Wednesday, January 20, 2010

Panitia Muktamar Jam’iyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah diterima Wapres

Jumat, 25 Februari 2005 11:25
Jakarta, NU Online
Rombongan Panitia Pelaksana Muktamar Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah ke 10 yang terdiri dari KH Habib Mohammad Lutfi Ali Yahya Pekalongan dan Drs. HM. Chabib Thoha, MA melakukan audiensi dengan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla untuk melaporkan persiapan pelaksanaan muktamar semalam (24/02) di rumah dinas wapres Jl. Diponegoro.
Pertemuan tersebut sekaligus untuk mengundang wapres dalam acara penutupan muktamar yang akan diselenggarakan mulai tanggal 27 Maret – 2 April 2005 yang bertempat di kota Pekalongan Jawa Tengah. Ketua Panitia HM Chabib Thoha mengungkapkan bahwa presiden SBY direncanakan akan membuka pelaksanaan muktamar tersebut.
Kakanwil Depag Jateng tersebut juga mengungkapkan bahwa muktamar kali ini tidak ditempatkan di pesantren dan menyatu dengan masyarakat langsung. Para muktamirin akan ditempatkan di rumah-rumah penduduk. “Sudah 1500 rumah yang bersedia menampung muktamirin dan setiap rumah rata-rata bersedia menampung 5 orang serta 700 mobil yang siap dipinjamkan untuk kepentingan muktamar dari warga Pekalongan dan sekitarnya. Ini merupakan pesta rakyat untuk tarekat” ungkapnya.
Untuk acara-acara persidangan kegiatan resmi muktamar lainnya akan ditempatkan di gedung pemerintahan di Kota Pekalongan, Kab. Pekalongan dan Kab. Batang.
Beberapa kegiatan penunjang juga dilakukan seperti seminar di STAIN Pekalongan dengan tema “Peranan Tarekat dalam Mengatasi Persoalan Bangsa dan Negara.” Untuk memeriahkan acara tersebut juga dilakukan bazaar yang diikuti oleh 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah serta para pengusaha.
“Dalam bazaar ini, panitia tak mengambil keuntungan, tetapi mereka diwajibkan memberikan souvenir tentang tarekat, terserah bentuknya sebagai salah satu bentuk sosialisasi tarekat,” tambahnya.
Selain itu juga terdapat kuis yang bisa diikuti oleh peserta mulai dari SD/MI, SMP/Madrasah Tsanawiyah, SMU/Madrasah Aliyah dan umum.
Peserta muktamar terdiri dari idarah syu’biyah (pengurus cabang), idarah wustho (pengurus wilayah) dan idaroh aliyah (pengurus besar). Saat ini sudah terdapat 170 cabang dan 17 pengurus wilayah yang sudah memiliki SK. “ini menunjukkan bahwa masih banyak warga NU yang belum mengikuti tarekat,” tandasnya.(mkf)

Muktamar Tarekat NU Mungkin akan Bentuk Majelis Iftaq

Jumat, 4 Maret 2005 14:21
Jakarta, NU Online
Muktamar Jam’iyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah ke 10 yang akan dilaksanakan pada 27 Maret –2 April 2005 di Pekalongan Jateng akan membahas berbagai persoalan penting dalam komunitas tarekat. 
“Salah satu hal penting adalah kemungkinan dibentuknya majelis iftaq untuk menampung musyid dari berbagai aliran tarekat dalam satu cabang karena selama ini dengan hanya melibatkan pengurus struktural, keterlibatan mursyid tersebut kurang maksimal,” tandas Ketua Panitia Muktamar Chabib Thoha kepada NU Online beberapa waktu lalu.
Ditambahkannya bahwa saat ini hubungan antar negara Islam lebih didominasi dengan hubungan yang bersifat politik. Karena itu, ke depan tarekat diharapkan dapat membina hubungan persaudaraan Islam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama.
“Aspek penting lainnya yang mungkin dibicarakan adalah bagaimana menilai kelayakan seorang mursyid, bagaimana silsilahnya, dan faktor lainnya. Hal ini termasuk menyangkut apakah buku-buku tentang tarekat yang dibaca oleh para jamaah sudah benar, bagaimana dengan buku terjemahannya,” tandasnya
Karena sistem hubungan antara guru dan murid yang berbeda dengan organisasi biasanya dimana murid tarekat sangat mematuhi perintah mursyidnya, Chabib Thoha mengungkapkan adanya usulan perubahan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) sebelumnya yang mana anggota lebih banyak menentukan.
Selanjutnya dalam rancangan tata tertib pemilihan ketua, direncanakan tidak dilaksanakan secara langsung oleh cabang, tetapi menggunakan sistem formatur. Terdapat 7 formatur yang dibagi berdasarkan wilayah, yaitu 1 orang mewakili Sumatra, 1 orang untuk Kalimantan, Sulawesi, dan Irian, 1 orang untuk Bali, NTT dan NTB, 1 orang Jawa Timur, 1 orang Jateng dan DIY, 1 orang Jawa Barat, dan 1 orang Banten dan DKI. (mkf)

Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah Berupaya Mempersatukan Kembali Warga NU Sumbar

Selasa, 22 November 2005 19:47
Jakarta, NU Online
Di antara sekian organisasi keislaman hanya NU yang paling gigih menghidupkan amalan tarekat, karena itu sampai saat ini gerakan tarekat menjadi sangat luas, yang itu kemudian dihimpun dalam Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah. Organisasi yang dipimpin KH Habib Luthfi itu kemarin melantik Pengurus Wilayah Thariqah NU Sumatera Barat (Sumbar) periode 2005-2009 yang baru terbentuk.
Pelantikan itu sangat bersejarah karena ditempatkan di makam Syeh Burhanuddin di Ulakan, ulama penyebar Islam Minangkabau abad ke 17, murid dari Syah Kuala dari Aceh. Pemilihan tempat itu ditentukan sendiri oleh Habib Luthfi yang berupaya menyambungkan Tarekat NU dengan guru awalnya yakni Syeh Burhanuddin yang adalah seorang guru besar tarekat yang pengaruhnya menyebar hingga ke Jawa.
Dalam sambutannya Habib Luthfi mengatakan bahwa pengembangan tarekat saat ini disamping memiliki tujuan spiritual, tetapi juga harus dikaitkan dengan upaya membangun mental bangsa. Bangsa ini hanya akan aman dan sejahtera bila dikembangkan melalui perspektif tarekat atau tasawuf, sebagaimana yang pernah dilakukan syekh Burhanudin di masa lalu.
Saat ini tarekat berkembang sangat besar di kalangan masyarakat Sumatera Barat, walaupun paham Wahabi pernah menghancurkan gerakan ini karena dianggap sesat dan khurafat. Ttetapi karena telah melekat di hati masyarakat, maka terus berkembang. Jama'ah tarekat terbesar adalah Naqshabandiyah dan Sattariya, sedangkat tarekat yang lain seperti samaniyah, tijaniah ada tetapi pengikutnya sedikit.
Upaya Nahdlatul ulama yang gigih dalam memperjuangkan eksistensi tarekat itu mendapat simpati dari kelompok lain sehingga tarekat memiliki posisi yang sangat terhormat. Mengingat jasa NU dalam mengelola kelompok tasawuf itu, maka banyak kalangan tarekat dari kelompok lain termasuk dari Perti yang menggabungkan diri dalam thariqat Annahdliyah ini. Mereka yang bergabung bukan awamnya malah dimulai dari para mursyidnya, yang selama ini berafiliasi ke Perti, sehingga sekarang banyak yang menjadi pengurus Thariqah Nahdliyah. Demikian menurut keterangan Bagindo Muhammad Letter Rais Am Idarah Wustho Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah Sumbar kepada NU Online.
Bahkan kegiatan Thariqat itu juga dilanjutkan dengan ziarah ke beberapa makan para wali yang ada di sana seperti ke makam Syeh Abdurrahman Batu hampar, ke makan Syeh Sulaiman Arrasuli dan sebagainya. Mereka itu menurut Habib Luthfi yang memimpin rombongan itu, ibarat Walisongo yang ada di Jawa yang jasanya sangat besar dalam menyebarkan Islam di tanah Sumatera, karena itu selayaknya mereka diziarahi, sebagai bentuk rasa hormat atas jasa mereka.
Selanjutnya dikatakan Bagindo Letter dalam sambutannya bahwa penempatan kegiatan Thariqot NU di Makam Syeh Burhanuddin Ulakan itu, di samping untuk mengenang jasa beliau, juga  memang dimaksudkan untuk menjamiyahkan masyarakat thariqat, memang secara kultural mereka adalah ahlussunnah-Nahdliyah, tetapi mereka tidak berorganisasi NU, maka melalui jamiyah thoriqah NU ini mereka secara institusional di NU kan. Dan diluar dugaan mereka secara terbuka menerima ajakan itu, karena mereka merasa difasilitasi dan dilindungi oleh NU. (ltn)

Ribuan Jamaah Ikuti Dzikir Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah di Jakarta


Senin, 11 Agustus 2008 08:21
Jakarta, NU Online
Ribuan Jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah mengikuti acara dzikir akbar di halaman gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Ahad (10/8) kemarin.

Para jamaah berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) ditambah jamaah ziarah Wali Songo dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta jamaah tarekat dari Malaysia dan Singapura.

Acara dzikir akbar dimulai dengan doa istighotsah dan kemudian diteruskan dengan membaca surat Yasin. Puncak acara dzikir adalah pembacaan kitab Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani yang dibacakan dengan indah, lalu dilanjutkan tahlil dan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedianya acara dzikir akbar Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di Jakarta selalu dipimpin oleh Syeikh KH Asrori Al-Ishaqi namun karena mursyid (guru besar) tarikat ini ini sedang sakit dan dirawat di Surabaya maka pimpinan dzikir diwakilkan kepada KH Hilmi Basaiban.

Ketua Jamaah Alkhidmah Jakarta Yaumi Azhar SH, LLM, mengatakan pada acara dzikir akbar kali ini panitia mengumpulkan 16.000 nasi bungkus dan 600 dus air kemasan dari jamaah Jabodetabek.

Jamaah Alkhidmah adalah organisasi yang menyelenggarakan kegiatan Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah di berbagai tempat di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

”Kita datang ke sini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dilindungi dan diselamatkan dari segala musibah. Kita di sini tidak berkumpul tanpa membeda-bedakan status sosial,” kata Yaumi Azhar.

Jamaah Alhidmah Jabodetabek tersebarat di 18 wilayah daerah kota dan selalu menyelenggarakan kegiatan dzikir rutin. Di gedung LIPI dan sekitarnya kegiatan dipimpin langsung oleh Prof. DR. Sofyan Tsauri, mantan direktur lembaga ilmu pengetahuan paling bergengsi di Indonesia itu.

Pada kesempatatan itu kepala biro Askesnas Dr. Sukanta mewakili Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, pembangunan yang dilakukan di Jakarta tidak hanya meliputi bangunan fisik dan material, tetapi juga mental dan spiritual.

”Warga DKI hendaknya memahami program yang dicanangkan oleh pemerintah DKI dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dzikir seperti ini,” katanya. (nam)

Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Dukung JK-Wiranto


Selasa, 9 Juni 2009 17:43
Jakarta, NU Online
Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah mendoakan agar calon presiden Jusuf Kalla memenangkan Pemilu Presiden 2009.

"Kami tadi mendukung dan mendoakan agar JK terpilih pada Pilpres 2009 mendatang," ujar Ketua Umum Yayasan Attarbiyah sekaligus Juru Bicara jemaah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, Helmi Basyaiban, usai bertemu JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (8/6/2009).

Helmi optimis jika jamaahnya yang beranggotakan 500 ribu orang akan mendukung pasangan nomer tiga ini.

"Karena dalam jamaah Tarekat hanya ada satu komando, kalau pimpinan kami sudah bilang pilih pasangan ini, maka secara otomatis semua akan pilih," terangnya.

Mengenai dukungan ini, Helmi mengaku JK tidak memberikan janji apa-apa. "JK hanya bilang, doakan saja," pungkasnya. (okz)