Tuesday, January 19, 2010
Jatman Satu-Satunya Organisasi yang Bisa Menyatukan Tarekat
Rabu, 25 Juni 2008 14:31
Jakarta, NU Online
Jamiyyah Ahlut Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah atau biasa disingkat Jatman ternyata merupakan satu-satunya organisasi yang bisa menyatukan tarekat di dunia. Di negara-negara lain, tarekat berdiri sendiri-sendiri berdasarkan aliran yang dianutnya.
Demikian dikatakan oleh KH Yusuf Khumaidi kepada NU Online ditengah-tengah persiapan penyelenggaraan Munas Jatman yang akan diselenggarakan pada 26-28 Juni di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.
“Para ulama dari Marokko dan Tunisia pada bertanya, kok bisa menyatukan Naqsabandiyah dan Tijaniyah. Disana semuanya berdiri sendiri-sendiri,” katanya.
Keberadaan Jatman ini menurutnya telah menginspirasi para penganut tarekat di sejumlah negara Timur Tengah untuk membuat organisasi yang sama. Mereka telah bertemu dengan Rais Aam Jatman Habib Lutfi bin Ali bin Yahya untuk mengetahui konsep pengorganisasian jamaah tarekat.
“Kita juga berupaya mengembangkan jaringan ini ke luar negeri yang akan dibahas dalam munas ini,” ujarnya.
Tarekat yang tergabung dalam Jatman meliputi tarekat muktabarah yang mencakup sebanyak 40 aliran tarekat yang para mursyidnya memiliki garis keturunan dengan rasulullah. Tarekat ini dianggap sesuai dengan ajaran Islam, bukan merupakan aliran sinkretisme dengan budaya lokal. (mkf)
Thariqah Al-Mu'tabarah dari Waktu ke Waktu
Kamis, 31 Maret 2005 10:22
Pekalongan, NU Online
Jika di andaikan sebuah rumah, maka Thariqat adalah pondasi paling bawah yang menjadi dasar bangunan besar Nahdlatul ulama. Kemudian pesantren, di lapis kedua, Nahdlatul ulama di lapis ketiga dan PKB mungkin di lapis paling atas dari struktur bangunan organisasi kemasyarakatan NU. "Karena masuknya Islam ke bumi Nusantara, diawali dengan masuknya thariqat, jadi thariqat adalah peletak dasar bangunan NU. Kekuatan inilah yang menjadikan NU mengakar di tengah-tengah jama'ah dan jamiyyahnya," demikian diungkapkan Ro'is A'am Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'Tabarah An Nahdliyah, KH. Habib Luthfiy Ali bin Yahya kepada NU Online di sela-sela Muktamar X badan otonom NU ini di Pekalongan, Selasa, (29/3) lalu.
Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa agama Islam di berbagai belahan dunia berkembang berkat jasa para ulama yang kemudian dikenal sebagai Wali Allah, seperti di India, Afrika Utara dan Afrika Selatan bahkan di Indonesia. Di Aceh terkenal dengan serambi Mekkah, suatu gelar yang diberikan untuk menggambarkan betapa pesatnya kemajuan Ilmu-ilmu Islam di daerah itu, seperti Syekh Nuruddin Ar Raniri, Syekh Abdurrauf Singkly, Syekh Syamsuddin Sumatrani, dan masih banyak lagi; sebagai orang-orang yang sangat berjasa dalam pengembangan Islam di sana. Demikian pula di Jawa, terkenal dengan Walisongonya sebagai ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam. Dan masih banyak lagi yang dapat disebutkan hanya untuk menjelaskan bahwa ulama-ulama tasawuflah yang banyak jasa dan pengorbanannya dalam pengembangan Islam di dunia. Karena dimanapun tempat mereka berada, walaupun berbeda adat dan budaya maupun bahasa mereka berbaur dengan masyarakat dengan hati dan jiwa suci sehingga dengan mudahlah ajaran Allah dan RasulNya difahami.
"Jadi sufisme atau dalam Islam diberi nama tasawuf , bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Intisari sufisme, adalah kesadaran akan adanya komunikasi rohaniah antara manusia dengan Tuhan lewat jalan kontemplasi. Jalan kontemplasi tersebut, dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tarekat," urai habib yang memiliki puluhan ribu jama'aah ini.
Tarekat, lanjutnya secara harfiah berarti jalan atau cara untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqamat) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tarekat sebagai sebuah jalan, dalam dunia tasawuf, banyak muncul pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriyah, yaitu ketika tasawuf menempati posisi penting dalam kehidupan umat Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, tarekat menjadi semacam organisasi yang kegiatannya tidak hanya terbatas pada wirid, zikir, tetapi pada masalah-masalah yang bersifat duniawi.
Dalam tasawuf, jumlah tarekat sangat banyak, tetapi kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi dua jenis, yaitu tarekat mu'tabar (thariqah yang mutashil (tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad SAW), dan tarekat ghairu mu'tabar (thoriqoh yang munfashil (tidak tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad. Untuk menghindari penyimpangan sufisme dari garis lurus yang diletakkan para sufi terdahulu, maka NU meletakkan dasar-dasar tasawuf sesuai dengan khittah ahlissunnah waljamaah. Dalam hal ini, NU membina keselarasan tasawuf Al-Ghazali dengan tauhid Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, serta hukum fikih sesuai dengan salah satu dari empat mazhab sunni.
Dalam kerangka inilah, Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) dibentuk, yaitu untuk memberikan sebuah rambu-rambu kepada masyarakat tentang tarekat yang mu'tabar dan ghairu mu'tabar. Dari segi organisasi, Jatman secara de facto berdiri pada bulan Rajab 1399 H, bertepatan dengan Juni 1979 M. Tetapi, sebelum terbentuk Jatman, bibit organisasi tersebut telah lahir, yaitu Jam'iyyah Thariqah Al-Mu'tabarah. Kelahiran Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah tidak dapat dilepaskan dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-26 di Semarang. Tetapi, apabila dilihat dari segi ilmu dan amaliahnya, maka tarekat sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa agama Islam ke muka bumi. Nabi Muhammad menerima baiat dari malaikat Jibril, dan Jibril menerima dari Allah SWT.
Lebih jauh di jelaskan Habib Luthfi, sebelum terbentuk Jatman, ulama-ulama Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan aktif di dunia tarekat telah membentuk organisasi tarekat, dengan nama Jam'iyyah Thariqah Al Mutabarah. Pembentukan organisasi ini sebagai wadah untuk menetapkan tarekat-tarekat yang mu'tabar dan ghairu mu'tabar, sehingga umat Islam tidak terjebak dan salah dalam mengamalkan tarekat. Pembentukan organisasi ini sebagai langkah untuk menghindari gesekan atau perpecahan di tingkat grass root, akibat sikap fanatik yang berlebih-lebihan terhadap tarekat yang dianutnya. Hal ini dikarenakan kecenderungan pengikut suatu ajaran tarekat, dalam melakukan klaim kebenaran ajaran tarekat yang diikutinya.
Jam'iyyah Thariqah AI Mu'tabarah didirikan oleh beberapa tokoh NU, antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, Dr KH ldham Chalid, KH Masykur serta KH Muslih. Dengan tujuan awal untuk mengusahakan berlakunya syar'iat Islam dhahir-batin dengan berhaluan ahlussunnah wal jamaah yang berpegang salah satu dari mazhab empat, mempergiat dan meningkatkan amal saleh dhahir-batin menurut ajaran ulama saleh dengan baiah shohihah; serta mengadakan dan menyelenggarakan pengajian khususi/ tawajujuhan (majalasatudzzikri dan nasril ulumunafi'ah).
Jam'iyyah Thariqah Al Mu'tabarah pertama kali melakukan muktamar pada tanggal 20 Rajab 1377 atau bertepatan dengan 10 Oktober 1957 di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang. Muktamar pertama diprakarsai oleh beberapa ulama dari Magelang dan sekitarnya, seperti KH Chudlori, KH Dalhar, KH Siradj, serta KH Hamid Kajoran. Pada muktamar pertama mengamanatkan kepada KH Muslih Abdurrahman dari Mranggen, Demak, sebagai rais aam. Pada muktamar pertam
Habib Lutfi: Jam’iyyah Tarekat Tak Boleh untuk Kepentingan Politik
Sabtu, 28 Juni 2008 19:21
Jamaah tarekat merupakan salah satu kelompok yang dikenal sangat solid dan patuh terhadap perintah dari para pemimpinnya, atau biasa disebut mursyid dalam dunia tarekat. Keadaan ini tentu menjadi godaan para politisi untuk memanfaatkannya sebagai lumbung suara.
Namun demikian, Rais Aam Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Lutfi bin Ali bin Yahya menegaskan organisasi ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan politik.
Kekhawatiran akan intervensi fihak luar tersebut diungkapkannya dihadapan peserta munas Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Sabtu (28/6).
“Kita harus menjaga keuntuhan jamaah tarekat dari kepentingan politik. tetapi jam’iyyah tarekat tidak menghalangi hak individu anggotanya untuk memilih aspirasinya, asal tidak membawa nama jamiyyah, wadah ini harus tetap utuh,” katanya
Pentas Pilkada ini, menurutnya harus dimanfaatkan untuk menambah wawasan kebangsaan dan keagamaan bagi para anggota jam’iyyah tarekat, bukan malah menimbulkan kemunduran.
“Kita harus bisa memberikan keteladanan untuk umat dan bangsa yang berada dalam dahaga,” katanya.
Ia juga mengakut tidak setuju dengan golput yang saat ini marak dilakukan oleh masyarakat dalam Pilkada. Masyarakat harus menggunakan hak pilihnya guna menentukan pemimpin yang diharapkan bisa menyelamatkan bangsa dan daerahnya. (mkf)
Mengikuti "Selasanan" Tarekat Syadziliyah di Kudus
Rabu, 6 Agustus 2008 07:19
Kudus, NU Online
Senin (4/7) malam kemarin, para jamaah Tarekat Syadziliyah berkumpul di kediaman Kiai Muhammad Thariq di Kudus Jawa Tengah yang merupakan badal (wakil) Syeikh al-Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Yahya Mursyid Thariqah Syadziliyyah sekaligus Rais Aam Jam'iyyah Ahlut Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah. Waktu itu, digelar forum mujahadah dan pengajian Tarekat Syadziliyyah.
Selasanan, begitu dikenal, diawali dengan pembacaan istighatsah bersama yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Aziz, setelah itu dilaksanakan pembacaan kitab Mafakhirul 'Ulyah li Thariqil Syadziliyyah karangan Habib Ahmad bin Muhammad yang juga dibacakan ustadz yang sehari-hari mengajar di Madrasah Qudsiyah ini.
Dalam pembacaan kitab tersebut telah sampai pada halaman 126 yang berkenaan dengan suluk kedua yang wajib dijalankan setiap murid Tarikat Syadziliyyah. Tingkatan tersebut mewajibkan murid untuk istiqamah terhadap keta'atan kepada Allah. Baik dikala sempit maupun lapang murid harus melaksanakan perintah Allah.
"Ini sebagaimana Ndoro Syekh Abdul Qadir al Jealani yang mendawamkan (melanggengkan) wudhu dengan sempurna di sepanjang malam. Ketika batal lalu berwudhu begitu seterusnya," katanya.
Ia menambahkan bahwa melaksanakan perintah tersebut bukan hal mudah. Ia mencontohkan hal kecil berupa shalat witir yang mempunyai faedah penting. "Saking pentingnya shalat witir sampai-sampai ketika waktu shalat subuh datang masih diperbolehkan menunaikannya," ujarnya.
Menurut pengalamannya ia pernah menjumpai Habib Lutfi berada pada keadaan demikian. Saat waktu subuh datang ada keinginan untuk berjamaah, tetapi Habib mengisyaratkan masih mempunyai tanggunan shalat witir, sehingga ia harus menunggu terlebih dahulu.
Seperti dilaporkan kontributor NU Online Zakki Amali, ada dua forum Selasanan di Kudus. Selain di kediaman Kiai Thariq, yang kedua di kediaman Muhammad Sukram, biasa dikenal Mbah Datuk.
Forum ini merupakan amanah Habib Lutfi, sementara beliau mendapat amanah dari gurunya Thariqahnya yang mewariskan kedudukan Mursyid Syadziliyyah kepada beliau Syekh Abdul Malik bin Ilyas bin Yahya.
Di Kabupaten Kudus forum ini dilaksanakan setiap malam Selasa ba'da Isya' di kedua kediaman tersebut, dan bagi murid Tarekat Syadziliyah dapat mengikuti sesuai daerah terdekat masing-masing. (zak)
Idul Khotmi Tarekat Tijaniyah: Libatkan Dua Ratus Ribu Jemaah
Idul Khotmi atau perayaan pengangkatan guru (mursyid) Tarekat Tijaniyah menjadi wali Allah yang digelar di Pamekasan, bisa dibilang merupakan acara massal terbesar pertama di Madura pada 2009. Acara yang puncaknya akan berlangsung hari ini, Minggu (15/2), dihadiri oleh pengikut Tijaniyah di Indonesia, yang totalnya puluhan juta jemaah.
Acara puncak Idul Khotmi ke 216 akan digelar di Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan mulai pukul 08.00 pagi ini dan berakhir pukul 13.00 WIB. Dua hari sebelum acara puncak, telah diadakan acara pendahuluan di Ponpes Tegal Al-Amien, Prenduan, Sumenep.
Menurut sekretaris panitia Idul Khotmi Nasional ke-217 Tarekat Tijaniyah, Drs H M Djatim Makmun, jemaah yang akan hadir pada acara puncak sekitar 200.000 orang. Mereka akan ditampung di 59 penginapan, yang meliputi rumah warga dan ponpes di Pamekasan.
Berdasarkan pengamatan Surya, jumlah bus yang mengangkut mereka sekitar 1.000 armada. Itu belum termasuk yang membawa kendaraan pribadi. Sebagian jemaah sudah ada yang tiba di Pamekasan mulai Kamis (12/2) malam.
Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, jadi tujuan pertama karena tempat ini merupakan pusat pengembangan ajaran Tarekat Tijaniyah di wilayah Madura. Di Madura, pengembangan tarekat dirintis oleh pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan KH Jauhari Khothib, dan kemudian diteruskan oleh putranya KH Moh Tidjani Djauhari MA. Setelah 10 bulan lalu KH Moh Tidjani wafat, kini putranya KH Fauzi Tijani Lc menjadi penerus.
Secara internasional, Tarekat Tijaniyah dipelopori oleh Syekh Ahmad at-Tijani yang dilahirkan pada tahun 1737 di negara Aljazair (Afrika). Beliau dikenal mempunyai keistimewaan di atas manusia umumnya, karena sejak berumur 7 tahun telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil mempelajari berbagai cabang ilmu seperti Usul, Fiqh, dan sastra.
“Bahkan di usia remaja, beliau telah mahir cabang-cabang ilmu agama Islam,” ujar Ahmad Syarif, seorang jemaah Tijaniyah asal Jawa Tengah.
Menurut ketua pelaksana Idul Khotmi, KH Sufyan Nawawi, setiap Idul Khotmi (termasuk yang kini digelar di Madura) selalu dihadiri pula oleh pemimpin Tarekat Tijaniyah dari berbagai negara asing.
“Terutama dari Aljazair dan Maroko yang merupakan cikal bakal lahirnya tarekat Tijaniyah ini,’’ ujar KH Sufyan Nawawi, Sabtu (14/2).
Oleh karena itu, Idul Khotmi akan diisi pula dengan tausiyah oleh Syekh Muhammad Thohir Al-Husaini dari Aljazair dan Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Hafidhz dari Mesir.
Selain itu, juga hadir para wakil tarekat-tarekat lain yang tergabung dalam Tarekat Muktabaroh Indonesia dan Tarekat Muktabaroh An-Nahdliyah, yaitu tarekat yang tergabung dalam wadah Nahdlatul Ulama (NU).
KH Sufyan mengungkapkan, Tarekat Tijaniyah adalah salah satu tarekat dari 43 Tarekat Muktabaroh Indonesia atau tarekat yang diakui keabsahannya. Di Indonesia, pengikut tarekat ini ada sekitar 10 juta jiwa. Sekitar 40 % dari mereka adalah kalangan kyai dan pemimpin ponpes, yang tersebar di 14.657 ponpes.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Pamekasan, Kompol Bambang Sulastro, menyatakan, polisi terpaksa menutup seluruh akses jalan kota saat puncak kegiatan Idul Khotmi berlangsung hari ini. Sebab, jemaah yang akan hadir pada kegiatan itu dipastikan akan memenuhi kota Pamekasan.
“Jadi Minggu (15/2) ini, arus lalu lintas di dalam kota Pamekasan dipastikan akan lumpuh total. Makanya, akses lalu lintas yang menuju kota Pamekasan semuanya kami tutup,” kata Bambang. (achmad rivai)
Sumber: Surya, Minggu, 15 Februari 2009
Acara puncak Idul Khotmi ke 216 akan digelar di Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan mulai pukul 08.00 pagi ini dan berakhir pukul 13.00 WIB. Dua hari sebelum acara puncak, telah diadakan acara pendahuluan di Ponpes Tegal Al-Amien, Prenduan, Sumenep.
Menurut sekretaris panitia Idul Khotmi Nasional ke-217 Tarekat Tijaniyah, Drs H M Djatim Makmun, jemaah yang akan hadir pada acara puncak sekitar 200.000 orang. Mereka akan ditampung di 59 penginapan, yang meliputi rumah warga dan ponpes di Pamekasan.
Berdasarkan pengamatan Surya, jumlah bus yang mengangkut mereka sekitar 1.000 armada. Itu belum termasuk yang membawa kendaraan pribadi. Sebagian jemaah sudah ada yang tiba di Pamekasan mulai Kamis (12/2) malam.
Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, jadi tujuan pertama karena tempat ini merupakan pusat pengembangan ajaran Tarekat Tijaniyah di wilayah Madura. Di Madura, pengembangan tarekat dirintis oleh pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan KH Jauhari Khothib, dan kemudian diteruskan oleh putranya KH Moh Tidjani Djauhari MA. Setelah 10 bulan lalu KH Moh Tidjani wafat, kini putranya KH Fauzi Tijani Lc menjadi penerus.
Secara internasional, Tarekat Tijaniyah dipelopori oleh Syekh Ahmad at-Tijani yang dilahirkan pada tahun 1737 di negara Aljazair (Afrika). Beliau dikenal mempunyai keistimewaan di atas manusia umumnya, karena sejak berumur 7 tahun telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil mempelajari berbagai cabang ilmu seperti Usul, Fiqh, dan sastra.
“Bahkan di usia remaja, beliau telah mahir cabang-cabang ilmu agama Islam,” ujar Ahmad Syarif, seorang jemaah Tijaniyah asal Jawa Tengah.
Menurut ketua pelaksana Idul Khotmi, KH Sufyan Nawawi, setiap Idul Khotmi (termasuk yang kini digelar di Madura) selalu dihadiri pula oleh pemimpin Tarekat Tijaniyah dari berbagai negara asing.
“Terutama dari Aljazair dan Maroko yang merupakan cikal bakal lahirnya tarekat Tijaniyah ini,’’ ujar KH Sufyan Nawawi, Sabtu (14/2).
Oleh karena itu, Idul Khotmi akan diisi pula dengan tausiyah oleh Syekh Muhammad Thohir Al-Husaini dari Aljazair dan Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Hafidhz dari Mesir.
Selain itu, juga hadir para wakil tarekat-tarekat lain yang tergabung dalam Tarekat Muktabaroh Indonesia dan Tarekat Muktabaroh An-Nahdliyah, yaitu tarekat yang tergabung dalam wadah Nahdlatul Ulama (NU).
KH Sufyan mengungkapkan, Tarekat Tijaniyah adalah salah satu tarekat dari 43 Tarekat Muktabaroh Indonesia atau tarekat yang diakui keabsahannya. Di Indonesia, pengikut tarekat ini ada sekitar 10 juta jiwa. Sekitar 40 % dari mereka adalah kalangan kyai dan pemimpin ponpes, yang tersebar di 14.657 ponpes.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Pamekasan, Kompol Bambang Sulastro, menyatakan, polisi terpaksa menutup seluruh akses jalan kota saat puncak kegiatan Idul Khotmi berlangsung hari ini. Sebab, jemaah yang akan hadir pada kegiatan itu dipastikan akan memenuhi kota Pamekasan.
“Jadi Minggu (15/2) ini, arus lalu lintas di dalam kota Pamekasan dipastikan akan lumpuh total. Makanya, akses lalu lintas yang menuju kota Pamekasan semuanya kami tutup,” kata Bambang. (achmad rivai)
Sumber: Surya, Minggu, 15 Februari 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)