Tuesday, January 19, 2010

Naqsabandiyah dan Tarekat Sattariyah Dukung JK

Kamis, 11 Juni 2009 - 22:15 wib/Rus Akbar - Okezone
PADANG - Ketua Tim Sukses Jusuf Kalla-Wiranto wilayah Sumatera Barat, Irdinansyah Tarmizi mengatakan dua jemaah terbesar di Sumatera Barat, Sattariyah dan Naqsabandiyah mendukung pasangan capres dan cawapres JK-Wiranto.

"Kita sudah menjamin bahwa kedua jemaah Tarekat Sattariyah dan Naqsabandiyah yang jumlahnya ribuan ini akan memilih JK-Wiranto di Sumbar," katanya di kantor DPD Golkar Sumbar, Jalan Rasuna Said, Padang, Kamis (11/6/2009).

Ketua DPP Tarekat Sattariyah Ismet Ismael ternyata merupakan Wakil Ketua DPD Golkar Sumbar, yang secara otomatis memastikan jemaahnya akan mengikuti pimpinannya.

"Beliau telah menyampaikan hal itu pada kita bahwa jemaahnya mendukung JK-Wiranto. Sementara Tarekat Naqsabandiyah menjelang pileg kemarin mereka sudah mengadakan salat bersama dengan partai kita di kantor serta mereka menyatakan dukungan mereka pada Partai Golkar," ujarnya.

Kedua jamaah ini akan ikut meramaikan kampanye terbuka JK-Wiranto pada Minggu, 14 Juni 2009 yang diadakan di lapangan Imam Bonjol Padang.

Dalam kampanye tersebut juga akan diundang beberapa jemaah yaitu NU, Sattariyah dan Naqsabandiyah, serta warga Kota Padang. Rencananya kampanye tersebut akan diikuti 30 ribu orang.

(lam)

Saturday, January 9, 2010

Para Anggota Kelompok Pengajian Bakal Jadi Saksi SBY-Boediono di TPS

Sabtu, 30/05/2009 07:50 WIB
Luhur Hertanto - detikNews

Jakarta - Pada hari-H Pilpres 2009 nanti akan ada pemandangan berbeda di beberapa tempat pemungutan suara (TPS). Sekelompok anggota pengajian akan hadir di sana hingga usai sesi penghitungan suara. Mereka adalah saksi untuk SBY-Boediono.

Salah satu proyek strategis tim pemenangan pasangan SBY-Boediono sedang berlangsung, adalah mempersiapkan kelompok saksi TPS Pilpres 2009. Uniknya para saksi tersebut terdiri dari para ibu-ibu anggota kelompok pengajian setempat.

"Pertimbangannya karena ibu-ibu lebih telaten," ujar Ketum Majelis Pemenangan SBY, H Haris Thahir pada detikcom, Jumat (29/5/2009).

Pada hari-H Pilpres 2009, para ibu-ibu saksi ini berperan sebagai saksi pelapis. Sedangkan saksi utama yang mayoritas pria, tetap menggunakan jaringan yang sudah dibangun oleh caleg Partai Demokrat (PD) untuk keperluan Pileg 2009.

"Jadi hasilnya dijadikan bahan pencocokan hasil perhitungan saksi," sambungnya.

Para anggota pengajian tersebut berasal dari majelis-majelis taklim yang berafiliasi kepada 14 ormas Islam anggota Majelis Pemenangan SBY. Beberapa di antaranya adalah: Al-Khairat, Jamiyyah Ahli Thoriqoh Mutabaroh Indonesia (JATMI), Ikhwanul Mubaligh,  Persatuan Tarbiyah, Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), Poros muda NU-Muhammadiyah, Al Wasilah, Jamiah Tarbiyah, Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah, Forum Musyawarah Lembaga Dakwah Pemuda Islam (FMLDPI) dan Forum Silahturahmi Remaja Masjid Indonesia (FSRMI).

Majelis Pemenangan SBY merupakan reinkarnasi dari Majelis Dzikir SBY Nurussalam. Sedari awal pendiriannya pada pertengahan 2004 silam, organ yang punya aktifitas utama menggelar pengajian tersebut saat ini telah memiliki jaringan di hampir seluruh kecamatan di 33 provinsi.

(lh/nwk)

Bursa Cawapres SBY, Akbar Meredup, Hatta Menguat

Kamis, 23/04/2009 14:50 WIB
Muhammad Nur Hayid - detikNews

Jakarta - Menjelang penentuan cawapres dalam Rapimnas Partai Demokrat (PD) tanggal 25 April mendatang, bursa cawapres SBY makin terbuka. Setelah Golkar memutuskan cerai dengan PD, bursa nama cawapres semakin mengerucut. Benarkah Hatta Rajasa yang paling menonjol di antara kandidat lainnya?

Menguatnya nama Hatta ini disebabkan karena nama Akbar Tandjung yang sebelumnya juga santer dinilai potensial mendampingi SBY mulai mengecil. Sebab, Partai Golkar yang sebelumnya diharapkan akan menjadi penopang koalisi sudah menetapkan sikap bercerai dengan partainya SBY, PD. Selain itu, pertimbangan usia Akbar yang lebih tua dari SBY dinilai juga tidak cukup produktif dalam membantu tugas-tugas SBY di periodenya yang kedua jika terpilih lagi dalam pilpres 2009.

"Potensi Hatta memang menguat setelah Golkar menyatakan cerai dengan PD. Apalagi Pak Akbar yang sebelumnya itu calon kuat belakangan dinilai terlalu agresif. SBY kan tidak suka yang seperti ini," kata sumber detikcom, Kamis (23/4/2009).

Sumber itu malanjutkan ceritanya, dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di kediaman Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan Rabu (22/4/2009) kemarin, sebenarnya SBY akan hadir di acara yang dihadiri ribuan orang itu. Tetapi karena Akbar ikut hadir, SBY memilih mengutus Menteri Komunikasi dan Informatika M Nuh mewakili SBY.

"Ketidakhadiran beliau yang sebelumnya confirm hadir, ini karena tidak ingin dikesankan wacana duet SBY-Akbar sudah selesai. Kalau beliau memang menghendaki Pak Akbar, kan harusnya SBY datang," paparnya.          

Data lain yang diterima detikcom, melemahnya dukungan Akbar dari partai pendukung koalisi SBY karena PKS juga bekerja keras mengeluarkan Golkar dari partai pengusung SBY. Hal ini termasuk mengeluarkan nama Akbar dari bursa cawapres SBY. Hal ini dimaksudkan agar dalam pemilu 2014 PKS sebagai partai kader dapat menggilas Golkar yang dinilai sebagai partai paling rapi organisasinya dan berpengalaman.

Sumber detikcom di DPP PKS menjelaskan bahwa sikap PKS yang keras dengan Golkar tetapi tidak mengajukan cawapres dari kalangan internal partai disebabkan karena sudah ada kesepakatan tertentu dengan Mensesneg Hatta Rajasa. Konon dengan cara itulah, PKS akan dapat portofolio menteri yang  lebih banyak karena Golkar keluar dari koalisi pendukung SBY.

"Sebenarnya di internal PKS banyak yang ingin mengusung kader sendiri. Ada Pak Hidayat, ada Tifatul, ada Anis Matta. Tetapi keinginan itu sudah dipotong oleh beberapa elit yang selama ini gencar menggalang koalisi," papar sumber itu.

"Elit ini kabarnya sudah melakukan deal-deal politik dengan Hatta Rajasa. Makanya suara PKS nanti kalau ditanya SBY akan diarahkan ke Hatta, karena PKS tidak mengajukan cawapres sendiri. Di sini peluang Hatta akan lebih kuat daripada Akbar karena sudah ada minimal dukungan dari PKS dan PAN," paparnya.

Namun, menurut sumber tersebut, di internal PKS masih ada perdebatan soal skenario ini. Pasalnya Hatta dinilai tidak akan cukup memberi kontribusi bagi PKS. Justru PKS akan dirugikan dengan konsep seperti ini. Belum lagi soal belum selesainya dukungan PAN secara institusi kepada SBY karena Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir masih belum mengumumkan dukungan final PAN meskipun Amien Rais sudah final ke SBY.    

"Skenario ini masih belum sepenuhnya diterima semua kader. Tetapi karena partai kami ini partai kader, di mana jika keputusan tertinggi sudah diambil, semua kader harus ikut. Ya skenario ini tidak akan susah dijalankan jika Majelis Syuro sudah memutuskan," paparnya

Dengan dukungan PKS inilah, selain back up total Amien Rais yang masih membawa gerbong lama Muhammadiyah, nama Hatta akan semakin terang untuk dipasangkan dengan SBY.  Ditambah lagi beberapa sumber detikcom menjelaskan bahwa Hatta merupakan salah satu menteri kabinet yang memiliki kemampuan multitasking, selain loyalitas yang tinggi.

SBY Buka Muktamar Nadhliyyah

Minggu, 27/03/2005 10:02 WIB
Luhur Hertanto - detikNews

Semarang - Presiden SBY pukul 10.00 WIB pagi ini dijadwalkan akan membuka Muktamar Jam'iyyah Ahlith Thariqah Mu'tabarah an Nadhliyyah ke X di Pekalongan, Jawa Tengah. Ikut dalam rombongan presiden antara lain Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menko Kesra Alwi Shihab dan Menteri Agama M Maftuh Basyuni. Rombongan rencananya akan disambut oleh ketua umum PBNU KH HAsyim Muzadi dan Rais am NU KH Habib M Luthfi Ali bin Yahya yang sudah menunggu di lokasi acara. Rombongan berangkat dari Base Ops Pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma dengan menggunakan pesawat kepresidenan RJ 85 sekitar pukul 08.30 WIB tadi pagi. Saat ini rombongan sudah tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang dan akan melanjutkan perjalanan dengan Helikopter ke Pekalongan. Namun saat akan take off, satu dari tiga Heli kepresidenan superpuma diketahui mengalami gangguan teknis, sehingga Heli yang berisi paspampres dan sesmil dipindahkan ke Heli nomor tiga yang sedianya mengangkut para wartawan. Kontan para wartawan yang sudah berada di dalam Heli diminta turun. Delapan orang wartawan yang ikut dalam rombongan rencananya akan menyusul dengan Heli TNI AD. Tapi ternyata Heli ini digunakan oleh rombongan Pangdam, sedangkan Heli milik Polri yang juga akan berangkat diisi rombongan Pangdam lainnya. Alhasil, wartawan pun tertahan di Bandara Ahmad Yani selama lebih 30 menit. Namun akhirnya setelah sempat berkeluh kesah, para wartawan bisa juga berangkat ke Pekalongan dengan Heli yang sebelumnya rusak. Presiden rencananya akan kembali ke Jakarta pukul 13.30 WIB. (fab/)

Jelaskan Sikapnya, Gus Dur Undang 30 Kiai Sepuh ke Rumahnya

Rilis - detik News Sabtu, 18/09/2004 14:24 WIB


Jakarta - Sekitar 30 kiai sepuh memastikan hadir dalam pertemuan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kediaman mantan presiden itu di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (18/9/2004) malam pukul 20.00 WIB. "Gus Dur yang mengundang para kiai-kiai itu ke Ciganjur," kata Adhie M.Massardi, jubir Gus Dur, Sabtu (18/9/2004) dalam rilisnya pada detikcom. Dipilihnya hari terakhir menjelang pemungutan suara pilpres 20 September, menurut Adhie, agar para kiai mendapatkan informasi langsung dari Gus Dur mengenai situasi politik terkini. Dalam kesempatan itu, Gus Dur juga akan menentukan sikap politiknya dalam pilpres putaran kedua nanti. "Hal ini penting disampaikan agar para kiai mendapatkan informasi langsung dari Gus Dur soal sikap politiknya dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara para ulama NU," tutur Adhie yang juga menjadi salah satu panitia acara tersebut. Para kiai khos yang akan hadir dalam "Forum Ciganjur" itu datang dari Sumatera Utara, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat antara lain: KH Abdullah Abbas (Buntet), juga (Kanjen-Pati), KH Makhrudin Masturo (Sukabumi), KH Abdullah Faqih (Langitan), KH Sonhaji (Kebumen), KH Sofyan (Situbondo). Kemudian, KH Khotib Umar (Jember), KH Kholil As`ad (Situbondo), KH MAS Subadar (Pasuruan), KH Warsun Munawwir (Yogyakarta), KH Abdurrahman Khudori (Magelang), Mbah KH Muhaiminan (Parakan), Tuan Guru KH Mukhtar Muda Nasution (Sibuhuan-Medan), Tuan Guru Turmudji Badarudin (Bagu Lombok), KH Sanusi Baco (Makasar), KH Sodiq (Lampung), KH Muhtar (Mlangi). Selanjutnya KH Munif Zuhri, KH Aminullah Mukhtar (Bekasi), KH Prof DR Akrom Malibary (Banten), KH Manarul Hidayat (Jakarta), KH Abdul Jalil (Tulung Agung), KH Nawawi dan Habib Luthfi Bin Yahya (Pekalongan). (nrl/)