak dan tata krama.

"Berpolitik pun tidak boleh menjalankan politik kekerasan, kotor, yang tidak bersih ... bukan politik yang mulia. Politik Islami yang ingin sama-sama kita tegakkan," katanya.

Turut mendampingi Kepala Negara antara lain Ketua Majelis Dzikir SBY Nurussalam Harris Thahir, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri ESDM Darwin S Saleh, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Negara Koperasi dan UKM Syarief Hassan, Mendiknas M Nuh dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso.(*)

Tuesday, January 19, 2010

Jatman Satu-Satunya Organisasi yang Bisa Menyatukan Tarekat


Rabu, 25 Juni 2008 14:31
Jakarta, NU Online
Jamiyyah Ahlut Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah atau biasa disingkat Jatman ternyata merupakan satu-satunya organisasi yang bisa menyatukan tarekat di dunia. Di negara-negara lain, tarekat berdiri sendiri-sendiri berdasarkan aliran yang dianutnya.

Demikian dikatakan oleh KH Yusuf Khumaidi kepada NU Online ditengah-tengah persiapan penyelenggaraan Munas Jatman yang akan diselenggarakan pada 26-28 Juni di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

“Para ulama dari Marokko dan Tunisia pada bertanya, kok bisa menyatukan Naqsabandiyah dan Tijaniyah. Disana semuanya berdiri sendiri-sendiri,” katanya.

Keberadaan Jatman ini menurutnya telah menginspirasi para penganut tarekat di sejumlah negara Timur Tengah untuk membuat organisasi yang sama. Mereka telah bertemu dengan Rais Aam Jatman Habib Lutfi bin Ali bin Yahya untuk mengetahui konsep pengorganisasian jamaah tarekat.

“Kita juga berupaya mengembangkan jaringan ini ke luar negeri yang akan dibahas dalam munas ini,” ujarnya.

Tarekat yang tergabung dalam Jatman meliputi tarekat muktabarah yang mencakup sebanyak 40 aliran tarekat yang para mursyidnya memiliki garis keturunan dengan rasulullah. Tarekat ini dianggap sesuai dengan ajaran Islam, bukan merupakan aliran sinkretisme dengan budaya lokal. (mkf)